Tuesday, 27 January 2015

APAKAH BARAT ITU KAFIR

APAKAH BARAT ITU KAFIR

      SUATU hari waktu ke kaliurang naik gunung merapi yang dampak letusan gunung, melihat dari dekat kami rombongan dari keluarga Indonesia di wakili kami sekeluarga, ada keluarga Pakistan dan keluarga Belanda, kami lebih akrab dengan keluarga Belanda yang baru belajar Bahasa Indonesia, setelah selesai kita menikmati dan ngobrol dari hulu ke hilir akhirnya setelah kami sampai dibawah lagi, kami saling berpamitan sebelum menuju tujuan masing-masing, keluarga Belanda yang baru belajar Bahasa Indonesia. Dia lalu berkata."Selamat meninggal." dalam kebingungan, kami yang dipamiti menjawab dengan tertawa "Sampai ketemu disana!"
      Kesalahan dalam berbahasa kadang memang bisa menimbulkan kelucuan, bahkan pertengkaran. Tetapi kalau kita cermati lebih jauh, perbedaan bahasa sebenarnya lebih sering mendorong manusia untuk saling memahami dan bekerjasama, ketimbang sebaliknya. Perbedaan bahasa dapat diatasi dengan bantuan penerjemah, atau salah satu pihak berusaha mempelajari dan menguasai bahasa pihak lain. Barangkali komunikasi antarbudaya dan bahasa yang berbeda dimulai dalam perdagangan.
     Orang Arab, Cina, India, dan Eropa di masa lampau, saling berjumpa melalui perdagangan. MUngkin dalam perdagangan itu, bahasa yang diperlukan tidak rumit.Yang penting, terjual dan pembeli sama-sama memahami nilai tukar suatu barang. Mungkin pula, pedagang pendatang berusaha belajar bahasa setempat. Perjumpaan antar budaya yang lebih mendalam pengaruhnya adalah dibidang agama, seni, sains dan teknologi. Islam di NUsantara sulit terbayangkan tanpa jasa para ulama seperti Nuzuddin al-Raniri, Arsyad al-Banjari, Abdus Shamad al-Falimbani, Yusuf al-Makassari dan lain-lain, yang mengarang kitab-kitab agama dalam bahasa Melayu, atau menerjemahkan kitab-kitab Arab ke Bahasa Melayu. Begitu pula, perkembangan seni, sains dan tekologi, tak tercapai tanpa komunikasi antar ilmuwan dan seniman dari berbagai bangsa. Seni tari, musik dan sastra, menjadi kaya berkat perjumpaan antar budaya.
     Ada sentimen yang kuat di kalangan Muslim tertentu, bahwa Barat itu kafir dan musuh Islam yang paling berbahaya. Disisi lain, mereka tanpa malu menikmati seni, sains, dan teknologi yang berasal dari barat. Mereka tampaknya benci tapi rindu pada barat. Menurut Mahmoud M Ayoub, profesor di Temple University, Amerika Serikat, ada empat sebab di balik sikap negatif kaum MUslim terhadap Barat, yaitu (1) Perang salib; (2) penjajahan Eropa terhadap bangsa-bangsa Muslim; (3) gerakan misi Kristen yang agresif; (4) kajian kaum orientalis terhadap Islam yang bias dan dipengaruhi oleh kepentingan kolonialisme dan sentimen Kristen.
      Saya kira, siapa pun yang mempelajari sejarah, akan cenderung menerima penjelasan Ayoub di atas. Tetapi apakah kita harus tenggelam dalam luka-luka sejarah itu ? Apakah orang barat selamanya identik dengan orang-orang kafir yang memusuhi Islam / apakah kajian ilmiah pihak luar terhadap Islam sama sekali tidak berguna ? saya kira tidak. Sekarang, tidak sedikit umat Islam yang tinggal di Eropa.Amerika dan Australia. Jumlahnya cukup banyak, dari ribuan hingga jutaan orang. Karena itu, disana kita bisa temukan masjid dan perempuan berjilbab di jalan-jalan. Merka umumnya adalah anak-cucu para pendatang dari negeri-negeri Muslim, dan kini sudah menjadi warga negara setempat.
      Selain itu, ada pula orang Barat 'asli' yang masuk Islam. Begitu pula, hanya orang yang tak pernah membaca ensiklopedi Islam, konkordansi hadis, ribuan buku dan puluhan jurnal yang mengkaji pemikiran, sejarah, sosial-budaya masyarakat Islam yang ditulis para sarjana Barat, yang menganggap semua karya orientalis adalah sampah. Banyak dari sarjana Barat itu, juga mengkritik Orientalisme, dan kritikusnya yang paling tajam, Edward W.Said, adalah non-Muslim.
      Lalu, bagaimana dengan agresivitas misi Kristen ? Saya kira, gerakan misi agama apapun, yang agresif dan merendahkan martabat kemanusiaan, akan merugikan agama itu sendiri. Karena itu, para pemimpin agama yang sadar, termasuk tokoh-tokoh Kristen, akan terdorong mengutamakan dialog, saling menghormati dan menjaga, ketimbang mengganggu, martabat masing-masing pemeluk agama. Akhirnya, bukankah kini kita hidup di era globalisasi yang dominasi seni, sains dan teknologi Barat ? kemanakah kita akan sembunyi menutup diri ? Bukankah Islam mengajarkan, semua manusia adalah sama, keturunan Adam dan Hawa ? Bukankah Alqur'an menegaskan, Timur dan Barat adalah milik Allah ? Bukankah hadis mengatakan, ambillah kearifan (hikmah) dari mana pun asalnya ?
     

No comments:

Post a Comment