Sunday, 8 February 2015

JAJANAN SARKEM

JAJANAN SARKEM

     JAJAN adalah sarapan kedua, dessert atau cuci mulut sesudah makan siang, dan alat untuk mancal kemul atau penendang selimut sebelum tidur. Bagaimana hebat dan bertubi-tubi indoktrinasi yang telah kita dapat sejak kecil bahwa jajan adalah tidak baik karena airnya mentah, makananya tidak ditutup tudung baik karena itu penuh dengan debu, gizinya cuma sedikit, tempat nangkring lalat membawa penyakit, toh dengan gembira kita lawan indoktrinasi itu. Seakan-akan indoktrinasi yang sudah berdasar penelitian dan penemuan ilmiah itu omongan gombal saja. Korban besar atau kecil, perut mules atau mencret bahkan meninggal, tidak pernah membuat kita jera.
     Kita jajan dan jajan. Dan sepertinya unu merupakan persekokolan internasional melawan fatwa-fatwa tentang higiene dan kesehatan, diseluruh dunia, baik yang kesatu, kedua atau yang ketiga, orang gemar melahap jajanan itu. Dan wish relish dengan nikmat !
     Lihat saja Meryl Streep dalam Falling in Love. Dengan sedapnya aktris dasyat itu melahap hot-dog jalanan sembari terus minta tambah sambal chili kepada penjajanya. Padahal disamping indoktrinasi di sekolah, majalah Consumer's Report yang sangat berwibawa di Amerika itu tidak jeranya memperingatkan khalayak akan kotor dan tidak higienisnya makanan hot-dog atau hamburger jalanan itu.
     Bahkan untuk makanan rakyat atau makanan jalanan itu, mereka menciptakan istilah junk food. Makanan sampah ! makanan rongsokan ! Toh rakyat Amerika terus melahap makanan rongsokan itu di jalan-jalan. Restoran-restoran yang canggih di negara itu yang mengangkat hamburger dalam menu mereka dengan, misalnya, mereka seperti hamburger with college education tidak pernah dapat mengusir hot-dog dan hamburger dari jalanan. Mereka tumbuh terus dengan suburnya. Ilalang tidak pernah punah, kata pepatah Belanda
    Di Indonesia adanya jajanan yang semakin menjamur dari waktu ke waktu masih tertahan karena alasan untuk mata pencaharianya kaum cilik. sudah tidak terhitung untuk merazia makanan yang mengandung borak atau makanan dengan dasyatnya pengawet tapi tetap menjamur bagai tumbuhnya jamur di musim hujan yang tidak bisa di brantas walau secara sparadis pun akan tumbuh 100 kalinya. jajanan di Indonesia bahkan banyak aneka dan sangat menarik untuk dinikmati baik oleh mata maupun mulut, walau seburuk rupa pun masih tetap masih bisa di nikmat penjajan atau konsumen. Banyak makanan jalanan di Indonesia yaitu es tung-tung, es lilin, dawet ayu khas Banjarnegara, cilok atau pentol yang penuh pewarna dan penawet, sajian angkringan khas Jogja, dan lain-lain. Makanan kaum cilik atau merakyat yang tiada matinya karena tuntutan jaman atau karena perut, entahlah..................

No comments:

Post a Comment