Monday, 9 February 2015

RUWETNYA UN (Untung Nyata)

RUWETNYA UN (Untung Nyata)

     Dulu saya waktu SD sama temen-temen sempat pusing dan stres sebagai kelinci percobaan dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) tahun 1985. Nah, tahun ini keadaannya lain lagi. Siswanya siap tapi penyelenggaraannya amburadul. soal-soal ujian bukan saja belum sampai ke daerah tapi malah ada yang belum cetak.
     Belum pernah terjadi peyelenggaraan ujian nasional seboborok sekarang ini. Akibatnya waktu ujian tidak bisa serentak, ada yang mundur sehari, dua hari bahkan ada yang mengambil waktu bersamaan ujian susulan. Itu karena distribusi soal yang tidak bisa tepat, jumlahnya juga ada yang kurang tidak sesuai jumlah peserta.
     Mendikbud akhirnya mengizinkan sekolah yang kekurangan soal memfotocopi sendiri kekurangannya. Celakanya sekolah di pedalaman tidak gampang mendapatkan jasa forocopi. Mendikbud Muhammad Nuh juga sempat meninjau percetakan yang sampai hari H belum selesai mencetak soal, belum lagi distribusinya.
     Mengapa dulu-dulu beres tapi sekarang tidak ? Jujur saja karena ada perubahan kebijakan yang menyangkut percetakan soal ujian. Dulu percetakan soal bisa ditenderkan di daerah, percetakan bertanggung jawab sampai ke pendistribusiannya. Karena di daerah sendiri otomatis lebih mudah karena paham dengan berbagai kesulitan yang ada. Komunikasi dengan Dinas Pendidikan juga lebih gampang.
     Tapi itu kisah lama, sekarang semua ditarik ke pusat. Pusatlah yang menunjuk konsorsium untuk mengurus percetakan soal ujian sampai distribusinya. Tanpa berprasangka buruk, dari dulu tender memang selalu menyimpan rahasia. Ada tender yang menyertakan pula perusahaan-perusahaan bodong untuk memenangkan perusahaan tertentu dan ini tidak gratis, ada honornya (untuk mengganti istilah suap).
     Perusahaan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin memenangkan tender pembangunan wisma atlet di Palembang juga dengan 'dukungan' perusahaan pengembira, miliknya juga, disamping dukungan Badan Anggaran (Banggar) DPR.
     Anggaran mencetak soal ujian tahun ini Rp 125 miliar untuk 12,2 juta siswa. Seandainya daerah dilibatkan mungkin ceritanya lain. Kasihan murid, mental mereka runtuh. Kalau tidak lulus tentu bukan kesalahan mereka semata.
     Ini baru untuk ujian SMA/sederajat. Hari ini Senin UN tingkat SMP juga digelar. Lebih baik atau lebih buruk, kita tunggu saja. UN Ibarat horor bagi peserta tapi menyenangkan bagi pemenang tender dan orang-orang yang 'berjasa'. Ada horor ada honor.

No comments:

Post a Comment