Sunday, 15 February 2015

(ADAKAH) NIATAN BAIK PEJABAT

(ADAKAH) NIATAN BAIK PEJABAT

     MENGAPA Banyak orang di negeri ini berlomba-lomba ingin menjadi pejabat (negara) ? Jawabanya, mudah. Selain memperoleh gaji yang besar, dan diberikan berbagai fasilitas serba mewah, mulai rumah, kendaraan bermotor dan harta benda lainnya. Selain juga tentunya keterkenal di mata publik. Jadi, tidak perlu heran kalau setiap orang berebut ingin menjadi pejabat. Mulai jabatan paling tinggi dalam hirarki kepemimpinan di negeri ini, Presiden, menteri, gubernur, bupati, dan wali kota, sampai yang paling rendah; kepala desa, menjadi incaran banyak orang. Tidak lagi terbatas dia penguasa, orang biasa, sampai para politisi yang memang dukenal paling bernafsu memburu posisi-posisi terhormat tersebut.
     Apa sebenarnya motivasi mereka begitu ngotot menjadi pemimpin. Tidak lain, dan tidak bukan, dan ini sudah terbukti kesahehannya, muaranya adalah fulus. Dengan jabatan yang dipegangnya, sang pejabat bisa memperoleh apa saja. Jadi, sangatlah naif kalau kemudian si Fulan yang pejabat publik mengaku dirinya 'seorang papa' yang tidak mempunyai apa-apa. Bukan hal yang aneh pejabat publik di negeri kita ini memang paling gemar pamer kekayaan. Sterotip pejabat kita sudah sangat dikenal dan dipahami rakyat.
     Dan, untuk menjadi pejabat dinegeri ini, tidak lah sulit. Semuanya kembali pada isi kocek sang calon pejabat. Nah, kontes dalam pesta demokrasi adalah contoh paling nyata di mana banyaknya orang (politisi) mencoba peruntungan memburu jabatan publik, mereka tidak segan-segan menggelontorkan dana baik milik pribadi atau lewar utang sana, utang sini sebagai pelumas ambisinya. Meski sudah terbilang sudah rada usang, namun cukup menarik ketika Wakil Presiden Boediono menyentil para pejabat kita yang dikenal memang bertipikal stereotip. Dalampertemuan dengan seluruh menteri, gubernur, bupati dan legistator di seluruh Indonesia, baru-baru ini, Boediono mengambil contoh sosok Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long yang berhasil menatakelola pemerintahan dengan baik. Semua itu karena para pejabat publik di negeri jiran itu punya niat baik.
     Mengapa banyak cendikia, praktisi, dan figur-figur biasa di Singapura mau menjadi pejabat, karena niatnya tidak lain hanya untuk berbuat sesuatu yang berarti bagi negerinya. Mereka dengan sukarela, tanpa perlu saling sikut masuk dan menjadi bagian dari organ pemerintah. Karenanya, pejabat (negara) publik lah yang selama ini bisa membawa Singapura berhasil seperti sekarang ini. Tidak dipungkiri oleh Lee Hsein Long renumerasi bagi pejabat negara haruslah memadai. Memadai dalam arti sebenarnya.  Namun, seperti diakui Lee Hsein Long, besaran gaji dan perolehan fasilitas dari negara, bukan tujuan dari para pejabat di negara itu untuk masuk dalam pemerintah. Mereka semata-mata menjadi pejabat karena didasari pada niat baik untuk berbuat sesuatu untuk negerinya. Pola pikir (mindset) dan sistem seperti inilah mestinya ada pada pejabat-pejabat di negeri ini.
     Kalau pola pikir pejabat kita masih gemar 'mencari keuntungan' sesaat, sudah pasti negeri ini akan tetap berkubang pada sgunung persoalan. Contohnya praktik korupsi yang nyaris tiada pernah henti yang dilakoni para pejabat kita. Sampai kapan pun negeri ini tidak akan pernah bersih dari praktik korupsi, karena para pejabat kita memang tidak pernah punya niat baik terhadap negeri ini. Kalau sudah demikian, sangat sia-sia dan berdisanya para pemimpin kita karena telah mengingkari sumpahnya sebagai pejabat. Dia tidak saja mengingkari amanah yang dipercayakan kepadanya, tapi juga dia telah menistakan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT.

No comments:

Post a Comment