(di)PEGANGAN HIDUP
SEBENARNYA masyarakat berharap partai politik sebagai penampung
aspirasi rakyat melapori 'lahirnya' kembali Pancasila. Celakanya parpol
sekarang juga tidak memiliki ideologi yang tegas menyiratkan Pancasila,
baik doktrin maupun perilaku orang-orangnya. Karena itu kalau ada
tuduhan bahwa partai di Indonesia tidak punya ideologi memang benar.
Seharusnya yang mempersatukan itu ideologi, tapi partai di Indonesia
saat ini tidak lebih dari kumpulan orang-orang yang punya kepentingan
sama, untuk diri sendiri dan kelompok.
Mengerahkan massa pun dengan uang. Memang masih ada partai yang memiliki akar kuat di masyarakat, karena faktor historis dan figur pemimpin, tapi oknumnya sama saja. Banyak pihak yang mengharapkan kita kembali ke Pancasila. Tapi tentu banyak faktor yang harus dipenuhi karena kehidupan kita sudah jauh melenceng dari Pancasila. Mulai pemimpin yang tegas, penyelewengan negara yang bersih, moral yang terjaga sampai rakyat yang taat pada UU. Yang tidak kalah penting adalah keteladanan.
Betapa susahnya merenda kembali serpihan-serpihan yang sudah tercerai berai, mendirikan kembali bangunan yang sudah hancur, memperbaiki sikap moral yang sudah berada di titik nadir. Seperti juga betapa susahnya melepaskan kepentingan pribadi dan golongan demi kepentingan bersama.
Kalau masyarakat sekarang menjagokan Gubernur DKI, sebagai presiden, bukan karena dia orang hebat tapi karena dalam dirinya masih ada sikap dan perilaku yang sudah tidak ada pada pemimpin lain. Dialah alternatifnya. Itulah susahnya kalau bangsa sudah tidak memiliki lagi tuntunan hidup. Tidak ada lagi batasan antara yang baik dan yang buruk, moralitas sudah terkubur. Tidak ada ideologi yang tersisa.

Mengerahkan massa pun dengan uang. Memang masih ada partai yang memiliki akar kuat di masyarakat, karena faktor historis dan figur pemimpin, tapi oknumnya sama saja. Banyak pihak yang mengharapkan kita kembali ke Pancasila. Tapi tentu banyak faktor yang harus dipenuhi karena kehidupan kita sudah jauh melenceng dari Pancasila. Mulai pemimpin yang tegas, penyelewengan negara yang bersih, moral yang terjaga sampai rakyat yang taat pada UU. Yang tidak kalah penting adalah keteladanan.
Betapa susahnya merenda kembali serpihan-serpihan yang sudah tercerai berai, mendirikan kembali bangunan yang sudah hancur, memperbaiki sikap moral yang sudah berada di titik nadir. Seperti juga betapa susahnya melepaskan kepentingan pribadi dan golongan demi kepentingan bersama.
Kalau masyarakat sekarang menjagokan Gubernur DKI, sebagai presiden, bukan karena dia orang hebat tapi karena dalam dirinya masih ada sikap dan perilaku yang sudah tidak ada pada pemimpin lain. Dialah alternatifnya. Itulah susahnya kalau bangsa sudah tidak memiliki lagi tuntunan hidup. Tidak ada lagi batasan antara yang baik dan yang buruk, moralitas sudah terkubur. Tidak ada ideologi yang tersisa.

No comments:
Post a Comment