Sunday, 8 February 2015

ADA UANG, ABANG SAYANG.TAK ADA UANG, ABANG DITENDANG

ADA UANG, ABANG SAYANG.TAK ADA UANG, ABANG DITENDANG

     Jurus demi jurus bisa di umbarnya karen sesuatu tujuan, gak munafik mana ada lelaki normal yang tak tertarik pada wanita cantik dan mana ada wanita normal yang tak tertarik pada ketampanan lelaki ? Namun, tersangka korupsi impor daging sapi, bukan hanya tertarik, melainkan juga royal kepada wanita. Maharani Suciyono, diberi Fathanah Rp 10 juta saat menemaninya di hotel Le Meridien, Jakarta. Artis Ayu Azhari di kasih 20 juta dan 1.800 dolar AS. Foto model Vitalia Sesha dihadiahi mobil Honda Jazz dan arloji Chopard. Penyanyi Tri Kurnia Puspita diberi mobilHonda Freed, jam tangan Rolex dan gelang Hermes. Sedang istri mudanya , Septi Sanustika, dubelikan rumah seharga Rp. 5,8 miliar (sudah dibayar Rp Rp. 3,8 miliar).
      Begitulah rupanya uang dihambur-hamburkan para koruptor di negeri ini. Mereka sangat royal kepada perempuan-perempuan berparas elok dan bertubuh seksi. Mereka tampaknya sadar, uang bisa menjadi jimat pemikat yang amat dasyat. Biarpun tampang paspasan, kalau uang sudah bicara, wanita-wanita cantik akan banyak yang suka. Ada uang, Abang sayang. Tak ada uang, abang ditendang.
     Akar dari semua ini adalah pandangan hidup yang materialistis, yang menganggap nilai hidup manusia terletak pada benda-benda yang dimilikinya. Kadang kita mendengar istilah 'cewek matre'. Padahal, materialisme tidak mengenal jenis kelamin. Dalam kasus diatas, demi materi, si lelaki mau melakukan korupsi, kemudian hasil korupsi itu ia gunakan sebagai umpan untuk menjerat perempuan.
    Sikap materialistis itu mungkin lebih kuat pada diri lelaki, jika ia melihat wanita hanya sebagai daging dan tulang yang berbentuk indah. Ia tidak peduli pada sisi ruhani wanita, seperti pengetahuan dan kebaikan budi , yang sebenarnya lebih langgeng dibandingkan tubuhnya yang cepat rapuh di telan usia. Wanita dilihatnya laksana bunga belaka. Kala mekar dipuja sayang, tapi setelah layu, segera dibuang. dengan berbagai kasus mengajarkan kepada kita bahwa akibat dari pemujaan harta dan wanita tiada lain daripada penghancuran kemanusiaan itu sendiri. Manusia tidak lagi menjadi manusia. Ia bagai hewan atau malah lebih rendah. Lantas, bagaimanakah jika ia seorang pemimpin ?
    

No comments:

Post a Comment