MELARAT DAN NJADUL
AWAL tahun
1998 silam. Waktu itu, saya baru lulus S1 dari Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta Fakultas Pertanian. saya pergi keliling kota kelahiran
Banjarnegara Jawa Tengah dengan sepeda buntut BMX, merek sudah ngga
jelas lagi karena sudah termakan usia dan terlalu berat beban dalam
perjalanan kehidupan manusia, yang dulu saya sering memakai pada jaman
SMP sampai sekarang masih utuh dan setia menemani kami sekeluarga.
Ketika saya memarkir sepeda BMX itu, seseorang menyindir,"Sepeda jelek
begini, tak ada maling yang berminat." dan mungkin akan berkata kalau
tertabrak sepeda saya bisa kena virus infeksi kali ya ...hahahahaha..
"Syukur. Kalau begitu, saya tak khawatir," kata saya tersenyum. Sebenarnya, saya paham maksud dibalik sindiran itu. Dia sesungguhnya ingin mengatakan, percuma jauh-jauh sekolah ke luar daerah (Yogyakarta, malah sekarang merantau ke kalimantan lebih jauh lagi), tapi pulangnya tetap melarat. Kemana-mana masih terkena panas dan hujan, karena masih pakai sepeda buntut, yang modelnya sudah ketinggalan zaman pula. seharusnya, dalam pikiran dia, saya sudah pakai mobil, atau paling kurang, naik sepeda yang sedang ramai sekarang atau sepeda motor model terbaru.
Tak ada salahnya berharap, sukses studi (walau lulusan pas-pasan paling tidak bisa disebut sarjana...hahahaha) akan diikuti sukses materi. Yang jadi masalah adalah anggapan bahwa hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan. Akibatnya, muncullah pandangan soal kepantasan dan gengsi. "Sudah sarjana, kok masih jalan kaki ? sudah insinyur, kok masih naik Honda Jas (sepeda motor Honda pakai Jas Hujan) ?" begitulah komentar pahit yang kadang kita dengar.
Kita rupanya menilai orang, memantas-mantaskan orang, dengan barang yang dia pakai dan miliki. Seolah nilai diri seseorang akan jatuh, jika ia tidak memiliki benda yang sepantasnya dia miliki. Seolah kehormatan seseorang terletak pada penampilan lahirnya. Akibatnya, kualitas kepribadian seperti kejujuran, ketekunan, kepedulian, dan tanggung jawab, dengan mudah kita abaikan. Lebih buruk lagi, orang tidak mau tahu kalau segala sesuatu harus menjalani proses, tidak bisa sim salabim seperti sulap. Bukan hanya hidup miskin yang perlu kesabaran. Untuk mencapai hidup sejahtera, orang juga harus sabar. Berhasil dalam menjalani pendidikan, belum tentu berhasil saat bekerja, karena masing-masing adalah medan yang berbeda. Keduanya membutuhkan proses.
Tetapi manusia modern memang sudah terbiasa dengan jalan pintas, menerabas batas-batas. Tanpa harus mendaki, dengan helikopter, orang bisa sampai puncak gunung yang tinggi. Teknologi telah memudahkan dan, mempercepat proses alamiah yang sebelumnya harus dilalui dengan susah payah. Teknologi memang banyak membantu manusia dalam proses mewujudkan berbagai keinginannya. Tetapi rupanya, kemampuan teknologi mempercepat proses alamiah itu akhirnya menimbulkan suatu pola pikir yang tidak sabaran dan seba instan. Orang ingin cepat pintar, kaya, terkenal dan berkuasa, melalui proses yang semudah-mudahnya. Buat apa pula susah-susah, jika masyarakat sendiri hanya akan melihat dan menghargai hasil akhirnya, bukan prosesnya ?
Demikianlah, materialisme kawin dengan pragmatisme. Semangat menimbun benda berpadu mesra dengan sifat tak sabaran manusia. Inilah pangkal dari pola hidup konsumtif di era kapitalis yang melanda dunia saat ini. Keserakahan itu akhirnya melahirkan penguasa yang korup, pengusaha yang memeras pekerja, atau orang biasa yang hidupnya terlilit hutang, karena besar pasak dari pada tiang. Namun apapun kecenderungan umum di masyarakat, sebagai pribadi kita tetap memiliki kebebasan untuk memilih. Anda bisa menjadi orang yang boros atau hemat. Anda bisa membeli barang mewah karena gengsi, atau membeli yang sederhana, asal bisa memenuhi kebutuhan Anda. Anda bisa mensyukuri sesuatu yang sekarang Anda miliki, atau mengeluh karena terus merasa kekurangan.
Di atas segalanya, orang yang paling hebat adalah, yang hatinya tidak terikat pada apapun yang ia miliki. Ia sadar bahwa segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri, adalah milik Sang Pencipta. Ia merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun. Dialah orang yang hatinya paling bebas dan bahagia di dunia ini. Tetapi kita mungkin belum bisa menjadi orang semacam itu. Lantas kita termasuk jenis mana?

"Syukur. Kalau begitu, saya tak khawatir," kata saya tersenyum. Sebenarnya, saya paham maksud dibalik sindiran itu. Dia sesungguhnya ingin mengatakan, percuma jauh-jauh sekolah ke luar daerah (Yogyakarta, malah sekarang merantau ke kalimantan lebih jauh lagi), tapi pulangnya tetap melarat. Kemana-mana masih terkena panas dan hujan, karena masih pakai sepeda buntut, yang modelnya sudah ketinggalan zaman pula. seharusnya, dalam pikiran dia, saya sudah pakai mobil, atau paling kurang, naik sepeda yang sedang ramai sekarang atau sepeda motor model terbaru.
Tak ada salahnya berharap, sukses studi (walau lulusan pas-pasan paling tidak bisa disebut sarjana...hahahaha) akan diikuti sukses materi. Yang jadi masalah adalah anggapan bahwa hubungan antara keduanya merupakan suatu keharusan. Akibatnya, muncullah pandangan soal kepantasan dan gengsi. "Sudah sarjana, kok masih jalan kaki ? sudah insinyur, kok masih naik Honda Jas (sepeda motor Honda pakai Jas Hujan) ?" begitulah komentar pahit yang kadang kita dengar.
Kita rupanya menilai orang, memantas-mantaskan orang, dengan barang yang dia pakai dan miliki. Seolah nilai diri seseorang akan jatuh, jika ia tidak memiliki benda yang sepantasnya dia miliki. Seolah kehormatan seseorang terletak pada penampilan lahirnya. Akibatnya, kualitas kepribadian seperti kejujuran, ketekunan, kepedulian, dan tanggung jawab, dengan mudah kita abaikan. Lebih buruk lagi, orang tidak mau tahu kalau segala sesuatu harus menjalani proses, tidak bisa sim salabim seperti sulap. Bukan hanya hidup miskin yang perlu kesabaran. Untuk mencapai hidup sejahtera, orang juga harus sabar. Berhasil dalam menjalani pendidikan, belum tentu berhasil saat bekerja, karena masing-masing adalah medan yang berbeda. Keduanya membutuhkan proses.
Tetapi manusia modern memang sudah terbiasa dengan jalan pintas, menerabas batas-batas. Tanpa harus mendaki, dengan helikopter, orang bisa sampai puncak gunung yang tinggi. Teknologi telah memudahkan dan, mempercepat proses alamiah yang sebelumnya harus dilalui dengan susah payah. Teknologi memang banyak membantu manusia dalam proses mewujudkan berbagai keinginannya. Tetapi rupanya, kemampuan teknologi mempercepat proses alamiah itu akhirnya menimbulkan suatu pola pikir yang tidak sabaran dan seba instan. Orang ingin cepat pintar, kaya, terkenal dan berkuasa, melalui proses yang semudah-mudahnya. Buat apa pula susah-susah, jika masyarakat sendiri hanya akan melihat dan menghargai hasil akhirnya, bukan prosesnya ?
Demikianlah, materialisme kawin dengan pragmatisme. Semangat menimbun benda berpadu mesra dengan sifat tak sabaran manusia. Inilah pangkal dari pola hidup konsumtif di era kapitalis yang melanda dunia saat ini. Keserakahan itu akhirnya melahirkan penguasa yang korup, pengusaha yang memeras pekerja, atau orang biasa yang hidupnya terlilit hutang, karena besar pasak dari pada tiang. Namun apapun kecenderungan umum di masyarakat, sebagai pribadi kita tetap memiliki kebebasan untuk memilih. Anda bisa menjadi orang yang boros atau hemat. Anda bisa membeli barang mewah karena gengsi, atau membeli yang sederhana, asal bisa memenuhi kebutuhan Anda. Anda bisa mensyukuri sesuatu yang sekarang Anda miliki, atau mengeluh karena terus merasa kekurangan.
Di atas segalanya, orang yang paling hebat adalah, yang hatinya tidak terikat pada apapun yang ia miliki. Ia sadar bahwa segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri, adalah milik Sang Pencipta. Ia merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun. Dialah orang yang hatinya paling bebas dan bahagia di dunia ini. Tetapi kita mungkin belum bisa menjadi orang semacam itu. Lantas kita termasuk jenis mana?

No comments:
Post a Comment