Sunday, 25 January 2015

BUKTI KEJANTANAN AKAN KANAN KIRIMU

BUKTI KEJANTANAN AKAN KANAN KIRIMU

      MENURUT tata aturan organisasi, bawahan harus melapor kepada atasan, dan atasan melapor kepada atasannya lagi, dan begitu seterusnya sampai ke atasan yang paling tinggi. Tetapi atasan tertinggi harus melapor kepada siapa? “Dia harus lapor kepada isterinya!” canda seorang ahli manajemen. Di kalangan pria dewasa yang sudah berkeluarga, humor sejenis sering kita temukan, antara lain dalam bentuk singkatan yang kepanjangannya tidak lazim.
      Misalnya, seorang pria dijuluki sangat ‘takwa’ karena istrinya sangat dominan. Rupanya, takwa di sini adalah singkatan dari ‘takut wanita’. Ada lagi pria yang diolok dengan sebutan ‘istikamah’, singkatan dari ‘ikatan suami takut isteri kalau di rumah’. Berbagai lelucon itu tampaknya secara tersirat mengandaikan bahwa pria seharusnya lebih dominan dan berani di hadapan isterinya. Pria yang takut pada isteri dianggap bukan pria sejati. Pembicaraan makin seru, diselingi tawa berderai-derai, ketika para pria dewasa itu menyinggung soal poligami sebagai bukti kejantanan. “Isteri satu, wajar. Isteri dua, belajar. Isteri tiga, kurang ajar. Isteri empat, orang Banjar!”
      Kalau kita telisik lebih jauh, lelucon sebenarnya adalah pantulan dari nilai-nilai budaya dalam suatu masyarakat. Salah satu rumus dalam membuat lelucon adalah, sesuatu akan dianggap lucu jika ia menyimpang dari kenyataan umum. Dengan demikian, beberapa lelucon di atas dapat memicu tawa karena pria pada umumnya dominan terhadap isterinya, dan kebanyakan pria tidak berpoligami.
      Boleh jadi, semua lelucon di atas menjadi lucu berkat keberhasilan gerakan perempuan di Indonesia. Kartini, yang kelahirannya diperingati hari ini, telah menuntut agar perempuan mendapatkan pendidikan yang setara dengan lelaki. Ia juga mengkritik pedas poligami, yang semula dialami ibunya sebagai isteri kedua, dan ironisnya kelak juga terjadi atas dirinya sendiri sebagai isteri kesekian Bupati Rembang.
      Berbeda dengan era Kartini di pengujung abad ke-19, kini di abad ke-21, perempuan Indonesia rata-rata sudah berpendidikan yang setara dengan pria, dan menduduki berbagai profesi yang bergengsi seperti guru, dokter, insinyur, ilmuwan, anggota DPR, menteri, bupati, gubernur hingga presiden. Belakangan bahkan ada kecenderungan, kebanyakan siswa berprestasi tinggi adalah perempuan. Namun tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan tetap ada. Kasus-kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), masih sering terjadi. Perdagangan manusia, yang korbannya umumnya adalah perempuan, juga masih banyak.
      Ekspor tenaga kerja wanita (TKW) yang sering ditindas tuannya di luar negeri, juga terus berlanjut. Begitu pula pemerasan perempuan di dunia pelacuran dan hiburan. Sudah banyak pemikir dan aktivis yang mencoba mengkaji masalah-masalah perempuan ini. Ada yang menilai, semua itu akibat kesenjangan sosial yang lebar antara minoritas yang kaya, dan mayoritas yang miskin. Ada pula yang melihatnya sebagai akibat dari penafsiran agama yang merendahkan perempuan. Ada pula yang menilai sebaliknya, yakni akibat kita menerima kebebasan ala feminisme Barat.
       Tapi ada pula yang berpendapat, hubungan pria-wanita harus dilihat secara spiritual. Nabi menyukai tiga hal: perempuan, parfum dan salat. Perempuan adalah penampakan dari keindahan Tuhan. Parfum juga adalah penampakan keindahan, tetapi tanpa bentuk.
Keindahan parfum sejajar dengan keindahan musik yang tanpa bentuk. Sedang salat (doa), menghubungkan keindahan itu dengan Tuhan Yang Mahaindah.
      Tuhan memiliki sifat-sifat keperempuanan (feminin) dan kejantanan (maskulin). Tuhan maha penyayang, pemelihara dan pengampun, tetapi juga maha memaksa, menguasai dan menghukum. Karena manusia diciptakan dalam citra Tuhan, maka ia harus berusaha menjaga keseimbangan antara keduanya. Secara fisik, pria dan wanita memang beda. Pria aktif, wanita menerima. Wanita bisa hamil, lelaki tidak. Tetapi sebagai manusia, pria dan wanita adalah sama. Keduanya sama-sama memiliki sifat-sifat maskulin dan feminin. Maka tugas manusia adalah berjuang menjaga keseimbangan antara keduanya agar sesuai takaran dan tempatnya.
     Dalam perkawinan, keseimbangan itu harus dijaga dalam gabungan antara rasa sayang dan hormat, takut dan harap. Dengan keseimbangan itu, akan terjadi penyatuan spiritual. Bagi kaum Sufi, lagu-lagu cinta yang mendayu-dayu, sebenarnya tak lebih dari pantulan kerinduan manusia pada surga yang hilang, yaitu keseimbangan sejati, antara yang feminin dan maskulin. Keseimbangan inilah kiranya yang terus dikejar manusia, termasuk melalui berbagai lelucon.

No comments:

Post a Comment