Friday, 20 February 2015

BANGSAT BARU

BANGSAT BARU

     SEPULUH tahun silam, 11 September 2001, tak akan pernah dilupakan banyak orang. Orang-orang baru saja memulai aktivitasnya di jantung bisnis dunia di Manhattan, New York, Amerika Serikat ketika tragedi itu. Dua pesawat sarat penumpang dan sarat bahan bakar karena baru saja tinggal landas, menabarak menara kembar World Trade Center (WTC). Dan, mimpi buruk itu pun dimulai. Dinding-dinding runtuh. Gedung kukuh angkuh setinggi 460 meter lebih yang menusuk langit dengan lamatai110 lantai dan deretan antena di puncaknya ini luluh tanpa daya. Seperti menara pasir disiram air. Menewaskan hampir 3.000 orang, mencedarai ratusan lainya.
     Kengeriaan itu seakan bangkit lagi pada hari-hari menjelang peringatan tragedi tersebut. Sejak awal September polisi New York dan Washington, meningkatkan keamanan dan kewaspadaan karena peringatan 10 tahun tragedi ini masih dibawah ancaman teror. Negara adidaya, penguasa dan pengatur dunia seperti Amerika pun tak berdaya mencium gerakan teror. Padahal di negeri itu pula pasukan-pasukan elit dunia dilatih  untuk menghadapi, melawan, dan melumpuhkan terorisme.
     Jika negara macam Amerika saja--yang memiliki sumberdaya tak terbatas--masih bisa dijebol teroris, maka negara kecil dan baru berkembang seperti Indonesia tentu lebih rentan. Terlebih, teror itu bukan barang baru di negeri kita. Hanya saja skalanya memang tidak sespektakuler insiden WTC-Penthagon-Pennsylvania. Amerika berduka kehilangan ribuan warganya dalam sekali sentak. Sama halnya dengan perasaan yang dialami Jepang ketika Nagasaki-Hiroshima dibom Amerika. Tak jauh bedanya dengan perasaan bangsa Yahudi yang dipunahkan Jerman. Demikian pula kepedihan bangsa Palestina yang ditindas kaum Yahudi.
     Selama 30 tahun lebih, bangsa Indonesia pun di teror penguasa sendiri, yang kadang meminjam tangan sesama kita. Kini pelajaran teror yang diserap dari rezim lalim itu, masih dipraktekkan siapapun yang berkepentingan menekan pihak lain. Karena itu kita masih terus dicabik-cabik kepedihan ketika ribuan putra-putri Aceh dan Papua dibunuhi, ketika aktivis diculik dan dihabisi, ketika bom-bom berledakan diberbagai kota. Hingga kini para pelaku teror masih bergentayangan meski sebagian sudah ditangkapi dan dihukum.
     Kelompok tertentu dengan jaringan besar melakukan teroro dengan cara meledakkan peluru kendali pesawat besar penuh penumpang dan sarat bahan bakar ke gedung jangkung, seperti yang terjadi 10 tahun silam di Amerika Serikat. Kelompok yang lebih kecil menetaskan teror itu lewat pembantaian massal suku yang dianggap lawan. Lainya, mungkin perorangan, cukup dengan memamerkan rajah disekujur tubuh, sambil jalan sempoyongan dan mata ngantuk, menedahkan tangan di simpang-smpang jalan. Ya, teror sudah jadi bagian dari hidup kita sehingga dengan rakus kita lumati berita televisi, surat kabar, radio, yang mewartakan aksi teror dalam aneka bentuknya itu.
     Belum lagi teroris lain yang kini meraja lela. Kelompok teroris ini bekerja dengankekejaman terselubung, yang diam-diam memiskinkan kehidupan rakyat, bahkan membunuh dengan sangat perlahan, melalui aksinya menggarong uang rakyat. Teroris jenis ini lebih canggih karena berada di antara kita. Ia tampak sebagai politisi yang seolah mewakili rakyat, bisa pula seakan abdi negara yang menjalankan tugas melayani masyarakat.
     Mereka juga bisa menghilangkan diri dengan cara bersembunyi di negara yang tak terikat perjanjian ekstradisi. Teroris macam ini mampu membayar dokter ahli untuk memberinya keterangan sakit lupa ingatan atau kehilangan memori. Jika pun tertangkap segera menyiapkan pengacara-pengacara handal bertarif ratusan dolar perjam, untuk --kalau perlu memutarbalikkan fakta-- mengubah citra sang teroris jadi pahlawan. Teroris macam inilah yang sedang kita perangi yang ternyata melakukan perlawanan sengit dengan  cara-caranya yang tak kalah keji. Tanpa disadari, berita-berita mengenai hal itu pun telah meneror pikiran dan perasaan publik tanpa ampun.
Bila rukun kaya ini mungkin negara ini sudah makmur dari dulu-dulu kaliBila rukun kaya ini mungkin negara ini sudah makmur dari dulu-dulu kali

No comments:

Post a Comment