SEBENTAR2 SELAMATAN
KITA memang suka selametan, yang disebut manyalamat / basalamat.
Selain sebagai ritual tahap-tahap hidup dari lahir, sunatan, kawin,
umroh, haji hingga mati, orang kita juga berselamatan ketika mendapat
nikmat, seperti lulus ujian, lulus tes CPNS, naik pangkat, menduduki
jabatan, dan seterusnya.
Sesuai kata kata dikandung, selamatan adalah upacara untuk mendapat keselamatan hidup, di dunia dan akhirat. Kata 'selamat' berasal dari Bahasa Arab, salamat, yang artinya keselamatan, kesejahteraaan dan kedamaian. Sekedar dengan kata salamah adalah kata Islam yang merupakan nama agama, yang secara harfiah berarti menyelamatkan atau menyerahkan diri (kepada Tuhan).
Tetapi secara sosial, selamatan bisa berarti unjuk keberhasilan atau dalam istilah beragak. Dalam budaya kita, menyombongkan diri dengan keberhasilan cenderung dicela, tetapi beragak yang dibungkus upacara menyalamat relatif dapat diterima karena adanya kesan berbagi keberhasilan dan kebahagiaan. Melalui manyalamat, kesuksesan pribadi seolah berubah menjadi milik bersama.
Tapi jangan Anda kira selamatan hanya dilakukan masyarakat tradisional. Orang-orang yang katanya modern, juga suka melakukannya. Misalnya, banyak orang sekarang yang tiap tahun melaksanakan persta ulang tahun. Begitu pula, diakhir tahun pelajaran, banyak sekolah yang mengadakan upacara perpisahan. Perhatikan pula upacara wisuda sarjana yang rutin dilaksanakan oleh perguruan tinggi.
Pemerintah kita juga suka selamatan. Sepanjang tahun, banyak sekali hari penting yang diperingati. Ada Hari Kemerdekaan, Hari Pendidikan, Hari pahlawan, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pancasila dan lain-lain. Pada 30 Mei 2013 lalu di Banjarbaru Kalimantan Selatan diperingati Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke-10 dan Hari Kesatuan Gerakan PKK Nasional, ada lagi hari jadi kotabaru kalsel kemarin tanggal 1 juni 2013 dan hari propinsi.
Selain memperingati hari-hari penting, pejabat pemerintah kita sering pula membuka dan menitip berbagai kegiatan, dari acara pertemuan para birokrat hingga Pekan Olahraga dan Musabaqah Tilawatil Quran. Selain itu, ada lagi manyalamat peletakan batu pertama atau peresmian berbagai proyek, dari gedung, jalan, jembatan hingga instalasi listrik. Pendek kata, pejabat kita cukup sibuk selamatan. Upacara selamatan jelas menguras tenaga dan biaya. Dalam mayalamat model tradisional, sekurang-kurangnya tuan rumah menyediakan makanan dan minuman. jika ia orang kaya, sajian yang disuguhkan biasanya juga istumewa.
Apalagi jika tuan tumah mengundang seorang tokoh agama terkemuka, yang kalau pulang bisanya bukan hanya dikasih sangu makanan, melainkan juga amplop berisi uang. Begitu pula selamatan model modern. Pesta ulang tahun tidak hanya menyedot biaya dari orang yang berulang tahun, tetapi juga dari para undangan yang menurut kebiasaan memberi kado. Apa lagi upacara perpisahan sekolah dan wisuda, jelas tidak hanya perlu makanan, tetapi juga sewa gedung atau restoran mewah, pakaian, syuting vidio, fotografer, hingga latihan untuk mengisi rupa-rupa acara.
Selamatan ala pemerintah lebih rumit lagi, karena menyangkut protokol. Biaya yang dikeluarkan juga seringkali besar. Biaya kembang api saja untuk pembukaan MTQ atau hari jadi daerah bisa mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi biaya keamanan, trasportasi, akomodasi dan konsumsi. Karena itu wajar jika selamatan nasional di Banjarbaru kemarin konon menelan biaya hingga Rp 5 miliar.
Karena itu, selamatan ala rakyat biasa, kalau pun dianggap tidak produktif, tidaklah sebanding dengan biaya selamatan alias pesta ala orang-orang kaya. Apalagi jika dibandingkan selamatan ala pejabat pemerintah. Anda bisa bayangkan, betapa banyak yang bisa dilakukan dengan uang ratusan juta hingga miliaran itu, untuk hal-hal yang lebih penting, misalnya beasiswa untuk anak-anak miskin. Jadi, Kita miskin karena kaum berduit dan bekuasa suka selametan !

Sesuai kata kata dikandung, selamatan adalah upacara untuk mendapat keselamatan hidup, di dunia dan akhirat. Kata 'selamat' berasal dari Bahasa Arab, salamat, yang artinya keselamatan, kesejahteraaan dan kedamaian. Sekedar dengan kata salamah adalah kata Islam yang merupakan nama agama, yang secara harfiah berarti menyelamatkan atau menyerahkan diri (kepada Tuhan).
Tetapi secara sosial, selamatan bisa berarti unjuk keberhasilan atau dalam istilah beragak. Dalam budaya kita, menyombongkan diri dengan keberhasilan cenderung dicela, tetapi beragak yang dibungkus upacara menyalamat relatif dapat diterima karena adanya kesan berbagi keberhasilan dan kebahagiaan. Melalui manyalamat, kesuksesan pribadi seolah berubah menjadi milik bersama.
Tapi jangan Anda kira selamatan hanya dilakukan masyarakat tradisional. Orang-orang yang katanya modern, juga suka melakukannya. Misalnya, banyak orang sekarang yang tiap tahun melaksanakan persta ulang tahun. Begitu pula, diakhir tahun pelajaran, banyak sekolah yang mengadakan upacara perpisahan. Perhatikan pula upacara wisuda sarjana yang rutin dilaksanakan oleh perguruan tinggi.
Pemerintah kita juga suka selamatan. Sepanjang tahun, banyak sekali hari penting yang diperingati. Ada Hari Kemerdekaan, Hari Pendidikan, Hari pahlawan, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pancasila dan lain-lain. Pada 30 Mei 2013 lalu di Banjarbaru Kalimantan Selatan diperingati Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke-10 dan Hari Kesatuan Gerakan PKK Nasional, ada lagi hari jadi kotabaru kalsel kemarin tanggal 1 juni 2013 dan hari propinsi.
Selain memperingati hari-hari penting, pejabat pemerintah kita sering pula membuka dan menitip berbagai kegiatan, dari acara pertemuan para birokrat hingga Pekan Olahraga dan Musabaqah Tilawatil Quran. Selain itu, ada lagi manyalamat peletakan batu pertama atau peresmian berbagai proyek, dari gedung, jalan, jembatan hingga instalasi listrik. Pendek kata, pejabat kita cukup sibuk selamatan. Upacara selamatan jelas menguras tenaga dan biaya. Dalam mayalamat model tradisional, sekurang-kurangnya tuan rumah menyediakan makanan dan minuman. jika ia orang kaya, sajian yang disuguhkan biasanya juga istumewa.
Apalagi jika tuan tumah mengundang seorang tokoh agama terkemuka, yang kalau pulang bisanya bukan hanya dikasih sangu makanan, melainkan juga amplop berisi uang. Begitu pula selamatan model modern. Pesta ulang tahun tidak hanya menyedot biaya dari orang yang berulang tahun, tetapi juga dari para undangan yang menurut kebiasaan memberi kado. Apa lagi upacara perpisahan sekolah dan wisuda, jelas tidak hanya perlu makanan, tetapi juga sewa gedung atau restoran mewah, pakaian, syuting vidio, fotografer, hingga latihan untuk mengisi rupa-rupa acara.
Selamatan ala pemerintah lebih rumit lagi, karena menyangkut protokol. Biaya yang dikeluarkan juga seringkali besar. Biaya kembang api saja untuk pembukaan MTQ atau hari jadi daerah bisa mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi biaya keamanan, trasportasi, akomodasi dan konsumsi. Karena itu wajar jika selamatan nasional di Banjarbaru kemarin konon menelan biaya hingga Rp 5 miliar.
Karena itu, selamatan ala rakyat biasa, kalau pun dianggap tidak produktif, tidaklah sebanding dengan biaya selamatan alias pesta ala orang-orang kaya. Apalagi jika dibandingkan selamatan ala pejabat pemerintah. Anda bisa bayangkan, betapa banyak yang bisa dilakukan dengan uang ratusan juta hingga miliaran itu, untuk hal-hal yang lebih penting, misalnya beasiswa untuk anak-anak miskin. Jadi, Kita miskin karena kaum berduit dan bekuasa suka selametan !

No comments:
Post a Comment