GUE MAKAN LOE
"ADAKAH besok
yang akan kumakan ?" gumam si miskin. Sedang si kaya bertanya, "Di
(restoran) mana lagi besok aku akan makan ?" Adapun si penipu, ia
menyeledik, "Siapa lagi besok yang akan kumakan ?" Soal makan dan
makanan, memang mencerminkan banyak hal. Jelas manusia perlu makan.
Secara alamiah, manusia akan memilih makanan yang enak menurut
seleranya. Selain enak, makanan harus menunjang kesehatan tubuh, dan
jika ia Muslim, makanan juga harus Halal. Tiga kriteria ini tidak selalu
bertemu dalam satu makanan karena alat ukurnya berbeda. Enak ukuran
selera, sehat ukurannya keperluan tubuh, dan halal ukurannya agama.
Ukuran enak , sehat dan halal juga tidak selalu sama. Lidah boleh sama, tetapi selera seringkali berbeda. Suatu jenis makanan bisa menyehatkan bagi tubuh seseorang, tetapi justru berbahaya bagi tubuh yang lain. Dalam Islam, juga ada perbedaan pendapat mengenai makanan tertentu, halal atau haram, dan dalam keadaan darurat,makanan yang haram, bisa dihalalkan secara terbatas.
Diantara tiga kreteria itu, kelezatanlah yang paling menonjol. Aneka masakan yang ada di muka bumi ini, semua terkait erat dengan upaya menciptakan makanan yang memanjakan selera. "Maknyus." kata Bondan Winarno, sambil mendesah usai mencicipi suatu masakan, dalam program wisata kuliner di televisi. maka penonton pun menelan air liur membayangkan kelezatannya. Selera kita dibentuk oleh pengalaman makanan sejak kecil. Karena itu biasanya tidak mudah bagi kita menikmati masakan dari budaya lain.
Ketika saya kali pertama ke Kotabaru atau Banjarmasin Kalsel. Saya sangat sulit menikmati masakan nasi kuning dengan lauk yang warnanya merah bumbu lombok tanpa sayuran dan lebih masakan ketupat kandangan yang sajiannya dengan ketupat lauk ikan haruan kalau dijawa lele budek atau kutuk yg ngga ada patilnya (ngga laku di jawa). Saya juga tidak bisa menikmati ikan haring yang ditelan mentah-mentah ala orang Belanda dan ikan tuna mentah ala orang Jepang. kecuali hidangan nasi pecel dengan pelengkap combrang dan kenci ini langsung santap habis pokoknya (khas pecel Banjarnegara gilar-gilar).
Tetapi akibat globalisasi, perjumpaan antar makanan yang berasal dari budaya yang berbeda kini makin intensif. Di Banjarmasin atau Kotabaru, sudah ada restoran Padang, jawa, madura dan sunda. Makanan cina seperti bakso, bakpao dan mi ayam, juga populer. Makanan ala Amerika seperti Dunkin Donat dan Ketucky Fried Chiken atau makanan Italia seperti Spagheti dan Pizza, juga tersedia. Makanan halal juga ada dimana-mana. termasuk dinegara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Daging ayam, sapi dan kambing yang disembelih secara Islam, bisa dibeli di Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Taiwan dan lain-lain. Bahkan orang-orang yang tidak beragama Islam, antara lain krena alasan kesehatan, turut menikmati berbagai makanan halal tersebut.
Namun, berlimpahnya aneka makanan itu, tidak otomatis membuat kita bertambahsehat. Banyak makanan yang diproduksi saat ini, yang menggunakan berbagai bahan berbahaya, dari pengawet, penyedap, pewarna hingga minyak jelantah. Sementara itu, banyak sungai yang sudah tercemar limbah industri, sehingga ikan-ikan didalamnya terkena merkuri, padahal kemudian kita konsumsi. Karena itu, tampaknya sekarang kriteria sehat lebih sulit dipenuhi ketimbang enak dan halal. Banyak makanan yang enak dan halal, tapi belum tentu baik untuk kesehatan kita. Kadang kita sudah tahu suatu makanan sebenarnya tidak sehat, tetapi godaan kelezatan membuat kita langsung menyantapnya. Maka untuk hidup sehat, orang juga harus mampu mengendalikan nafsu makannya.
Demikianlah, makanan ternyata mencerminkan seluruh tatanan hidup kita. Makanan menunjukkan selera dan pengendalian diri kita. Makanan memantulkan persamaan sekaligus perbedaan diantara kita. Makanan adalah wujud nyata dari sistem nialai yang kita pegang. Makanan adalah karikatur dari gelombang peradaban umat manusia, dari era pertanian, industri hingga informasi dan globalisasi. Hidup manusia memang tidak mudah dipahami, tetapi mungkin kita dapat menyelami maknanya hanya dengan merenungkan makanan yang ia makan. cukup sederhana bukan ?.
Tanduk\tambah dan ngopi sambil leyeh2 nyawang ƔάϞƍ lewat
Ukuran enak , sehat dan halal juga tidak selalu sama. Lidah boleh sama, tetapi selera seringkali berbeda. Suatu jenis makanan bisa menyehatkan bagi tubuh seseorang, tetapi justru berbahaya bagi tubuh yang lain. Dalam Islam, juga ada perbedaan pendapat mengenai makanan tertentu, halal atau haram, dan dalam keadaan darurat,makanan yang haram, bisa dihalalkan secara terbatas.
Diantara tiga kreteria itu, kelezatanlah yang paling menonjol. Aneka masakan yang ada di muka bumi ini, semua terkait erat dengan upaya menciptakan makanan yang memanjakan selera. "Maknyus." kata Bondan Winarno, sambil mendesah usai mencicipi suatu masakan, dalam program wisata kuliner di televisi. maka penonton pun menelan air liur membayangkan kelezatannya. Selera kita dibentuk oleh pengalaman makanan sejak kecil. Karena itu biasanya tidak mudah bagi kita menikmati masakan dari budaya lain.
Ketika saya kali pertama ke Kotabaru atau Banjarmasin Kalsel. Saya sangat sulit menikmati masakan nasi kuning dengan lauk yang warnanya merah bumbu lombok tanpa sayuran dan lebih masakan ketupat kandangan yang sajiannya dengan ketupat lauk ikan haruan kalau dijawa lele budek atau kutuk yg ngga ada patilnya (ngga laku di jawa). Saya juga tidak bisa menikmati ikan haring yang ditelan mentah-mentah ala orang Belanda dan ikan tuna mentah ala orang Jepang. kecuali hidangan nasi pecel dengan pelengkap combrang dan kenci ini langsung santap habis pokoknya (khas pecel Banjarnegara gilar-gilar).
Tetapi akibat globalisasi, perjumpaan antar makanan yang berasal dari budaya yang berbeda kini makin intensif. Di Banjarmasin atau Kotabaru, sudah ada restoran Padang, jawa, madura dan sunda. Makanan cina seperti bakso, bakpao dan mi ayam, juga populer. Makanan ala Amerika seperti Dunkin Donat dan Ketucky Fried Chiken atau makanan Italia seperti Spagheti dan Pizza, juga tersedia. Makanan halal juga ada dimana-mana. termasuk dinegara-negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Daging ayam, sapi dan kambing yang disembelih secara Islam, bisa dibeli di Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Taiwan dan lain-lain. Bahkan orang-orang yang tidak beragama Islam, antara lain krena alasan kesehatan, turut menikmati berbagai makanan halal tersebut.
Namun, berlimpahnya aneka makanan itu, tidak otomatis membuat kita bertambahsehat. Banyak makanan yang diproduksi saat ini, yang menggunakan berbagai bahan berbahaya, dari pengawet, penyedap, pewarna hingga minyak jelantah. Sementara itu, banyak sungai yang sudah tercemar limbah industri, sehingga ikan-ikan didalamnya terkena merkuri, padahal kemudian kita konsumsi. Karena itu, tampaknya sekarang kriteria sehat lebih sulit dipenuhi ketimbang enak dan halal. Banyak makanan yang enak dan halal, tapi belum tentu baik untuk kesehatan kita. Kadang kita sudah tahu suatu makanan sebenarnya tidak sehat, tetapi godaan kelezatan membuat kita langsung menyantapnya. Maka untuk hidup sehat, orang juga harus mampu mengendalikan nafsu makannya.
Demikianlah, makanan ternyata mencerminkan seluruh tatanan hidup kita. Makanan menunjukkan selera dan pengendalian diri kita. Makanan memantulkan persamaan sekaligus perbedaan diantara kita. Makanan adalah wujud nyata dari sistem nialai yang kita pegang. Makanan adalah karikatur dari gelombang peradaban umat manusia, dari era pertanian, industri hingga informasi dan globalisasi. Hidup manusia memang tidak mudah dipahami, tetapi mungkin kita dapat menyelami maknanya hanya dengan merenungkan makanan yang ia makan. cukup sederhana bukan ?.
Tanduk\tambah dan ngopi sambil leyeh2 nyawang ƔάϞƍ lewat
No comments:
Post a Comment