MAMPUKAH UNJUK GIGI
INI pertanyaan seluruh rakyat Indonesia di sela-sela harapan dan gebyar meriahnya pembukaan South East Asian
(SEA) Games yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pekan
lalu di Kota Palembang. Apalagi sebagai tuan rumah, menjelang
penyelenggaraanya, sudah diwarnai dengan semangat kontroversi yaitu
terungkapnya kasus korupsi kelas kakap di balik proyek wisma atletnya
yang menyeret sejumlah nama di Partai Demokrat.
Selain persiapan pemyelenggaraan ini dililit oleh kasus korupsi, pelaksanaan SEA Games ke -26 ini bagi Indonesia boleh dikata saat momen rakyat tidak 'pe-de' dengan prestasi para atlitnya. Ini tidak lain, karena sejak 1997 di ajang olahraga dua tahunan ini, kontingen Indonesia, tidak pernah lagi menjadi juara umum. Bahkan dalam kurun enam kali even yang sama, posisinya antara keempat bahkan kelima. Padahal, diantara tahun 1977 hingga 1997 selalu menjadi raksasa dalam perolehan medali dan prestasi juara umum tak pernah lepas.
Walaupun bukan termasuk negara yang mengikuti SEA Games sejak awal, toh prestasi Indonesia di kancah olah raga ini senantiasa ditakuti. SEA Games pertama diadakan di Kota Bangkok 12-17 Desember 1959,namun Indonesia baru berprestasi pada 1977. Inilah bukti keperkasaan Indonesia dalam SEA Games sebelum 1997. Selalu unggul di antara 11 negara yang berprestasi diasana. Posisi Indonesia yang meraih gelar juara umum terjadi pada 1977, 1979, 1981, 1983, 1987,1989, 1991, 1993, dan 1997. Prestasi itu diraih baik sebagai tuan rumah maupun tidak.
Sebenarnya, sejak SEA Games 1995 di Kota Bangkok, Thailand, prestasi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan. Dan, terus memburuk pada SEA Games Malaysia 2001, SEA Games Filipina 2003, SEA Games Vietnam 2005, dan terakhir SEA Games Nakhon Ratchasirna Thailand 2007. Pada SEA Games di Philipina 2005, Indonesia menduduki peringkat ke-5, sedangkan di Thailand pada 2007, peringkat ke-4. Pafa 2009 di Laos kontingen Indonesia sempat meningkat prestasinya berada di peringkat tiga.
Penurunan ini beragam dengan pascareformasi di mana negeri ini dilanda kritisis moneter hebat hingga disebut-sebut sebagai pemicu keruntuhan prestasi. Sementara negara lain tetap eksis menyiapkan atlet-atletnya walaupun sama-sama dilanda krisis moneter. Dalam satu dasa warsa lebih pascareformasi. Indonesia memang lebih bersemangatbermain di panggung politik domestik. Pergantian Presiden serta partai yang berkuasa, tidak mampu memperbaiki kontribusi yang baik bagi prestasi olah raga di semua cabang.
Kalau toh ada prestasi yang menonjol di negeri ini, itu adalah konflik antar elit politik atau catatan panjang tentang korupsi yang dilakukan petinggi negara atau kroni-kroninya. Nasib bidang lainya semakin terpuruk, termasuk olah raga. Itulah sebabnya, dalam penyelenggaraan SEA Games ini, antara optimistis dengan pesimistis berbagi rata.
Walau di hari-hari pertama ini Indonesia mampu berada di posisi teratas dalam memperoleh medali, tetapi itu bukan jaminan kita mampu unjuk gigi hingga di hari terakhir. Moto 'Indonesia Bisa' masih diuji dalam beberapa hari lagi karena perjalanan SEA Games ke-26 di Kota Palembang baru berlangsung empat hari. Mampukah Indonesia mengembalikan kejayaan di masa lalu. Itu masih menjadi sebuah pertanyaan.

Selain persiapan pemyelenggaraan ini dililit oleh kasus korupsi, pelaksanaan SEA Games ke -26 ini bagi Indonesia boleh dikata saat momen rakyat tidak 'pe-de' dengan prestasi para atlitnya. Ini tidak lain, karena sejak 1997 di ajang olahraga dua tahunan ini, kontingen Indonesia, tidak pernah lagi menjadi juara umum. Bahkan dalam kurun enam kali even yang sama, posisinya antara keempat bahkan kelima. Padahal, diantara tahun 1977 hingga 1997 selalu menjadi raksasa dalam perolehan medali dan prestasi juara umum tak pernah lepas.
Walaupun bukan termasuk negara yang mengikuti SEA Games sejak awal, toh prestasi Indonesia di kancah olah raga ini senantiasa ditakuti. SEA Games pertama diadakan di Kota Bangkok 12-17 Desember 1959,namun Indonesia baru berprestasi pada 1977. Inilah bukti keperkasaan Indonesia dalam SEA Games sebelum 1997. Selalu unggul di antara 11 negara yang berprestasi diasana. Posisi Indonesia yang meraih gelar juara umum terjadi pada 1977, 1979, 1981, 1983, 1987,1989, 1991, 1993, dan 1997. Prestasi itu diraih baik sebagai tuan rumah maupun tidak.
Sebenarnya, sejak SEA Games 1995 di Kota Bangkok, Thailand, prestasi Indonesia sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan. Dan, terus memburuk pada SEA Games Malaysia 2001, SEA Games Filipina 2003, SEA Games Vietnam 2005, dan terakhir SEA Games Nakhon Ratchasirna Thailand 2007. Pada SEA Games di Philipina 2005, Indonesia menduduki peringkat ke-5, sedangkan di Thailand pada 2007, peringkat ke-4. Pafa 2009 di Laos kontingen Indonesia sempat meningkat prestasinya berada di peringkat tiga.
Penurunan ini beragam dengan pascareformasi di mana negeri ini dilanda kritisis moneter hebat hingga disebut-sebut sebagai pemicu keruntuhan prestasi. Sementara negara lain tetap eksis menyiapkan atlet-atletnya walaupun sama-sama dilanda krisis moneter. Dalam satu dasa warsa lebih pascareformasi. Indonesia memang lebih bersemangatbermain di panggung politik domestik. Pergantian Presiden serta partai yang berkuasa, tidak mampu memperbaiki kontribusi yang baik bagi prestasi olah raga di semua cabang.
Kalau toh ada prestasi yang menonjol di negeri ini, itu adalah konflik antar elit politik atau catatan panjang tentang korupsi yang dilakukan petinggi negara atau kroni-kroninya. Nasib bidang lainya semakin terpuruk, termasuk olah raga. Itulah sebabnya, dalam penyelenggaraan SEA Games ini, antara optimistis dengan pesimistis berbagi rata.
Walau di hari-hari pertama ini Indonesia mampu berada di posisi teratas dalam memperoleh medali, tetapi itu bukan jaminan kita mampu unjuk gigi hingga di hari terakhir. Moto 'Indonesia Bisa' masih diuji dalam beberapa hari lagi karena perjalanan SEA Games ke-26 di Kota Palembang baru berlangsung empat hari. Mampukah Indonesia mengembalikan kejayaan di masa lalu. Itu masih menjadi sebuah pertanyaan.

No comments:
Post a Comment