Monday, 23 February 2015

MANIPULASI KEMISKINAN

MANIPULASI KEMISKINAN

     "BERSEDEKAH dibulan ramadan akan mendapatkan ganjaran ganda dari Tuhan. Nabi juga bersabda, tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Orang yang memberi, lebih mulia daripada orang yang menerima." Namun ajran ini rupanya dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk meraup keuntungan pribadi. Entah dari mana datangnya, setiap bulan Ramadan jumlah pengemis biasanya meningkat, terutama kala mendekati lebaran. Mereka terdiri ibu-ibu dan anak-anak, atau pria tua yang tampak lemah. Adapula pria yang masih muda, tapi (seolah) cacat.
     Pemerintah sudah berusaha menertibkan para pengemis itu, terutama mereka yang beroperasi di lampu merah. Tetapi setelah ditangkap Satpol PP dan ditahan sebentar, mereka dipulangkan. Beberapa hari kemudian, mereka beroperasi lagi. Di bulan puasa, mereka beroperasi dari rumah ke rumah, sehingga jarang terawasi Satpol PP. Selain di kota, ada pula pengemis di sekitar makam keramat. Minggu lalu, mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Nurwan hidayat, berhasil mempertahankan skripsinya tentang para pengemis di lokasi makam Syekh Arsyad al-Banjari, Kelampayan, Ia menggali latar belakang sosial dan kegiatan para pengemis di sepanjang jalan menuju makam.
    Nurwan mencatat, para pengemis yang beroperasi di lokasi itu sekitar 50 orang, terdiri atas anak-anak dan orang dewasa. Anak-anak itukebanyakan orang kampung setempat. Mereka mengemis atas perintah orang tua. Ada pun pengemis dewasa, Kebanyakan berasal dari luar. Ada yang benar-benar melarat, tapi ada juga yang memiliki tanah pertanian.Aktivitas para pengemis itu laksana teater jalanan. Mereka pandai berakting, memakai pakaian lusuh, menggendong anak dan menadah tangan memancing iba. Ada pula yang pura-pura cacat. Penghasilan per orang per hari rata-rata Rp 20-30 ribu. Kalau lagi ramai, bisa juga mencapai lebih dari Rp 100 ribu. Jumlah yang tidak fantastis, tetapi lumayan.
     Diantar sesama pengemis, ada persaingan sekaligus kerja sama. Mereka bersaing mendapat sedekah dari tamu-tamu yang datang. Namun mereka juga membangun kerja sama, yakni membentuk arisan. Ada arisan yang dicabut tiap hari, ada pula yang per minggu. Jumlah yang didapat berkisar dari ratusan ribu hingga 3 juta rupiah. Di kalapayan tidak ada bos yang memimpin semua pengemis. Mereka bekerja sendiri-sendiri. Ini berbeda dengan para pengemis di perkotaan yang konon dipimpin oleh seorang atau beberapa preman. Selain itu, di kota ada juga pengemis yang berkelompok. Setelah beroperasi, mereka makan bersama dan membagi rata hasil yang didapat.
     Gejala pengemis pada dasarnya adalah gejala kemiskinan. Ketika kebutuhan pokok tak terpenuhi, dan lapangan kerja tak ada, orang akan terdorong mencari jalan pintas, salah satunya mengemis. ketika kerja mengemis itu ternyata mendatangkan hasil yang cukup besar dari bekerja, orang akhirnya menekuni profesi itu. Ironisnya, di bulan Ramadan ini, sebagian orang kaya dan miskin, sama-sama memanipulasi kemiskinan untuk kepentingan jangka pendek. Sebagian orang miskin terjun mengemis, sedang sebagian orang kaya pamer membagi zakat / sedekah. Tapi hasil akhirnya tetap sama ; yang miskin tetap miskin, dan yang kaya tetap kaya ! Padahal, selama kemiskinan dan kesenjangan sosial itu nyata adanya, selama itu pula pengemis akan tetap ada.
alatnya dlm masa perbaikan kok dipaksa di pakai, katanya porprop tgl 28 kok sdh mulai, jadwal kacau, asal fulus sesuai aja .alatnya dlm masa perbaikan kok dipaksa di pakai, katanya porprop tgl 28 kok sdh mulai, jadwal kacau, asal fulus sesuai aja .

No comments:

Post a Comment