LU GA SETUJU QUA TONJOK
ORANG
boleh setuju, boleh tidak dengan cara dan pendapat orang, tetapi cara
persuasif dan santun yang mereka pilih dalam menghadapi perbedaan
pendapat itu, patut kita renungkan. Lebih-lebih di Era Reformasi
sekarang ini, ketika rakyat umumnya memiliki kebebasan berpendapat dan
serikat. Bukankah kebebasan kini seringkali berujung anarkistis ? Sekali
merdeka, merdeka sekali.
Minggu lalu, ada dua peristiwa yang diliput media. Selasa 25 Juni 2013, para pendukung salah satu pasangan calon wali kota Makassar memukul seorang narasumber, Mohammad Arsad, saat wawancara di Celebes TV. Jumat, 28 Juni 2013, Munarman dari FPI (Forum Pembela Islam) menyiramkan air teh kepada sosiolog, Tamrin Amal Tamagola, saat talkshow di TVCne.
Inilah salah satu tantangan besar bagi bangsa kita. Kita sudah memiliki sistem politik demokratis dalam mengelola bangsa kita yang memang sangat majemuk ini. Tetapi pada saat yang sama, kita tampaknya belum menghayati prinsip demokrasi itu sendiri, yaitu menghormati perbedaan pendapat, dan berusaha mengelola perbedaan itu secara damai dan berkeadilan, bukan dengan kekerasan.
Jika perbedaan kita selesaikan dengan kekerasan, maka kita kembali ke era otoritarianisme yang selama beberapa dasawarsa telang mengangkangi negeri ini. Di situ yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang benar. Kekuatan adalah kebenaran. Dalam situasi seperti itu, sebenarnya tidak perlu ada diskusi, karena yang penting bukan kekuatan logika, tetapi logika kekuatan.
Padahal, dalam diskusi, yang penting adalah kekuatan logika alias kekuatan argumen, dalil, atau alasan, mengapa orang memilih satu pendapat, dan mengabaikan pendapat lain. Dalam diskusi, yang berlaku adalah adu argumen, bukan adu jotos, adu otak, bukan adu otot. Sebagai manusia, wajar jika orang kadang terpancing emosinya, tetapi ia harus mengendalikan diri agar tidak melakukan tindak kekerasan.
Alhasil, kita masih perlu banyak berlatih untuk menyikapi perbedaan secara bijak dan dewasa. Maraknya premanisme dai masyarakat di satu sisi, dan lemahnya penegakan hukum disisi lain, adalah bukti bahwa kita masih belum matang dalam berdemokrasi. Karena itu, bukankah sikap kita pantas untuk bercermin.

Minggu lalu, ada dua peristiwa yang diliput media. Selasa 25 Juni 2013, para pendukung salah satu pasangan calon wali kota Makassar memukul seorang narasumber, Mohammad Arsad, saat wawancara di Celebes TV. Jumat, 28 Juni 2013, Munarman dari FPI (Forum Pembela Islam) menyiramkan air teh kepada sosiolog, Tamrin Amal Tamagola, saat talkshow di TVCne.
Inilah salah satu tantangan besar bagi bangsa kita. Kita sudah memiliki sistem politik demokratis dalam mengelola bangsa kita yang memang sangat majemuk ini. Tetapi pada saat yang sama, kita tampaknya belum menghayati prinsip demokrasi itu sendiri, yaitu menghormati perbedaan pendapat, dan berusaha mengelola perbedaan itu secara damai dan berkeadilan, bukan dengan kekerasan.
Jika perbedaan kita selesaikan dengan kekerasan, maka kita kembali ke era otoritarianisme yang selama beberapa dasawarsa telang mengangkangi negeri ini. Di situ yang berlaku adalah hukum rimba. Siapa yang kuat, dia yang benar. Kekuatan adalah kebenaran. Dalam situasi seperti itu, sebenarnya tidak perlu ada diskusi, karena yang penting bukan kekuatan logika, tetapi logika kekuatan.
Padahal, dalam diskusi, yang penting adalah kekuatan logika alias kekuatan argumen, dalil, atau alasan, mengapa orang memilih satu pendapat, dan mengabaikan pendapat lain. Dalam diskusi, yang berlaku adalah adu argumen, bukan adu jotos, adu otak, bukan adu otot. Sebagai manusia, wajar jika orang kadang terpancing emosinya, tetapi ia harus mengendalikan diri agar tidak melakukan tindak kekerasan.
Alhasil, kita masih perlu banyak berlatih untuk menyikapi perbedaan secara bijak dan dewasa. Maraknya premanisme dai masyarakat di satu sisi, dan lemahnya penegakan hukum disisi lain, adalah bukti bahwa kita masih belum matang dalam berdemokrasi. Karena itu, bukankah sikap kita pantas untuk bercermin.

No comments:
Post a Comment