Sunday, 8 February 2015

MAU MUDIK NO KARDUS

MAU MUDIK NO KARDUS

     SEJAK  dulu barang ini sangat populer di masyarakat, hanya saja pemakaianya belum se-masal sekarang. Saat ini tidak ada paking atau pembungkus yang tidak memerlukan kardus, semua pakai mulai makanan, minuman, barang elektronik sampai tempat tidur. Semua dibungkus pakai kardus. Untuk ekspor-impor pun minta jasa kardus pula, mudik lebaran pakai kardus, potongan tubuh yang dimutilasi pun dibungkusnya pakai kardus, bom juga dibawa pakai kardus.
     Begitu pentingnya sampai-sampai kardus bekas pun masih dipakai. Lihat saja, hampir separuh begasi pesawat terbang dibawa pakai kardus. Belum lagi yang pakai kereta api, bus bahkan mobil pribadi. Kardus-kardus yang sudah tidak dipakai, sudah rusak, nyaris tak berbentuk jangan dibuang karena masih bisa didaur ulang dengan harga masih lumayan. Ada pemulung yang datang untuk membeli, itu kalau tidak keduluan tukang parkir untuk menutup kaca-kaca mobil dan sedel sepeda motor.
     Di zaman modern sekarang, di mana orang yang mencari aman memilih transfer uangnya pakai rekening bank, masih ada juga yang memakai jasa kardus. Nggak percaya ? Para terduga koruptor atau penyuap yang tertangkap basah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rata-rata memakai kardus untuk menyimpan uangnya. Kesannya tak mencurigakan. Makelar proyek yang banyak bekerja sama dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Ahmad Fathanah terpergok KPK membawa uang Rp 1 miliar yang diduga untuk Presiden PKS (waktu itu), Luthfi Hasan Ishaaq juga menenteng kardus untuk menyimpan uangnya.
      Maunya sih dengan kardus orang tidak curiga, tapi karena kasusnya telah sering orang pun lebih curiga dengan yang bawa kardus dari pada tas buatan luar negeri berharga mahal. Para anggota DPR yang pernah berurusan dengan KPK sudah sangat akrab dengan kardus bekas. Ketika penggunaan rekening bank masih aman, tidak masalah. Begitu korupsi mulai santer terdeteksi, transfer pakai rekening ditinggalkan. Orang mulai pakai uang tunai. Caranya agar tidak mencurigakan ya pakai kardus, mi instan atau air mineral. Untuk membedakan siapa menerima berapa, cukup ditandai dengan kode-kode atau dengan warna-warna tertentu.
     Orang-orang DPR cukup banyak pengalaman soal ini. mantan Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Djoko Susilo yang kini tersangka korupsi pembelian alat simulator SIM, membayar hampir semua transaksi dari 35 unit properti dan 3 SPBU dengan uang tunai. Uang dibawa dalam kardus ke bank untuk dikirim sebagai setoran tunai. Para pegawai Ditjen Pajak yang belakangan tertangkap tangan menerima suap menggunakan jasa kardus.
     Bagaimana dengan anda dalam deket-deket ini mau mudik atau bepergian kesesuatu tempat apakah masih pakai jasa kardus, hati-hati kalau anda sudah di ikuti KPK kalau anda termasuk dalam jaringan yang harus di periksa oleh KPK, semoga aja tidak terjadi kepada anda dan semoga saja perjalanan anda sampai tujuan saja dan tidak di ikuti olek KPK yang bikin anda tidak aman. karena KPK ini bisa muncul sewaktu-waktu bahkan bikin anda terkejut setengah mati yang bikin spot jantung. (KPK disini artinya = Kelompok Pengumpul Kardus). saran = pakai durian sebagai bawaan anda akan terlindungi, aman dan semua akan terbuai baunya,......hahahahahah......

No comments:

Post a Comment