NGGA KEMANA-MANA TAPI ADA DIMANAN-MANA
MAU cepet kaya ? Kini, tidak perlu sampai harus bertapa di gua-gua
pengap nan menyeramkan atau dibawah pohon-pohon besar dan makam-makam
keramat. Apalagi sampai harus 'memelihara' tuyul, babi ngepet dan
sebangsanya. Jadilah pegawai pemerintah yang berkaitan dengan uang. Pun,
untuk bisa cepat kaya dengan gemilang harta di negeri ini, tidak perlu
harus punya jabatan tinggi. Cukup dengan memegang posisi strategis alias
penting, meski hanya golongan ecek-ecek. Tenggok saja seorang Gayus
Tambunan. Pundi-pundi kekayaan pegawai rendahan di direktorat Jenderal
Pajak, ini begitu mencengangkan. Dia mampu menimbun uang miliaran
Rupiah, ptoperti mewah, dan alat transportasi kelas premium.
Dari mana itu semua diperoleh Gayus ? Dan perolehan gajinya sebagai pegawai negeri sipil, jelas sangat-sangat tidak mungkin, sulit juga itu dikatakan adalah hasil warisan orangtua. Apalagi, kehidupan orangtuannya pun sangat bersahaja. Rekam jejak harta karun Gayus pun diketahui muaranya adalah dari sebuah prilaku jahat : Korupsi ! Pengadilanpun mengerangkeng pria yang selalu berpenampilan sederhana ini dengan pidana 12 tahun penjara.
Episode Gayus ternyata tidak berhenti. Adalah Dhana Widyatmika, pegawai Ditjen Pajak --sebelum akhirnya diblokir ke Dispenda DKI Jakarta-- yang juga punya prilaku sama dengan Gayus. PPATK menemukan rekening super gendut yang dimiliki pria asala malang, jawa timur, ini. Yang membuat kita tercengang, Dhana ternyata hanya pegawai berpangkat golongan II/C, namun pundi kekayaannya mencapai Rp 60 miliar !. Meski hanya pegawai ecek-ecek, pos yang ditempati Gayus maupun Dhana telah menjadikan keduanya 'sangat penting' di mata para wajib pajak. Khususnya, para pengusaha nakal yang bermasalah dalam hal perpajakan. Pendek kata, melalui jasa pegawai rendahan seperti Dhana ataupun Gayus, para pengusaha bisa membayarkan kewajibannya jauh lebih dari yang seharusnya mereka bayarkan. So pasti, disini jasa Dhana dan Gayus juga punya 'harga' yang pantas.
Jadi, tidak heran kalau kemudian kantong Gayus maupun Dhana menjadi begitu sesak. Setiap permasalahan pajak yang ditangani keduanya adalah 'bisnis' yang nilainya ratusan kali lipat dari gaji mereka sebagai pegawai negeri sipil. Dan, kita yakin 'bisnis' terselubung yang amat sarat dengan tindak pidana korupsi, pencucian uang. itu sudah berlangsung lama. Tidak satu atau dua tahunan. Dan, sangat mungkin dan patut diduga ada banyak person di Ditjen Pajak yang 'berpraktik' sama seperti Gayus dan Dhana.
Bagaimana pun kasus Gayus dan Dhana adalah contoh nyata yang terpapar di hadapan kita.Bahwa mafia pajak itu ada, itu harus diakui para petinggi di institusi pajak. Sangat disayangkan, mengapa institusi pajak yang berada di bawah Kementerian Keuangan, dan memperoleh previlege program renumerasi paling awal, ternyata masih ada person-person di dalamanya punya prilaku jahat. Padahal, dengan gaji yang di atas rata-rata di institusi lainya, pegawai dibawah kementerian keuangan jauh lebih subur.
Sebagai orang awan, kita tidak pernah tahu seberapa banyak sebenarnya dana dari pajak yang seharusnya masuk kas negara. Selama ini kita hanya disajikan dalam bentuk laporan oleh petinggi pajak bahwa untuk tahun ini kontribusi pajak sekian.....dan seterusnya. Tapi, kita tidak pernah tahu apakah semua itu sudah melalui hasil audit investigasi yang obyektif. Sebab, dari dua kasus Gayus dan Dahan, memberikan sinyal bahwa sejatinya ada 'ketidakberesan' dalam hal pengeplorasian masalah dana pajak.
Bagaimana pun kita meyakini bahwa skandal ini tidak akan berhenti pada seorang Gayus ataupun Dhana. Bakal masih ada sosok lain yang berprilaku sama, bahkan bukan tidak mungkin bobotnya jauh lebih heboh. Kenapa ? Ya, karena para pengusaha selalu berusaha agar kewajiban pajaknya tidak besar. Dan, ini tentunya bisa 'dibijaksanai' dengan siapa lagi kalau bukan mereka yang punya prilaku rakus di dalam internal pajak. Untuk bisa itu, tidak perlu jabatan tinggi. Cukup pegawai rendahan, tapi dia 'orang penting'.
Nyantai dulu, bersama dancer kecapaian promo XL ama EXTRAJOS dari berbagai kabupaten
Dari mana itu semua diperoleh Gayus ? Dan perolehan gajinya sebagai pegawai negeri sipil, jelas sangat-sangat tidak mungkin, sulit juga itu dikatakan adalah hasil warisan orangtua. Apalagi, kehidupan orangtuannya pun sangat bersahaja. Rekam jejak harta karun Gayus pun diketahui muaranya adalah dari sebuah prilaku jahat : Korupsi ! Pengadilanpun mengerangkeng pria yang selalu berpenampilan sederhana ini dengan pidana 12 tahun penjara.
Episode Gayus ternyata tidak berhenti. Adalah Dhana Widyatmika, pegawai Ditjen Pajak --sebelum akhirnya diblokir ke Dispenda DKI Jakarta-- yang juga punya prilaku sama dengan Gayus. PPATK menemukan rekening super gendut yang dimiliki pria asala malang, jawa timur, ini. Yang membuat kita tercengang, Dhana ternyata hanya pegawai berpangkat golongan II/C, namun pundi kekayaannya mencapai Rp 60 miliar !. Meski hanya pegawai ecek-ecek, pos yang ditempati Gayus maupun Dhana telah menjadikan keduanya 'sangat penting' di mata para wajib pajak. Khususnya, para pengusaha nakal yang bermasalah dalam hal perpajakan. Pendek kata, melalui jasa pegawai rendahan seperti Dhana ataupun Gayus, para pengusaha bisa membayarkan kewajibannya jauh lebih dari yang seharusnya mereka bayarkan. So pasti, disini jasa Dhana dan Gayus juga punya 'harga' yang pantas.
Jadi, tidak heran kalau kemudian kantong Gayus maupun Dhana menjadi begitu sesak. Setiap permasalahan pajak yang ditangani keduanya adalah 'bisnis' yang nilainya ratusan kali lipat dari gaji mereka sebagai pegawai negeri sipil. Dan, kita yakin 'bisnis' terselubung yang amat sarat dengan tindak pidana korupsi, pencucian uang. itu sudah berlangsung lama. Tidak satu atau dua tahunan. Dan, sangat mungkin dan patut diduga ada banyak person di Ditjen Pajak yang 'berpraktik' sama seperti Gayus dan Dhana.
Bagaimana pun kasus Gayus dan Dhana adalah contoh nyata yang terpapar di hadapan kita.Bahwa mafia pajak itu ada, itu harus diakui para petinggi di institusi pajak. Sangat disayangkan, mengapa institusi pajak yang berada di bawah Kementerian Keuangan, dan memperoleh previlege program renumerasi paling awal, ternyata masih ada person-person di dalamanya punya prilaku jahat. Padahal, dengan gaji yang di atas rata-rata di institusi lainya, pegawai dibawah kementerian keuangan jauh lebih subur.
Sebagai orang awan, kita tidak pernah tahu seberapa banyak sebenarnya dana dari pajak yang seharusnya masuk kas negara. Selama ini kita hanya disajikan dalam bentuk laporan oleh petinggi pajak bahwa untuk tahun ini kontribusi pajak sekian.....dan seterusnya. Tapi, kita tidak pernah tahu apakah semua itu sudah melalui hasil audit investigasi yang obyektif. Sebab, dari dua kasus Gayus dan Dahan, memberikan sinyal bahwa sejatinya ada 'ketidakberesan' dalam hal pengeplorasian masalah dana pajak.
Bagaimana pun kita meyakini bahwa skandal ini tidak akan berhenti pada seorang Gayus ataupun Dhana. Bakal masih ada sosok lain yang berprilaku sama, bahkan bukan tidak mungkin bobotnya jauh lebih heboh. Kenapa ? Ya, karena para pengusaha selalu berusaha agar kewajiban pajaknya tidak besar. Dan, ini tentunya bisa 'dibijaksanai' dengan siapa lagi kalau bukan mereka yang punya prilaku rakus di dalam internal pajak. Untuk bisa itu, tidak perlu jabatan tinggi. Cukup pegawai rendahan, tapi dia 'orang penting'.
Nyantai dulu, bersama dancer kecapaian promo XL ama EXTRAJOS dari berbagai kabupaten
No comments:
Post a Comment