Friday, 20 February 2015

EMANG GUE PIKIRIN

EMANG GUE PIKIRIN

      BERSAMA  seorang teman, saya makan siang di angkringan. Bercakap-cakap soal betapa banyak dari teman-teman kami berubah. Perubahan yang menarik untuk dibicarakan tentu yang aneh-aneh. Kalau menjadi lebih benar biasanya tidak menarik. Yang menarik dibicarakan itu yang macam begini. Dulu baik, sekarang bicaranya tinggi sekali. Dulu nggak punya apa-apa, sekarang makin nggak punya apa-apa, tetapi tabiatnya tetap seperti punya segalanya. Ada yang dikirimi BBM penting tak pernah membalas, ditelepon tak menjawab.
     Menjadi musuh tidak, disebut teman pun jadi meragukan. Dulu hidup dengan kesederhanaanm sekarang jadi tukang pamer dimana-mana karena dinikahi manusia kaya raya. Pamerannya dilakukan di Twitter, di Facebook, dan dimana saja. Dulu begitu tidak percaya diri, sekarang menjadi-jadi percaya dirinya, sampai tak tahu batasan benar dan baik. Dulu tukang janji, sekarang tetap tukang janji. kalau sekarang sejuta janji, dulu hanya seratus  janji. Tetapi tetap sama dulu dan sekarang tak pernah ditepati, ada yang lebih parah lagi yang dulu sebagai tukang kebun, beruntun naik dari staf kantor karena bekerja di media diterima sebagai panwas dengan gaji yang di naik-naikkan karena meloloskan partai, setelah selesai kontrak ngga ada penghasilan turun ke nol lagi, ngga siap miskin menipu berbagai kesempatan.
     Mengapa teman-teman saya berubah ? Mengapa kasus-kasus di atas terjadi ? Di saat makan sing itu, saya melihat perjalanan hidup saya sendiri. saya datang dari keluarga yang biasa banget. Tetapi, saat saya memiliki kesempatan sekolah di perguruan tinggi elit, kemudian bekerja di sebuah media terkemuka, teman-teman melihat saya berubah. makin arogan. Saya ngotot kalau mereka salah besar. Nurani saya berbisik. "Kalau emang elo nggak berubah,  kenapa dulu elo gak repot pakai kompor biasa, sekarang berbicara punya kompor bermerek itu penting ?" Saya membela diri. Memang salah kalau saya bisa naik kelas ? Kalau secara finansial saya bisa membuat quality of life saya meningkat ? Si nurani berbisik lagi. Tumben tak berteriak. "Perubahan pada kualitas hidup itu oke, tetapi perubahan perilaku menjadi jumawa itu jauh dari oke"
     Setelah obrolan itu, tidur malam saya terganggu. Bukan mengingat teman-teman saya yang berubah, tetapi seperti ada yang sedang menguliahi tentang makna perubahan itu. Begini kuliah tengah malam itu, Perlukah perubahan dalam hidup manusia itu ? Perlu. Kalau teman saya dulu miskin, sekarang menjadi kaya, dan kemudian ia mengubah gaya hidupnya, itu bukan masalah. Itu yang namanya naik kelas. Naik kelas harus dilakukan oleh setiap orang, karena itu sebuah bukti pertanggungjawaban kepada Sang Pemberi Hidup. Malas berubah itu tak bertanggung jawab.
     Perubahan menjadi lebih saleh, menjadi lebih cantik dan tampan, menjadi terkenal dan berprestasi. Kalau dulu dirumah kos-kosan, sekarang tinggal di apartemen kelas atas, punya bisnis di mana-mana, memiliki kekayaan yang sampai masuk ke dalam daftar orang terkaya, semuanya sebuah prestasi. Masalahnya adalah ketika perubahan materi membuat manusianya berubah ke arah yang keliru. Keliru itu bisa sperti cara berpikir saya. Salah satu contohnya. Saya merasa bahwa saya ini mapan, itu tak hanya sebuah potret saya naik kelas, saya bertanggung jawab, tetapi juga mencerminkan kemurahan Tuhan, pada waktu yang bersamaan.
     Kemudian saya berpikir, kalau yang mapan itu berasal dari Sang Pemberi Kehidupan, bukankah saya seharusnya tetap bersikap biasa-biasa saja, rendah hati. Karena cermin Sang Khalik itu tak pernah jumawa, mulut yang tinggi, yang membedakan latar belakang, perilaku petantang-petenteng dan show off, bukan? Quality of life harus dipertontonkan melalui jiwa yang sehat, bukan keadaan fisik yang memikat. Kualitas hidup itu seyogianya berprinsip less is more. Sederhana itu tak berarti selalu tak punya apa-apa. Perubahan menjadi naik kelas itu more. Less itu kemampuan mempertahankan perilaku yang biasa-biasa saja setelah perubahan terjadi. Jadi, kesimpulannya, keliahatan biasa, tetapi kekayaannya di mana-mana, itu benar-benar juara.
     Naik kelas itu juga seperti prinsip pohon yang tumbuh sehat dan rindang, yang mampu memberi tempat berteduh orang lain, sementara ia sendiri sebagai pohon dengan rela tersengat matahari. Less itu kekayaan yang tak perlu diperlihatkan, more itu membantu orang yang belum naik kelas menjadi naik kelas. Bukan malah sengaja membonsai dan mengejek karena memiliki kemampuan dan kesempatan yang lebih.
     Malam ini saya berpikir, jangan-jangan saya ini jadi jumawa gara-gara cara saya naik kelas itu dnegan melakukan tindakan yang tidak menyenangkan Sang Pencipta. Naik kelasnya dengan bantuan joki. Maka, perilaku saya kemudian jadi kayak orang edan. Dan. Sebaliknya, kalau perubahan atau cara naik kelas saya itu semua terjadi karena berkenan bagi Sang Pemberi, giat bekerja dan tidak instan, perubahan sedasyat apa pun akan memampukan saya menjadi manusia yang tidak gegar otak. Bisa naik kelas dan tetap biasa-biasa saja itu sebuah potret manusia dengan jiwa yang super sehat dan penguasaan diri yang luar biasa. Kerendahan hati itu tak terkalahkan oleh apapun. Ia seperti mahkota, atau seperti rambut yang berkilau karena sehat, bukan sengaja dikilaukan.

No comments:

Post a Comment