HEDONISME WAKIL RAKYAT
"BERGEMBIRALAH engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mari".
Itulah ajaran paling menarik dari Epikuros, filsuf Yunani yang hisup di
abad 300-an sebelum Masehi. Gaya hidup yang dikenal dengan hedonisme
ini tak lain adalah bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan
utama. Nah, gaya pemuasan nafsu duniawi ini sedang ramai menjadi
pembicaraan banyak orang terkait prilaku wakil rakyat kita. Suka tidak
suka, kaum legislator di Senayan ataupun di daerah sudah lama terjangkit
gaya hidup hedonisme. Ini bukan isapan jempol tetapi fakta.
Ironis memang kalau pola hidup anggota dewan yang mengaku terhormat itu berbanding terbalik dengan kehidupan rakyat yang notabene telah mengantarkannya dibilik-bilik parlemen. Menjadi wajar kalau Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyentil gaya hidup para legislator di Senayan yang sudah terjangkit gejala hedonisme. Apa yang disampaikan Busyro adalah fakta yang bisa kita lihat dari gaya hidup para wakil rakyat. Tengok saja, area parkit di Senayan berjejer mobil-mobil mewah yang tentunya milik para anggota DPR kita. Mobil-mobil seperti Lexus, Alphard, Hammer hingga kelas sport seperti Ferrarri atau Lamborghini yang semuanya keluaran terakhir yang kita tahu harganya rata-rata diatas Rp 1 miliar. Bahkan ada anggota legislatif memiliki mobil mewah seharga belasan miliar rupiah.
Itu baru sarana transportasi. Para wakil rakyat kita ini juga gemar dengan tempat-tempat kongkow berkelas di hotel-hotel berbintang. Adalah pemandangan yang biasa menyaksikan para legislator duduk-duduk di coffee shop hotel berbintang dengan tarif yang selangit. Bukan pula hal yang aneh kalau mereka kedapatan mojok di pub-pub atau tempat hiburan kelas premium. Dari mana uang para anggota dewan itu untuk memenuhi gaya hidup hedonis mereka ? Kita tentu tidak ingin menuduh bersuudzon. Tapi, setidaknya kita bisa mengukur seberapa besar penghasilan para anggota dewan di senayan. Kita ambil kasar saja, gaji pokok anggota dewan tidak lebih dari Rp 4,2 juta per bulan. Jumlah itu ditambah dengan tunjangan yang nilanya tidak sampai Rp 20 juta yang kalau dikomulatifkan sekitar Rp 25 juta.
Kita pun bertanya-tanya dengan besaran gaji seperti itu, kenapa mereka bisa memiliki mobil-mobil mewah dengan hidup yang glamor ? Bukan rahasia umum kalau kehidupan mewah para wakil rakyat itu tidak lepas dari kewenangan itulah mereka 'bermain' untuk mendulang dana. Tentunya, dalam hal ini bukan rahasia umum kalau pemerintah atau pihak yang berkepentingan dengan DPR menjadi 'lahan' paling mudah untuk dijadikan sumur-sumur dana. Fakta bahwa pembahasan sebuah undang-undang selalu menjadi alat bagi DPR untuk bernegosiasi. Jangan heran pembahasan harus berpindah tempat dari bilik-bilik parlemen di Senayan ke ruang kedap suara di hotel berbintang. Dari sini kita melihat bahwa sebuah pasal menjadi sangat berharga bagi para wakil rakyat. Alhasil, dari negosiasi di bilik ruang-ruang kedap suara itu, kita menemukan undang-undang yang tidak pro terhadap rakyat.
Tak bisa di pungkiri dan harus kita akui sebagain besar anggota dewan di Senayan berlatar belakang pengusaha. Tentunya ini menjadi alasan pembenar bagi mereka yang memang berasal dari pengusaha dengan gaya hidup hedonis. Center for Electoral Reform mencatat. para wakil rakyat yang terpilih pada pemilu tahun 2009, sebanyak 60 orang (10,7 persen) adalah pengusaha dari 560 total anggota DPR.
Ada cerita menarik ketika seorang anggota dewan terhormat sebelum masuk bilik parlemen, hanya figur bersahaja yang memiliki sebuah skuter butut. Namun ketika menjadi wakil rakyat, kehidupannya berubah 180 derajad. Rumah mewah dengan kendaaan bermotor seharga miliaran rupiah ! Terlepas latar belakang mereka, namun gaya hidup hedonis yang dipertontonkan anggota dewan baik di pusat maupun daerah sangat kontradiktif dengan kehisupan puluhan juta rakyat yang hisup masih dibawah kemiskinan. kehidupan hedonis para anggota dewan di pusat mencerminkan prilaku yang salah arah dalam memaknai sebuah kesempatan.
Apa yang diajarkan sang filsuf Epikuros sejatinya belumlah selesai hanya sampai tujuan pemuasan badani semata. Namun hedonism harus diimbangi dengan kesenangan rohani, sperti terbebasnya jiwa rasa resah. Artinya, para wakil rakyat kita sejatinya harus memahami keresahan rakyat yang telah pengatarnya ke kursi parlemen. Camkan itu !
Mencoba
Ironis memang kalau pola hidup anggota dewan yang mengaku terhormat itu berbanding terbalik dengan kehidupan rakyat yang notabene telah mengantarkannya dibilik-bilik parlemen. Menjadi wajar kalau Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyentil gaya hidup para legislator di Senayan yang sudah terjangkit gejala hedonisme. Apa yang disampaikan Busyro adalah fakta yang bisa kita lihat dari gaya hidup para wakil rakyat. Tengok saja, area parkit di Senayan berjejer mobil-mobil mewah yang tentunya milik para anggota DPR kita. Mobil-mobil seperti Lexus, Alphard, Hammer hingga kelas sport seperti Ferrarri atau Lamborghini yang semuanya keluaran terakhir yang kita tahu harganya rata-rata diatas Rp 1 miliar. Bahkan ada anggota legislatif memiliki mobil mewah seharga belasan miliar rupiah.
Itu baru sarana transportasi. Para wakil rakyat kita ini juga gemar dengan tempat-tempat kongkow berkelas di hotel-hotel berbintang. Adalah pemandangan yang biasa menyaksikan para legislator duduk-duduk di coffee shop hotel berbintang dengan tarif yang selangit. Bukan pula hal yang aneh kalau mereka kedapatan mojok di pub-pub atau tempat hiburan kelas premium. Dari mana uang para anggota dewan itu untuk memenuhi gaya hidup hedonis mereka ? Kita tentu tidak ingin menuduh bersuudzon. Tapi, setidaknya kita bisa mengukur seberapa besar penghasilan para anggota dewan di senayan. Kita ambil kasar saja, gaji pokok anggota dewan tidak lebih dari Rp 4,2 juta per bulan. Jumlah itu ditambah dengan tunjangan yang nilanya tidak sampai Rp 20 juta yang kalau dikomulatifkan sekitar Rp 25 juta.
Kita pun bertanya-tanya dengan besaran gaji seperti itu, kenapa mereka bisa memiliki mobil-mobil mewah dengan hidup yang glamor ? Bukan rahasia umum kalau kehidupan mewah para wakil rakyat itu tidak lepas dari kewenangan itulah mereka 'bermain' untuk mendulang dana. Tentunya, dalam hal ini bukan rahasia umum kalau pemerintah atau pihak yang berkepentingan dengan DPR menjadi 'lahan' paling mudah untuk dijadikan sumur-sumur dana. Fakta bahwa pembahasan sebuah undang-undang selalu menjadi alat bagi DPR untuk bernegosiasi. Jangan heran pembahasan harus berpindah tempat dari bilik-bilik parlemen di Senayan ke ruang kedap suara di hotel berbintang. Dari sini kita melihat bahwa sebuah pasal menjadi sangat berharga bagi para wakil rakyat. Alhasil, dari negosiasi di bilik ruang-ruang kedap suara itu, kita menemukan undang-undang yang tidak pro terhadap rakyat.
Tak bisa di pungkiri dan harus kita akui sebagain besar anggota dewan di Senayan berlatar belakang pengusaha. Tentunya ini menjadi alasan pembenar bagi mereka yang memang berasal dari pengusaha dengan gaya hidup hedonis. Center for Electoral Reform mencatat. para wakil rakyat yang terpilih pada pemilu tahun 2009, sebanyak 60 orang (10,7 persen) adalah pengusaha dari 560 total anggota DPR.
Ada cerita menarik ketika seorang anggota dewan terhormat sebelum masuk bilik parlemen, hanya figur bersahaja yang memiliki sebuah skuter butut. Namun ketika menjadi wakil rakyat, kehidupannya berubah 180 derajad. Rumah mewah dengan kendaaan bermotor seharga miliaran rupiah ! Terlepas latar belakang mereka, namun gaya hidup hedonis yang dipertontonkan anggota dewan baik di pusat maupun daerah sangat kontradiktif dengan kehisupan puluhan juta rakyat yang hisup masih dibawah kemiskinan. kehidupan hedonis para anggota dewan di pusat mencerminkan prilaku yang salah arah dalam memaknai sebuah kesempatan.
Apa yang diajarkan sang filsuf Epikuros sejatinya belumlah selesai hanya sampai tujuan pemuasan badani semata. Namun hedonism harus diimbangi dengan kesenangan rohani, sperti terbebasnya jiwa rasa resah. Artinya, para wakil rakyat kita sejatinya harus memahami keresahan rakyat yang telah pengatarnya ke kursi parlemen. Camkan itu !
Mencoba
No comments:
Post a Comment