Monday, 9 February 2015

KRITIK YANG MENGELITIK

KRITIK YANG MENGELITIK

      “AH, dasar orang Indonesia, susah diatur,” katanya ketus. Ia kesal melihat perilaku para pembeli di sebuah kedai makanan, yang tak mau antre bergiliran, melainkan berebut minta dilayani terlebih dahulu. Kawan kita yang gusar ini, sebenarnya juga orang Indonesia. Saya cukup sering mendengar kritik orang Indonesia terhadap perilaku orang Indonesia sendiri. Seorang kawan lain yang kini menetap di Yogyakarta mengatakn, orang Indonesia umumnya suka tampil mewah dan trendi.” Lihat saja pakaian, telepon genggam, laptop, tablet, sepeda motor dan mobil yang k\mereka pakai, umumnya tergolong mahal dan model terbaru,” katanya.
     Kalau melawak denganmenghina diri sendiri lebih sehat daripada menghina orang lain, begitu juga kritik terhadap suku sendiri lebih mudah diterima daripada terhadap suku lain. Kalau kritik itu datang dari orang lain, si pengkritik bisa-bisa dituduh rasis. Namun jika kritik itu disampaikan oleh seorang sahabat, meskipun ia tidak berasal dari suku yang sama, mungkin masih bisa diterimadangan lapang dada.
     Mahbub Djunaidi, politisi PPP dan kolumnis terkenal di masa orde baru, adlah sahabat karib M Laily Mansur, dosen Fakultas Ushhuluddin yang pernah menjabat Kepala Kanwil Departemen Agama Kalsel. Suatu hari, Mahbub bilang padanya, “Di berbagai pertemuan nasional, orang Jawa, Aceh, Minang, Batak, dan Bugis, sering bicara lantang dan berani. Tapi orang Kita, hanya tukang dengar.”
      Tentu masih banyak lagi kritik orang yang sering kita dengar terhadap perilaku orang kita. Kita boleh setuju, boleh pula tidak. Boleh jadi, kritik itu berlebihan. Perilaku satu atau beberapa orang kita sudah dianggap mewakili keseluruhan. Mungkin pula, kritik itu lahir dari stereotip, yaitu prasangka-prasangka buruk dalam hubungan antar kelompok di masyarakat. Tapi bisa jadi, kritik itu mengandung kebenaran. Disisi lain, kritik-kritik yang dialamatkan ke orang kita itu, bisa pula ditujukan kepada suku-suku lain di Indonesia. Perilaku tidak mau antre, suku bergaya dengan penampilan mewah, atau tak berani bicara menuntut hak, tampaknya bida dikenakan ke banyak orang, bukan hanya orang kita.
     Pada 1974. Antropolologi Indonesia, Koentjaraningrat, menulis tentang beberapa mentalitas masyarakat Indonesia yang membuat mereka sulit maju. Menurutnya, mereka kurang peduli pada mutu dan suka mencari jalan pintas. Mereka beorentasi ke atas, kesenior, ke pembesar, yang selalu diminta restu. Akibatnya, mereka menjadi tak percaya diri, tak berani beinisiatif, suka melempar tanggung jawab, dan kalau berdisiplin bukan karena kesadaran, melainkan karena takut pada atasan.
     Kini kita sudah berada di tahun 2013. Apakah mentalitas yang disebutkan Koentjaraningrat itu masih terasa di lingkungan kita?. Saya khawatir, hingga sekarang, masih belum banyak terjadi perubahan, baik di Indonesia secara umum, maupun di kalangan warga kita sendiri......

No comments:

Post a Comment