BEGINIKAH DESA SAYA
Setiap hari kita dibanjiri berita mengenai korupsi. Pada tayangan televisi koruptor kakap bukan terpidana yang hina. Mereka tampil penuh percaya diri, terlihat makmur, tertawa-tawa, dirayakan seperti televisi merayakan apa yang kereka istilahkan sebagai "selebritis". Kasus korupsi umunya menguap, tak terungkap apalagi tuntas karena kaitan dengan sistem yang memungkinkan atau bahkan memastikan itu semua terjadi, yakni politik uang.
Seorang kandidat doktor di Jawa Tengah yang melakukan penelitian di sejumlah desa mengatakan, dari segi politik kini sulit diduga aliran apa yang paling kuat. Apa pun alirannya-dia bicara dalam konteks politik aliran-siapa pun yang menyuruh tak akan jalan kalau tak ada uang. Semakin hari uang yang dibutuhkan semakin banyak. Rakyat makin pintar ; tidak cukup disogok dengan truk dan nasi bungkus.
Bisa pula di balik. Uang juga belum tentu benar-benar menggerakkan calon pemilih di tengah pragmatisme politik berupa antara lain proses tawar-menawar, terjadi proses saling memanipulasi. Terbiasa dengan proses seperti itu, pada rakyat di mana saja termasuk di desa-desa diam-diam terbentuk lapisan-lapisan yang sulit ditembus. Silahkan Anda buktikan kalau Anda tertarik menjadi peneliti aspirasi pedesaan.
Rakyat Indonesia mengalami loncatan luar biasa dalam teknologi. Tanpa mengalami jatuh-bangun riwayat produksi, tiba-tiba mereka masuk ke era konsumsi. Sebelum edukasi menyelesaikan problem literasi atau melek huruf di desa-desa, tiba-tiba masuk serbuan media elektronik.
Kalau dari segi politik rakyat dijadikan obyek politik pencitraan, dari segi hiburan rakyat miskin dijadikan obyek untuk mengharu-biru perasaan orang. Mereka ditampilkan dalam segenap kemeranaan nasibnya, kemudian ada pihak yang mengespresikan keharuan (umunya orang kota, cantik, ganteng), mengulurkan tangan. Pertolongan diberikan. Ini bagus sebagai komoditas hiburan. Tak diperlukan "pembebasan" dan "pencerahan". Istilah itu terlalu kekiri-kirian. Kami masih trauma.
Desa kita terbelah, Keluguan, kenaifan sebagai akibat rendahnya pendidikan, membuat sebagai dari mereka juga menjadi korban manipulasi ideologi-ideologi radikal. Lalu kita tercengang-cengang dan kalang kabut karena di sejumlah daerah tak ada lagi hormat bendera. Orang termangu-mangu, aparat bersenjata lengkap mengobrak-abrik rumah sederhana karena curiga menjadi persembunyian teroris.
Kita kebakaran jenggot, pengadu praktik kecurangan pada ujian di sekolah dengan istilah "nyontek massal", diusir dari kampungnya. Di mana penghormatan atas kejujuran, kita bertanya.
Kalau Anda seperti saya percaya bahwa segala hal terdiri atas segala wadag dan roh-tak terkecuali sebuah bangsa-maka memang banyak yang perlu dibereskan. Sejarah adalah aliran memori untuk menuju samudra, sesuatu yang besar, yang hakiki. Belajar dari situ. Tak cukup semua hal dinalar dan diselesaikan secara pragmatik.
Sebelum minum dawet ayu foto dulu ama patungnya
No comments:
Post a Comment