SAYA TERORIS
INI bukan adegan film laga. Ini kenyataan! Suatu teror beruntun yang berujung pada kematian. Perancis berkabung nasional. Sekitar 75 ribu orang berkumpul di Place de la Republique minggu lalu. Ucapan belasungkawa sekaligus kecaman datang dari berbagai penjuru dunia.
Rabu, 7 Januari 2014. Dua orang bersenjata memasuki kantor mingguan Charlie Hevdo, membunuh satu resepsionis, disusul 10 orang lainnya, termasuk pemimpin redaksi dan empat orang kartunis. Konon, saat menembak, mereka berteriak, “Allahu Akbar! Kami membalas atas penghinaan terhadap Nabi.” Mereka kemudian kabur dengan mobil. Sempat terjadi adu tembak dengan polisi, dan seorang polisi tewas.
Kamis, 8 Januari 2014. Polisi menduga ada tiga orang pelaku: Hamyd Mourad (18), dan dua bersaudara, Cherif (32) dan Said Kouachi (34). Hamyd Mourad segera menyerahkan diri, dan kemudian dibebaskan, sedangkan si dua bersaudara berusaha melarikan diri. Pada hari yang sama, seorang polisi perempuan dan seorang penyapu jalan, tewas ditembak. Pelakunya belum diketahui.
Jumat, 9 Januari 2014. Keberadaan dua bersaudara Cherif dan Said diketahui. Mereka bersembunyi di sebuah rumah percetakan di Dammartin-en-Goele, sekitar 30 mil Tenggara Paris. Polisi siap menyergap. Tiba-tiba, di ujung Timur Paris, seorang bersenjata menyandera 20 orang yang sedang berbelanja di sebuah supermarket. Ia mengancam akan membunuh sandera jika Cherif dan Said ditangkap. Cherif dan Said tetap disergap polisi, dan akhirnya tewas. Polisi juga menyerbu supermarket, dan penyanderanya, Amedy Coulibaly, akhirnya terbunuh. Tetapi, empat orang sandera juga tewas.
Sementara Hayat Boumeddiene, perempuan yang diduga isteri Coulibaly dan membantunya, masih diburu polisi. Melalui sebuah video online, Al-Qaedah Yaman, mengaku bertanggungjawab atas semua peristiwa ini.
Mengapa ini terjadi? Polisi dan pengamat masih menyelidiki. Namun jika benar mereka membunuh karena marah atas kartun yang diterbitkan Charlie Hevdo, yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW, maka hal itu patut disesalkan. Bukankah Nabi tidak marah, tetapi memaafkan dan mendoakan orang yang menghinanya? Bukankah kemuliaannya tidak berkurang sedikitpun akibat penghinaan itu?
Yang jauh lebih mengkhawatirkan justru akibat kejadian itu terhadap minoritas Muslim di Perancis, dan di negara-negara Eropa lainnya. Saat ini, kaum Muslim adalah minoritas agama terbesar di Eropa. Mereka umumnya pendatang dari Aljazair, Maroko, Turki dan negara Muslim lainnya, yang semula bekerja sebagai buruh kasar. Mereka kini sudah menjadi warganegara di sana, dan beranak-pinak.
Semua ini mengingatkan saya pada peristiwa yang terjadi di Belanda pada 2 November 2004. Ketika itu, seorang pembuat film, pengisi acara televisi dan kolumnis terkenal, Theo van Gogh, ditembak mati oleh Muhammad Bouyeri, Muslim asal Maroko. Van Gogh ditembak karena dia bersama Ayaan Hirsi Ali, politisi dan Muslimah yang murtad, membuat film berjudul Submission, yang dianggap menghina Islam. Ketika itu, teman saya dan isteri masih tinggal di Belanda. Ribuan orang turun ke jalan, dan rasa kebencian pada imigran Muslim, seolah tertumpah ruah. Konon, ada sekolah Islam dan musala yang dibakar.
Rasa takut dan waswas menjalar di kalangan umat Islam. Khotbah-khotbah Jumat mengingatkan jemaah, agar tidak mudah diprovokasi. Umat Islam hanya didorong agar lebih rajin belajar dan bekerja. Kaum perempuan Muslimah yang berjilbab pun rentan diskriminasi, termasuk istri teman saya. Ketika dia bepergian naik kereta api, tak jarang polisi berpakaian biasa, menggeledah tasnya. Suatu hari, saat masih menunggu masuk kelas di Universitas Leiden, seorang polisi mendatanginya, dan memintanya membuka ransel. “Ini, silakan dilihat. Tidak ada bom,” kata istri teman saya. Polisi itu tersenyum dan minta maaf.
Saya sungguh khawatir, rasa kebencian terhadap minoritas Muslim Eropa akan meningkat pascatragedi Paris. Para politisi akan menyulut apinya. “Usir para migran Muslim itu! “kata mereka. Kaum Muslim bahkan dianggap menjadi penyebab krisis ekonomi Eropa. Akibatnya, kaum Muslim makin sulit mendapatkan pekerjaan. Orang-orang dari negara Muslim, juga makin sulit mendapatkan visa ke Eropa.
Gara-gara setitik nila, rusak susu sebelanga. Akibat dari tindak kekerasan atas nama agama oleh segelintir orang, mereka yang tak tahu menahu justru menanggung akibatnya.
Rabu, 7 Januari 2014. Dua orang bersenjata memasuki kantor mingguan Charlie Hevdo, membunuh satu resepsionis, disusul 10 orang lainnya, termasuk pemimpin redaksi dan empat orang kartunis. Konon, saat menembak, mereka berteriak, “Allahu Akbar! Kami membalas atas penghinaan terhadap Nabi.” Mereka kemudian kabur dengan mobil. Sempat terjadi adu tembak dengan polisi, dan seorang polisi tewas.
Kamis, 8 Januari 2014. Polisi menduga ada tiga orang pelaku: Hamyd Mourad (18), dan dua bersaudara, Cherif (32) dan Said Kouachi (34). Hamyd Mourad segera menyerahkan diri, dan kemudian dibebaskan, sedangkan si dua bersaudara berusaha melarikan diri. Pada hari yang sama, seorang polisi perempuan dan seorang penyapu jalan, tewas ditembak. Pelakunya belum diketahui.
Jumat, 9 Januari 2014. Keberadaan dua bersaudara Cherif dan Said diketahui. Mereka bersembunyi di sebuah rumah percetakan di Dammartin-en-Goele, sekitar 30 mil Tenggara Paris. Polisi siap menyergap. Tiba-tiba, di ujung Timur Paris, seorang bersenjata menyandera 20 orang yang sedang berbelanja di sebuah supermarket. Ia mengancam akan membunuh sandera jika Cherif dan Said ditangkap. Cherif dan Said tetap disergap polisi, dan akhirnya tewas. Polisi juga menyerbu supermarket, dan penyanderanya, Amedy Coulibaly, akhirnya terbunuh. Tetapi, empat orang sandera juga tewas.
Sementara Hayat Boumeddiene, perempuan yang diduga isteri Coulibaly dan membantunya, masih diburu polisi. Melalui sebuah video online, Al-Qaedah Yaman, mengaku bertanggungjawab atas semua peristiwa ini.
Mengapa ini terjadi? Polisi dan pengamat masih menyelidiki. Namun jika benar mereka membunuh karena marah atas kartun yang diterbitkan Charlie Hevdo, yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW, maka hal itu patut disesalkan. Bukankah Nabi tidak marah, tetapi memaafkan dan mendoakan orang yang menghinanya? Bukankah kemuliaannya tidak berkurang sedikitpun akibat penghinaan itu?
Yang jauh lebih mengkhawatirkan justru akibat kejadian itu terhadap minoritas Muslim di Perancis, dan di negara-negara Eropa lainnya. Saat ini, kaum Muslim adalah minoritas agama terbesar di Eropa. Mereka umumnya pendatang dari Aljazair, Maroko, Turki dan negara Muslim lainnya, yang semula bekerja sebagai buruh kasar. Mereka kini sudah menjadi warganegara di sana, dan beranak-pinak.
Semua ini mengingatkan saya pada peristiwa yang terjadi di Belanda pada 2 November 2004. Ketika itu, seorang pembuat film, pengisi acara televisi dan kolumnis terkenal, Theo van Gogh, ditembak mati oleh Muhammad Bouyeri, Muslim asal Maroko. Van Gogh ditembak karena dia bersama Ayaan Hirsi Ali, politisi dan Muslimah yang murtad, membuat film berjudul Submission, yang dianggap menghina Islam. Ketika itu, teman saya dan isteri masih tinggal di Belanda. Ribuan orang turun ke jalan, dan rasa kebencian pada imigran Muslim, seolah tertumpah ruah. Konon, ada sekolah Islam dan musala yang dibakar.
Rasa takut dan waswas menjalar di kalangan umat Islam. Khotbah-khotbah Jumat mengingatkan jemaah, agar tidak mudah diprovokasi. Umat Islam hanya didorong agar lebih rajin belajar dan bekerja. Kaum perempuan Muslimah yang berjilbab pun rentan diskriminasi, termasuk istri teman saya. Ketika dia bepergian naik kereta api, tak jarang polisi berpakaian biasa, menggeledah tasnya. Suatu hari, saat masih menunggu masuk kelas di Universitas Leiden, seorang polisi mendatanginya, dan memintanya membuka ransel. “Ini, silakan dilihat. Tidak ada bom,” kata istri teman saya. Polisi itu tersenyum dan minta maaf.
Saya sungguh khawatir, rasa kebencian terhadap minoritas Muslim Eropa akan meningkat pascatragedi Paris. Para politisi akan menyulut apinya. “Usir para migran Muslim itu! “kata mereka. Kaum Muslim bahkan dianggap menjadi penyebab krisis ekonomi Eropa. Akibatnya, kaum Muslim makin sulit mendapatkan pekerjaan. Orang-orang dari negara Muslim, juga makin sulit mendapatkan visa ke Eropa.
Gara-gara setitik nila, rusak susu sebelanga. Akibat dari tindak kekerasan atas nama agama oleh segelintir orang, mereka yang tak tahu menahu justru menanggung akibatnya.
No comments:
Post a Comment