ZAMAN EDAN
DI
zaman edan kekuasaan seperti sekarang ini, adakah orang yang percaya
jika Anda mengaku tidak berambisi menjadi pejabat alias penguasa? Adakah
orang yang percaya jika Anda mengatakan, menjadi pejabat adalah suatu
pengorbanan? Adakah orang yang mau mengerti, bahwa tujuan Anda menjadi
penguasa bukanlah uang dan kehormatan, melainkan keinginan untuk
melakukan perubahan?
Namun, siapa pun takkan bisa menyangkal, jika orang yang mengaku tidak tergiur pada kekuasaan itu adalah seorang putra mahkota atau raja yang masih muda, lalu dengan keteguhan hati rela melepaskan kekuasaannya. Ia tinggalkan istananya yang megah, dan ia tanggalkan pakaiannya yang mewah. Ia pergi jauh, berkelana sebagai orang miskin tak dikenal. Ia menyepi, untuk menemukan bahagia sejati.
Salah seorang contohnya adalah Sidharta Gautama. Ia hidup di abad ke-6 sebelum masehi, sebagai putra mahkota sebuah kerajaan yang terletak di India Utara, sekitar 100 mil dari Benares. Pangeran tampan ini kawin dengan Yasodhara, seorang puteri cantik jelita dari kerajaan tetangga. Mereka dianugerahi anak, yang diberi nama Rahula. Hidup mereka penuh pesta dan tawa, dikelilingi para pembantu yang setia.
Namun, dalam empat kali perjalanannya ke luar istana, ia menyaksikan sisi lain dari kehidupan manusia. Pertama, ia menyaksikan orangtua renta, berjalan gemetar, bertopang pada sebatang tongkat. Kedua, ia menyaksikan seorang yang penuh penyakit, terbaring di tepi jalan. Ketiga, ia menemukan orang-orang sedang membawa jenazah. Keempat, ia melihat seorang pendeta yang digundul rambutnya.
Semua pengalaman ini membuatnya berpikir. Bukankah setiap manusia akan mengalami sakit, tua dan mati? Bukankah hidup ini tak bisa menghindar dari derita? Sidharta akhirnya sadar, kehidupan istana yang gemerlap itu, telah membuatnya tak mampu melihat hakikat hidup yang sebenarnya. Kesenangan yang dinikmatinya selama ini, ternyata hanyalah ilusi belaka. Bahagia sejati harus dicari di luar istana.
Dalam usia 29 tahun, ia tinggalkan istana. Selama enam tahun, ia berkelana, hidup di hutan dan berguru kepada para resi, menjalani tirakat yang keras, hingga bersemedi di bawah pohon ara, dan akhirnya mendapatkan pencerahan. Ia menjadi ‘Buddha’, yakni orang yang sadar. Segala penderitaan duniawi lenyap. Kesadarannya tenggelam dalam samudera kemutlakan tak bertepi, damai dan sempurna.
Dalam tradisi Islam, salah seorang tokoh sufi yang kisahnya mirip dengan Sidharta adalah Ibrahim bin Adham, yang hidup di abad ke-8 masehi. Ibrahim adalah seorang bangsawan keturunan Arab yang menjadi raja di Balkh. Ia hidup bergelimang harta dan pesta. Bukan hanya istananya yang megah, harta bendanya juga melimpah. Setiap bepergian, 40 pedang emas, dan 40 tongkat emas selalu menyertainya.
Suatu malam, saat berbaring di kamarnya, Ibrahim mendengar langkah orang berjalan di atap istananya.
“Siapakah itu?!”
“Aku seorang sahabat. Untaku hilang dan aku sedangmencarinya,” sahut orang itu.
“Goblok! kamu mencari unta di atas atap?” seru Ibrahim.
“Wahai manusia yang lalai. Apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutera dan tidur di ranjang emas?” sindir orang itu.
Keesokan harinya, Ibrahim tampak gundah dan gelisah. Di ruang pertemuan istana, para menteri dan dayang-dayang telah berkumpul. Tiba-tiba seorang pria berwajah menakutkan masuk.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Ibrahim.
“Aku baru saja tiba di persinggahan ini,” katanya.
“Ini bukan tempat persinggahan. Ini adalah istanaku!” hardik Ibrahim.
“Siapakah pemilik istana ini sebelum kamu?” tanya lelaki itu.
“Ayahku.”
“Sebelum dia siapa?”
“Kakekku. Lalu, ayah dari kakekku. Kemudian, kakek dari kakekku.”
“Ke mana mereka sekarang?” tanya orang itu lagi.
“Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
“Jika demikian, bukankah istana ini hanya tempat persinggahan?” tegasnya.
Kejadian ini akhirnya mendorong Ibrahim meninggalkan istana. Ia hidup mengembara, dan menjual kayu bakar untuk makan seperlunya. Waktunya dihabiskan beribadah di dalam gua selama sembilan tahun. Dalam sepi sendiri itulah, Ibrahim menemukan hakikat hidup manusia. Dalam kepasrahan total kepada Tuhan, ia menemukan kemerdekaan dan kebahagiaan sejati. Pintu langit terbuka untuknya.
Demikianlah legenda dua raja yang menjadi pertapa hingga menemukan bahagia yang sebenarnya. Kita mungkin sulit meniru mereka. Namun kisah hidup mereka adalah cermin yang bening, bahwa kekuasaan sama sekali tidak identik dengan kebahagiaan.

Namun, siapa pun takkan bisa menyangkal, jika orang yang mengaku tidak tergiur pada kekuasaan itu adalah seorang putra mahkota atau raja yang masih muda, lalu dengan keteguhan hati rela melepaskan kekuasaannya. Ia tinggalkan istananya yang megah, dan ia tanggalkan pakaiannya yang mewah. Ia pergi jauh, berkelana sebagai orang miskin tak dikenal. Ia menyepi, untuk menemukan bahagia sejati.
Salah seorang contohnya adalah Sidharta Gautama. Ia hidup di abad ke-6 sebelum masehi, sebagai putra mahkota sebuah kerajaan yang terletak di India Utara, sekitar 100 mil dari Benares. Pangeran tampan ini kawin dengan Yasodhara, seorang puteri cantik jelita dari kerajaan tetangga. Mereka dianugerahi anak, yang diberi nama Rahula. Hidup mereka penuh pesta dan tawa, dikelilingi para pembantu yang setia.
Namun, dalam empat kali perjalanannya ke luar istana, ia menyaksikan sisi lain dari kehidupan manusia. Pertama, ia menyaksikan orangtua renta, berjalan gemetar, bertopang pada sebatang tongkat. Kedua, ia menyaksikan seorang yang penuh penyakit, terbaring di tepi jalan. Ketiga, ia menemukan orang-orang sedang membawa jenazah. Keempat, ia melihat seorang pendeta yang digundul rambutnya.
Semua pengalaman ini membuatnya berpikir. Bukankah setiap manusia akan mengalami sakit, tua dan mati? Bukankah hidup ini tak bisa menghindar dari derita? Sidharta akhirnya sadar, kehidupan istana yang gemerlap itu, telah membuatnya tak mampu melihat hakikat hidup yang sebenarnya. Kesenangan yang dinikmatinya selama ini, ternyata hanyalah ilusi belaka. Bahagia sejati harus dicari di luar istana.
Dalam usia 29 tahun, ia tinggalkan istana. Selama enam tahun, ia berkelana, hidup di hutan dan berguru kepada para resi, menjalani tirakat yang keras, hingga bersemedi di bawah pohon ara, dan akhirnya mendapatkan pencerahan. Ia menjadi ‘Buddha’, yakni orang yang sadar. Segala penderitaan duniawi lenyap. Kesadarannya tenggelam dalam samudera kemutlakan tak bertepi, damai dan sempurna.
Dalam tradisi Islam, salah seorang tokoh sufi yang kisahnya mirip dengan Sidharta adalah Ibrahim bin Adham, yang hidup di abad ke-8 masehi. Ibrahim adalah seorang bangsawan keturunan Arab yang menjadi raja di Balkh. Ia hidup bergelimang harta dan pesta. Bukan hanya istananya yang megah, harta bendanya juga melimpah. Setiap bepergian, 40 pedang emas, dan 40 tongkat emas selalu menyertainya.
Suatu malam, saat berbaring di kamarnya, Ibrahim mendengar langkah orang berjalan di atap istananya.
“Siapakah itu?!”
“Aku seorang sahabat. Untaku hilang dan aku sedangmencarinya,” sahut orang itu.
“Goblok! kamu mencari unta di atas atap?” seru Ibrahim.
“Wahai manusia yang lalai. Apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutera dan tidur di ranjang emas?” sindir orang itu.
Keesokan harinya, Ibrahim tampak gundah dan gelisah. Di ruang pertemuan istana, para menteri dan dayang-dayang telah berkumpul. Tiba-tiba seorang pria berwajah menakutkan masuk.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Ibrahim.
“Aku baru saja tiba di persinggahan ini,” katanya.
“Ini bukan tempat persinggahan. Ini adalah istanaku!” hardik Ibrahim.
“Siapakah pemilik istana ini sebelum kamu?” tanya lelaki itu.
“Ayahku.”
“Sebelum dia siapa?”
“Kakekku. Lalu, ayah dari kakekku. Kemudian, kakek dari kakekku.”
“Ke mana mereka sekarang?” tanya orang itu lagi.
“Mereka telah mati,” jawab Ibrahim.
“Jika demikian, bukankah istana ini hanya tempat persinggahan?” tegasnya.
Kejadian ini akhirnya mendorong Ibrahim meninggalkan istana. Ia hidup mengembara, dan menjual kayu bakar untuk makan seperlunya. Waktunya dihabiskan beribadah di dalam gua selama sembilan tahun. Dalam sepi sendiri itulah, Ibrahim menemukan hakikat hidup manusia. Dalam kepasrahan total kepada Tuhan, ia menemukan kemerdekaan dan kebahagiaan sejati. Pintu langit terbuka untuknya.
Demikianlah legenda dua raja yang menjadi pertapa hingga menemukan bahagia yang sebenarnya. Kita mungkin sulit meniru mereka. Namun kisah hidup mereka adalah cermin yang bening, bahwa kekuasaan sama sekali tidak identik dengan kebahagiaan.

No comments:
Post a Comment