Monday, 23 February 2015

BERAGAM SECARA SANTUN

BERAGAM SECARA SANTUN

     ISLAM bermakna berserah diri kepada Allah dengan suka rela, dengan damai. Sikap berserah diri pada Tuhan dan kebenaran ajaran yang diyakininya mengamsumsikan adanya kebebasan atau kemerdekaan, bebas dari paksaan. Tak ada paksaan dalam memeluk agama. Dengan demikian, seseorang dikatakan muslim jika dalam memilih dan melaksanakan ajaran yang diyakininya dengan suka rela, bebas dari tekanan, ancaman dan paksaan. Bahwa pilihan beragama itu sangat dipengaruhi lingkungan, itu sudah pasti. Tetapi pada akhirnya keberagamaan seseorang mestilah hasil pilihan sadar dan meredeka.
     Karena keberislaman merupakan hak dan ilihan individu, maka Alquran mengingatkan pada Nabi Muhammad hanya sebagai Rasul yang bertugas menyampaikan ajaran Tuhan, tetapi tidak memiliki hak memaksa seseorang untuk beriman. Bagimu agamamu, bagiku agamaku, bunyi teks  Alquran. Tugas Rasul adalah menyampaikan amanat Tuhan dan memberikan ketauladan pribadi mulia, namun iman dan amal seseorang semuanya menjadi urusan Tuhan yang akan menilainya.
     Sedemikian tingginya Tuhan menghargai kemerdekaan manusia yang merupakan puncak kreasi_Nya, sehingga Tuhan membiarkan manusia tumbuh dan menentukan jalan hidupnya tanpa banyak intervensi sepanajng jatah umurnya. Manusia diberi umur dan kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, namun diakhirat nanti Tuhan akan membuat perhitungan atas anugerah kemerdekaan yang telah diberikan.
     Bahkan untuk memilih jalan kematian pun Tuhan masih memberikan pilihan, jalan apakah yang akan diambilnya. Ini semua menunjukkan betapa manusia diberi anugerah kemerdekaan untuk mengisi dan memaknai jalan hidupnya berdasarkan pilihan bebasnya, yang kebebasan itu disertai anugerah nurani, nalar sehat dan bimbingan para Rasul_Nya. Mengingat kemerdekaan itu merupakan kekayaan tertinggi manusia, maka semua bentuk paksaan, penindasan, dan imperialisme mesti memperoleh perlawanan sengit sepanjang sejarah manusia. Segala bentuk paksaan berlawanan dengan disain Tuhan dan martabat manusia.
     Banyak orang rela mati demi membela kemerdekaan hidupnya, termasuk kemerdekaan menentukan keyakinan agamanya seperti yang dicontohkan Bilal, sahabat Nabi. Jika dicermati, ajaran Islam sangat tegas membela pelaksanan hukum untuk menegakkan tertib sosial dan menjaga keamanan serta hak individu, namun dalam hal keimanan dan hubungan langsung dengan Tuhan kewenangan dan campur tangan manusia sangat dibatasi. Contoh paling nyata adalah perintah puasa, asalat, dan haji, hampir-hampir semuanya bersifat individu. Pelaksanannya bisa saja tanpa sepengetahuan dan campur tangan manusia. Bahkan ketika seseorang secara formal menyatkan memeluk Islam dengan ikrar dua kalimat syadat, kita tidak tahu persis kualitas ikrarnya kecuali dirinya dan Tuhan.
     Sering tanya kepada kyai atau ustad yang mana sudah belasan kali membimbing seseorang mengikrarkan syahadat tanda memeluk Islam, baik orang asing maupun orang Indonesia. Tetapi kalau ditanya kesungguhan, kualitas, dan ketulusan niatnya untuk memeluk Islam, dijawab, "Tidak tahu".

No comments:

Post a Comment