CANDU SINETRON
Pada suatu kesibukan silam, saya menginap di apartemen seorang kawan
karib di Jakarta. Dia memiliki seorang anak usia lima tahun. Istrinya
adalah anak seorang bankir terkemuka. Sebagai keluarga kelas menengah
dan terpelajar, mereka hidup sejahtera. Tetapi saya heran, mereka tidak
memiliki televisi !. Kami bertetangga sejak sama-sama di Banjarnegara,
karena hubungan kami cukup deket, saya pun berani bertanya. "Mengapa
kamu tidak punya televisi ?. "Oh, itu sengaja. Saya Tidak ingin anak
kecanduan acara televisi. Itu tidak baik dan tidak sehat, " katanya.
Saya salut padanya, karena saya sendiri tidak bisa bersikap setegas itu, karena saya punya televisi 14' itu pun saya ngga saya kasih tv kabel maupun parabola hanya saya kasih dvd yang berhubngan dengan berhubungan wawasan untuk anak. saya masih memiliki televisi di rumah. Tetapi seperti halnya dia, saya juga khawatir akan bahaya kecanduan acara televisi. Kecanduan berarti suka secara berlebihan, sehingga orang keranjingan dan ketagihan. Sudah menjadi rumus, berlebihan dan melampaui kewajaran, adalah buruk.
Sebenarnya, kecanduan acara televisi bukan hanya bisa menimpa anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Misalnya, kecanduan menonton sinetron. Sinetron adalah singkatan dari sinema elektronik. meski diambil dari Bahasa Inggris(cinema dan electronics), istilah ini khas Indonesia. Dalam Bahasa Inggris, sinetron di sebut soap opera (opera sabun). Sedangkan dalam Bahasa Spanyol, dikenal dengan istilah telenovela.
Sinetron adalah cerita bersambung atau serial, umumnya bengangkat drama kehidupan sehari-hari yang diwarnai dengan konflik berkepanjanga, yang makin lama makin membesar dan rumit. Tokoh-tokohnya, dengan berbagai karakter yang unik, mula-mula diperkenalkan satu persatu hingga muncullah kekusutan hubungan antara mereka. Akhirnya ceritanya bisa bahagia, bisa pula duka lara.
Karena sifatnya bersambung, sinetron gampang membuat orang kecanduan. Apalgi dengan sengaja cerita diputus, tepat saat ketegangan memuncak, yang membuat penonton makin penasaran. Akibatnya, orang ingin terus-menerus mengikuti lanjutan ceritanya, tanpa mau ketinggalan satu episode pun. Padahal, episode sinetron bisa lebih dari seribu, dengan masa tayang hingga beberapa tahun.
Ensiklopedia elektrinik, Wikipedia, mencatat sinetron Tersanjung, ditayangkan selama 7 tahun, dari 10 April 1998 sampai 25 Februari 2005, denganjumlah 259 epiisode. Sedangkan sinetron Cinta Fitri mencapai 1.002 episode, dengan masa tayang 4 tahun, dari 2 april 2007 hingga 8 Mei 2011. Adapun sinetron Putri Yang Ditukar, diputar tanpa jeda dari 20 September 2010 hingga 25 November 2011, dengan 676 eposode. Anda bisa bayangka, apa yang terjadi jika orang kecanduan dinetron. Alangkah banyaknya waktu dan energi yang habis. Selama bertahun-tahun, emosi dan pikirannya diaduk-aduk oleh sinetron.
Jadwal kegiatannya harus disesuaikan dengan jadwal sinetron. Bahkan konon ada orang yang, jika terpakasa tidak bisa menonton satu episode saja, meminta keluarganya untuk merekamnya. Lalu apa yang kita dapatkan dari menonton sinetron ? Saya khawatir, tidak lebih dari sekedar hiburan. Cerita-cerita sinetron, umumnya tidak memberikan pendalaman makna hidup dan pencerahan jiwa. Yang ada hanyalah cerita tentang entrik-intrik cinta segitiga, kecengangan para tokohnya, perebutan harta warisan, khayalan-khayalan mistik yang tidak masuk akal, dan tindak kekerasan.
Sinetron juga suka menyajikan mimpi-mimpi indah. Para pemainnya biasanya amat cantuk dan ganteng, dengan pakaian, kendaraan dan rumah yang mewah. Bukankah semua ini berbanding terbalik dengan kenyataan hidup kebanyakan rakyat Indonesia ? Tetapi justru itulah yang membuat penonton hanyut terbuai. Semakin menderita hidup kita, semakin indah mimpi itu terasa. Inilah yang namanya candu.
Benar, bahwa manusia memerlukan hiburan. Tetapi hiburan bukanlah tujuan pada dirinya. Ia hanyalah jeda, selingandan rehat dari kelelahan. Ketika hiburan menjadi candu, ia sudah berubah menjadi tujuan. Ia bukannya mengisi kembali energi kehidupan, tetapi malah menguras energi itu sampai habis !

Saya salut padanya, karena saya sendiri tidak bisa bersikap setegas itu, karena saya punya televisi 14' itu pun saya ngga saya kasih tv kabel maupun parabola hanya saya kasih dvd yang berhubngan dengan berhubungan wawasan untuk anak. saya masih memiliki televisi di rumah. Tetapi seperti halnya dia, saya juga khawatir akan bahaya kecanduan acara televisi. Kecanduan berarti suka secara berlebihan, sehingga orang keranjingan dan ketagihan. Sudah menjadi rumus, berlebihan dan melampaui kewajaran, adalah buruk.
Sebenarnya, kecanduan acara televisi bukan hanya bisa menimpa anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Misalnya, kecanduan menonton sinetron. Sinetron adalah singkatan dari sinema elektronik. meski diambil dari Bahasa Inggris(cinema dan electronics), istilah ini khas Indonesia. Dalam Bahasa Inggris, sinetron di sebut soap opera (opera sabun). Sedangkan dalam Bahasa Spanyol, dikenal dengan istilah telenovela.
Sinetron adalah cerita bersambung atau serial, umumnya bengangkat drama kehidupan sehari-hari yang diwarnai dengan konflik berkepanjanga, yang makin lama makin membesar dan rumit. Tokoh-tokohnya, dengan berbagai karakter yang unik, mula-mula diperkenalkan satu persatu hingga muncullah kekusutan hubungan antara mereka. Akhirnya ceritanya bisa bahagia, bisa pula duka lara.
Karena sifatnya bersambung, sinetron gampang membuat orang kecanduan. Apalgi dengan sengaja cerita diputus, tepat saat ketegangan memuncak, yang membuat penonton makin penasaran. Akibatnya, orang ingin terus-menerus mengikuti lanjutan ceritanya, tanpa mau ketinggalan satu episode pun. Padahal, episode sinetron bisa lebih dari seribu, dengan masa tayang hingga beberapa tahun.
Ensiklopedia elektrinik, Wikipedia, mencatat sinetron Tersanjung, ditayangkan selama 7 tahun, dari 10 April 1998 sampai 25 Februari 2005, denganjumlah 259 epiisode. Sedangkan sinetron Cinta Fitri mencapai 1.002 episode, dengan masa tayang 4 tahun, dari 2 april 2007 hingga 8 Mei 2011. Adapun sinetron Putri Yang Ditukar, diputar tanpa jeda dari 20 September 2010 hingga 25 November 2011, dengan 676 eposode. Anda bisa bayangka, apa yang terjadi jika orang kecanduan dinetron. Alangkah banyaknya waktu dan energi yang habis. Selama bertahun-tahun, emosi dan pikirannya diaduk-aduk oleh sinetron.
Jadwal kegiatannya harus disesuaikan dengan jadwal sinetron. Bahkan konon ada orang yang, jika terpakasa tidak bisa menonton satu episode saja, meminta keluarganya untuk merekamnya. Lalu apa yang kita dapatkan dari menonton sinetron ? Saya khawatir, tidak lebih dari sekedar hiburan. Cerita-cerita sinetron, umumnya tidak memberikan pendalaman makna hidup dan pencerahan jiwa. Yang ada hanyalah cerita tentang entrik-intrik cinta segitiga, kecengangan para tokohnya, perebutan harta warisan, khayalan-khayalan mistik yang tidak masuk akal, dan tindak kekerasan.
Sinetron juga suka menyajikan mimpi-mimpi indah. Para pemainnya biasanya amat cantuk dan ganteng, dengan pakaian, kendaraan dan rumah yang mewah. Bukankah semua ini berbanding terbalik dengan kenyataan hidup kebanyakan rakyat Indonesia ? Tetapi justru itulah yang membuat penonton hanyut terbuai. Semakin menderita hidup kita, semakin indah mimpi itu terasa. Inilah yang namanya candu.
Benar, bahwa manusia memerlukan hiburan. Tetapi hiburan bukanlah tujuan pada dirinya. Ia hanyalah jeda, selingandan rehat dari kelelahan. Ketika hiburan menjadi candu, ia sudah berubah menjadi tujuan. Ia bukannya mengisi kembali energi kehidupan, tetapi malah menguras energi itu sampai habis !

No comments:
Post a Comment