Sunday, 8 February 2015

NYAWANG WONG LIWAT

NYAWANG WONG LIWAT

     APAKAH Anda sore-sore meluangkan waktu Anda dengan duduk-duduk nglaras di beranda, sembari nyeruput teh ginastel atau Kopi+susu, legi-panas-kental, atau teh dengan kebo nderum, kebau berendam di air, atau teh dengan gula batu yang dibiarkan menggeletak tanpa diusik oleh sendok ? Waktu begitu langit mulai temaram dibarat, angin mulai teduh, semilir sejuk. Anak-anak sudah mandi main di pelataran rumah, Anda berdua nyeruput lagi sesendok, dua sendok, seteguk, sruup, sruup. Kadang-kadang tangan Anda akan merogoh stoples memancing kue kering atau kacang gorengan. terus kriuk, kriuk, kriuk, kriuk. Memandang ke pelataran. Ah, anak-anak masih ceria bermain.
     Betulkah Anda masih melewati sore-sore Anda dalam panorama yang demikian ? Kalau begitu Anda adalah sisa-sisa turunan laskar priyayi beambenstat, negara teater birokasi. Bagaimana tidak ! Itulah modal rileks zaman penjajahan dulu. Tidur siang antara pukul dua hingga pukul setengah empat atau empat sore. Sisa waktu menjelang matahari terbenam itulah waktu nglaras sore-sore gaya para elite birokasi di negeri tropis.
     Jelas itu bukan warisan nenek moyang petani tradisional kita. Sore-sore begitu pak tani berada di sawah mereka untuk ronde kedua sesudah makan siang dan istirahat sebentar mereka. Sore-sore begitu pak tani turun lagi ke sawah untuk mengecek macam-macam keadaan di sawah mereka. Melihat parit sawah, melihat memedi sawah sarat dihinggapi burung atau tidak, melihat apakah tikus-tikus sawah sudah mulai bermunculan dan sebagainya lagi. Waktu pulang matahari sudah nyaris terbenam. Kaki dan tangan mereka mungkin sudah belepot lumpur. Pasca senja adalah waktu untuk langsung saja makan malam yang biasanya juga sederhana, omong-omong dengan keluarga terus langsung masuk sentong untuk tidur.
     Hidup rutin para petani kita mungkin masih mirip betul dengan dunia Gelombang Pertama dari Alvin Toffler pada awal-awal perkembangan dulu. Atau tidak ? Sebab sekarang sudah ada KUD, PKK dan sebagainya itu. Mosok rutinnya masih begitu saja ? Bagaimanapun kesibukan itu adalah tetap sulit untuk membayangkan pak tani melewatkan sore-sore mereka dengan nyuruput tek ginastel atau kopi+susu sembari memandangi anak-anak mereka yang main di pelataran rumah.
      Banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati atau menyatakan tidak merasa apa-apa mengalami menjadi bagian dari satu panorama jagad yang dasyat itu. Kalau Mao Zedong gelisah menjelang kematiannya dengan mengumumkan secara puitis : Langit sudah merah semua, tetapi siapa yang akan menjaga ?

No comments:

Post a Comment