BUKAN SEKEDAR PELESIR
JALAN-JALAN kenegeri orang atau kekota lain bahkan naik gunung dengan biaya murah. Mungkin bisa demikian hakikat dari seorang backpacker. Selama ini , wisata, vakansi dan sejenisnya identik dengan biaya yang tidak sedikit. Para backpacker
memutarbalikkannya. Ada yang bisa jalan-jalan kekota lain atau naik
gunung hanya mengeluarkan uang sekian juta rupiah atau bahkan tidak
sampai ratusan rupiah dari seharusnya sekian juta rupiah. Ada pula yang
pergi ke negeri jiran, Malaysia dan Singapura hanya mengeluarkan kocek
ratusan rupiah.
Backpacker adalah orannya. Si pelaku. Sementara kegiatannya adalah backpacking, berasal dari bahasa inggris yang secara harafiah berarti wisata beransel. Kalau menurut situs terjemahan bebas, id.wikipedia.org, backpacking berarti perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakauan secukupnya dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangang berusia muda. Mereka tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan beristirahat atau tidur.
Membicarakan backpacking, jari teringat peristiwa sekitar 20 tahun lalu. Ketika saya bersua seorang turis mancanegara yang di sebuah kapal yang berlayar menuju Surabaya, Jawa Timur. Penampilanya sungguh biasa saja, bahkan terkesan agak kucel. Meski demikian, ternyata dia orang peneliti. Dengan kata lain, dia orang pendidikan. Ketika ditanya kenapa dia memilih transportasi menengah ke bawah ? Pria Eropa itu mengatakan ingin mencari pengalaman. Selain itu, menurut dia, biaya penelitiannya selama di Indonesia disponsori oleh sebuah yayasan dengan dana terbatas. Jadi, dia harus memepertanggungjawabkan penggunaan dana yayasan untuk aktivitasnya. Dia tak berani untuk semaunya menggunakan dana penelitian.
Backpacker kalan-jalan menggunakan dana pribadi. Seminim apa pun daya yang dikeluarkan, tetap saja keluar dari kantong pribadi. Seorang bacpacker tebal telinga saja kalau dibilang turis yang hemat. Sementara pria asal Eropa tadi menggunakan dana sponsor. Dia juga tak sembarangan menggunakan dana yang didapatnya. Baik backpacker maupun turis tadi sama-sama bertanggung jawab atas dana yang digunakannya. Bagaimana dengan mereka yang bepergian menggunakan dana dari rakyat seperti pihak eksekutif dan legilatif ? Adakah pertanggungjawabnya dan bukan sekedat plesir ? Harusnya seperti itu. (kangen plesir ke daerah maupun naik gunung)
Ekpedisi ederwis
Backpacker adalah orannya. Si pelaku. Sementara kegiatannya adalah backpacking, berasal dari bahasa inggris yang secara harafiah berarti wisata beransel. Kalau menurut situs terjemahan bebas, id.wikipedia.org, backpacking berarti perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakauan secukupnya dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Biasanya orang yang melakukan perjalanan seperti ini adalah dari kalangang berusia muda. Mereka tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan beristirahat atau tidur.
Membicarakan backpacking, jari teringat peristiwa sekitar 20 tahun lalu. Ketika saya bersua seorang turis mancanegara yang di sebuah kapal yang berlayar menuju Surabaya, Jawa Timur. Penampilanya sungguh biasa saja, bahkan terkesan agak kucel. Meski demikian, ternyata dia orang peneliti. Dengan kata lain, dia orang pendidikan. Ketika ditanya kenapa dia memilih transportasi menengah ke bawah ? Pria Eropa itu mengatakan ingin mencari pengalaman. Selain itu, menurut dia, biaya penelitiannya selama di Indonesia disponsori oleh sebuah yayasan dengan dana terbatas. Jadi, dia harus memepertanggungjawabkan penggunaan dana yayasan untuk aktivitasnya. Dia tak berani untuk semaunya menggunakan dana penelitian.
Backpacker kalan-jalan menggunakan dana pribadi. Seminim apa pun daya yang dikeluarkan, tetap saja keluar dari kantong pribadi. Seorang bacpacker tebal telinga saja kalau dibilang turis yang hemat. Sementara pria asal Eropa tadi menggunakan dana sponsor. Dia juga tak sembarangan menggunakan dana yang didapatnya. Baik backpacker maupun turis tadi sama-sama bertanggung jawab atas dana yang digunakannya. Bagaimana dengan mereka yang bepergian menggunakan dana dari rakyat seperti pihak eksekutif dan legilatif ? Adakah pertanggungjawabnya dan bukan sekedat plesir ? Harusnya seperti itu. (kangen plesir ke daerah maupun naik gunung)
Ekpedisi ederwis
No comments:
Post a Comment