SOK SUCI
SETIA
adalah kebalikan dari selingkuh. Tetapi suatu hari, saya menerima
permintaan berteman di facebook dari seseorang yang mengaku bekerja di
PT Setia (Selingkuh Tiada Akhir). Penjelasan dalam tanda kurung itu
membuat saya tersenyum. Paradoks memang sering kita temuai dalam hidup
ini, lebih-lebih di ranah kekuasaan. Katanya berjuang demi rakyat,
padahal demi diri sendiri, Katanya pemimpin itu melayani. ternyata
justru minta dilayani. Katanya menyimbang, padahal politik uang.
Katanya studi banding, padahal jalan-jalan. Katanya melawan preman,
ternyata berkawan preman. Katanya penegak hukum, ternyata penjual
hukum.
Begitu pula di ranah sosial. Katanya organisasi untuk mengabdi, ternyata untuk menhidupi diri sendiri. Katanya pendidikan untuk mencerdaskan, ternyata demi uang dan pencitraan, pendidikan berubah menjadi pembodohan. Katanya LSM (Lembaga Swadaya Masuarakat) memperdayakan masyarakat, ternyata malah memperdaya masyarakat, melalui persengkongkolan dengan penguasa dan perusahaan. Diranah budaya juga begitu. Katanya sangat anti-Barat, tetapi tanpa malu menikmati sauns, teknologi dan seni karya orang barat. Katanya anti budaya demokrasi, padahal tanpa kebebasan berpendapat danbeserikat, kelompok anti-demokrasi itu akan dilarang dan dibubarkan. Katanya anti-kapitalis, padahal ia suka berbelanja di mal dan bangga memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang mahal.
Paradoks di ranah agama tak kalah seru. Katnya agama mengjarkan, ilmu adalah syarat sukses di dunia dan akhirat, tapi ternyata tak sedikit siswa dan mahasiswa, bahkan guru dan dosen, yang malas menggali ilmu. Katanya kebersihan itu sebagian dari iman, tapi ternyata lingkungan kita masih kotor. Katanya, tokoh agama adalan panutan. Faktanya, justru ada yang jadi koruptor. Tetapi kerancuan, pertentangan, paradoks dan tradisi dalam hidup manusia, sebenarnya adalah hal wajar. Manusia memang diciptakan Tuhan demikian.
Mengapa kebaikan adalah kebahagian, dan keburukan adalah penderitaan ? karena hakikat diri atau fitrah kita adalah baik, sehingga secara alamiah kita menyukai yang baik, benar dan indah. Dalam film laga, biasanya ada tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat(antagonis). Jika Anda besemangat mendukung tokoh jahat ketika menonton film itu, saya kira Anda adalah orang yang tidak normal. Namun, baik-buruk itu tidak selalu jelas dan mudah dibedakan. Apalagi jika yang dihadapi adalah gula-gula dunia berupa harta, tahta dan wanita/pria.
Manusia gampang tergoda, shingga keburukan terlihat bagai kebaikan, dan dosa tampak bagai pahala. Karena itulah, orang bijak menasehati, jika kita ragu akan baik-buruknya sesuatu, lebih baik tinggalkan saja ! Dengan sikap tegas itu, maka kegamangan antara yang baik dan yang buruk dapat dihindari. Orang akan tetap setia pada kebaikan, bukanya selingkuh tiada akhir dengan keburukan.

Begitu pula di ranah sosial. Katanya organisasi untuk mengabdi, ternyata untuk menhidupi diri sendiri. Katanya pendidikan untuk mencerdaskan, ternyata demi uang dan pencitraan, pendidikan berubah menjadi pembodohan. Katanya LSM (Lembaga Swadaya Masuarakat) memperdayakan masyarakat, ternyata malah memperdaya masyarakat, melalui persengkongkolan dengan penguasa dan perusahaan. Diranah budaya juga begitu. Katanya sangat anti-Barat, tetapi tanpa malu menikmati sauns, teknologi dan seni karya orang barat. Katanya anti budaya demokrasi, padahal tanpa kebebasan berpendapat danbeserikat, kelompok anti-demokrasi itu akan dilarang dan dibubarkan. Katanya anti-kapitalis, padahal ia suka berbelanja di mal dan bangga memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang mahal.
Paradoks di ranah agama tak kalah seru. Katnya agama mengjarkan, ilmu adalah syarat sukses di dunia dan akhirat, tapi ternyata tak sedikit siswa dan mahasiswa, bahkan guru dan dosen, yang malas menggali ilmu. Katanya kebersihan itu sebagian dari iman, tapi ternyata lingkungan kita masih kotor. Katanya, tokoh agama adalan panutan. Faktanya, justru ada yang jadi koruptor. Tetapi kerancuan, pertentangan, paradoks dan tradisi dalam hidup manusia, sebenarnya adalah hal wajar. Manusia memang diciptakan Tuhan demikian.
Mengapa kebaikan adalah kebahagian, dan keburukan adalah penderitaan ? karena hakikat diri atau fitrah kita adalah baik, sehingga secara alamiah kita menyukai yang baik, benar dan indah. Dalam film laga, biasanya ada tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat(antagonis). Jika Anda besemangat mendukung tokoh jahat ketika menonton film itu, saya kira Anda adalah orang yang tidak normal. Namun, baik-buruk itu tidak selalu jelas dan mudah dibedakan. Apalagi jika yang dihadapi adalah gula-gula dunia berupa harta, tahta dan wanita/pria.
Manusia gampang tergoda, shingga keburukan terlihat bagai kebaikan, dan dosa tampak bagai pahala. Karena itulah, orang bijak menasehati, jika kita ragu akan baik-buruknya sesuatu, lebih baik tinggalkan saja ! Dengan sikap tegas itu, maka kegamangan antara yang baik dan yang buruk dapat dihindari. Orang akan tetap setia pada kebaikan, bukanya selingkuh tiada akhir dengan keburukan.

No comments:
Post a Comment