PERCAYA DIRI = SIMALAKAMA
PEDE alias percaya diri. Dua kata ini menjadi sebuah personifikasi
seseorang agar bisa merasuki daya pikir banyak orang. Atau dalam bahasa
lebih keren, percaya diri adalah bentuk dari aktualisasi diri yang
menghadirkan sesuatu yang lain dari biasanya. Dan, percaya diri seakan
telah menjadi salah satu aspek penting dari segala aktivitas kita
sebagai manusia.Dalam persfektif politik, misalnya, percaya diri seakan
menjadi sebuah bagian penting. Kita sering melihat jargon-jargon atau
tagline “Kita bisa!, Kita Hebat!, dan seabrak kata yang menuansakan
kepercayaan diri. Kepercayaan diri model demikian tentu harus dikelola
secara baik dan benar. Sebab, tidak jarang percaya diri yang berlebihan
justru bisa menjadi bumerang yang berujung pada rasa kecewa yang teramat
sangat.
Seperti pada Pemilu Legislatif yang belum lama berakhir. Tidak sedikit mereka yang mempersonikasikan diri secara berlebihan, justru melahirkan ending yang tidak diharapkan. Alias gagal. Dalam bahasa sederhana, percaya diri yang berlebihan sering memerangkap seseorang menjadi takabur. Celakanya, ketakburan inilah yang banyak menghinggapi para elite politik di negeri ini. Sekadar pengingat saja, terkadang dengan atribut yang (‘ter’) populer, kaya, ganteng, cantik, dan seterusnya, secara tidak sadar justru menjadikan seseorang menjadi lupa pada jati dirinya sendiri. Untuk apa sebenarnya mereka berlomba-lomba menjadi wakil rakyat? Kalau sekadar ingin menampilkan sosok yang ‘ter’ (?), tentunya percaya diri model seperti itu, tidak lebih hanya untuk dirinya sendiri. Tidak untuk kepentingan orang lain. Contohnya, kita bisa lihat gedung- gedung DPR (D) yang lebih mirip kantor pribadi, ketimbang rumah rakyat.
Dan, percaya diri yang berlebihan pun masih terlihat pada setiap kursi penguasa. Mulai dari kontes pemilihan kepala daerah hingga presiden. Bagaimana si Fulan yang maju sebagai calon kepala daerah di pelosok Jawa, misalnya, dengan penuh percaya diri menargetkan menyapu bersih suara. Sementara lawannya tidak mau kalah dengan tagline ‘Santun dan Soleh’ menargetkan pembangunan 1.000 rumah ibadah, jika terpilih nanti. Demikian pula lawan lainnya yang terperangkan pada percaya diri yang berlebihan, menggratiskan perumahan bagi rakyat tidak mampu. Dari contoh-contoh di atas, memberi gambaran kepada kita bahwa seseorang yang mempersonifikasikan dirinya secara berlebihan, secara tidak telah terperangkap dalam gejolak nafsunya sendiri. Ini jelas sangat berbahaya. Meski banyak orang menilainya itu sebagai sebuah kewajaran, namun percaya diri yang berlebihan bisa melahirkan ekses-ekses negatif. Bagaimana Pemilu Legislatif kemarin dikatakan sebagai even demokrasi paling buruk karena banyaknya kecurangan.
Mengapa itu bisa terjadi? Semua itu tidak bisa dilepaskan dari masing-masing kontestan mempersonifikasikan dirinya secara berlebihan. Kalau sudah begitu, tak ada kata haram untuk melakukan sesuatu yang tidak benar menurut kacamata mereka. Apalagi dalam kubangan politik yang memang sudah sarat dengan saling sikut sesamanya. Dua pasang pesohor negeri Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, sudah resmi bakal bertarung dalam pemilihan kursi presiden dan wakil presiden pada Juni mendatang. So pasti, kedua pasang calon pemimpin negeri itu mempersonikasikan dirinya dengan kelebihan yang dimiliki keduanya.
Setidaknya, yang sudah pasti tampak ke permukaan adalah kepercayaan diri Jokowi yang ‘mengklaim’ sebagai wong ndeso dan merakyat. Jualan politiknya pun orientasinya rakyat kecil! Pun dengan Prabowo yang berlatar belakang militer dengan penuh percaya diri akan memakmurkan puluhan juta rakyat kecil yang selama ini tidak mendapatkan apa-apa. Percaya diri itu penting dan wajib bagi semua orang untuk mengejar sesuatu yang diinginkan sesuai kemampuannya. Namun tetap harus diingat, percaya diri yang berlebihan bisa menjadi simalakama yang memupuskan mimpi dan harapan.

Seperti pada Pemilu Legislatif yang belum lama berakhir. Tidak sedikit mereka yang mempersonikasikan diri secara berlebihan, justru melahirkan ending yang tidak diharapkan. Alias gagal. Dalam bahasa sederhana, percaya diri yang berlebihan sering memerangkap seseorang menjadi takabur. Celakanya, ketakburan inilah yang banyak menghinggapi para elite politik di negeri ini. Sekadar pengingat saja, terkadang dengan atribut yang (‘ter’) populer, kaya, ganteng, cantik, dan seterusnya, secara tidak sadar justru menjadikan seseorang menjadi lupa pada jati dirinya sendiri. Untuk apa sebenarnya mereka berlomba-lomba menjadi wakil rakyat? Kalau sekadar ingin menampilkan sosok yang ‘ter’ (?), tentunya percaya diri model seperti itu, tidak lebih hanya untuk dirinya sendiri. Tidak untuk kepentingan orang lain. Contohnya, kita bisa lihat gedung- gedung DPR (D) yang lebih mirip kantor pribadi, ketimbang rumah rakyat.
Dan, percaya diri yang berlebihan pun masih terlihat pada setiap kursi penguasa. Mulai dari kontes pemilihan kepala daerah hingga presiden. Bagaimana si Fulan yang maju sebagai calon kepala daerah di pelosok Jawa, misalnya, dengan penuh percaya diri menargetkan menyapu bersih suara. Sementara lawannya tidak mau kalah dengan tagline ‘Santun dan Soleh’ menargetkan pembangunan 1.000 rumah ibadah, jika terpilih nanti. Demikian pula lawan lainnya yang terperangkan pada percaya diri yang berlebihan, menggratiskan perumahan bagi rakyat tidak mampu. Dari contoh-contoh di atas, memberi gambaran kepada kita bahwa seseorang yang mempersonifikasikan dirinya secara berlebihan, secara tidak telah terperangkap dalam gejolak nafsunya sendiri. Ini jelas sangat berbahaya. Meski banyak orang menilainya itu sebagai sebuah kewajaran, namun percaya diri yang berlebihan bisa melahirkan ekses-ekses negatif. Bagaimana Pemilu Legislatif kemarin dikatakan sebagai even demokrasi paling buruk karena banyaknya kecurangan.
Mengapa itu bisa terjadi? Semua itu tidak bisa dilepaskan dari masing-masing kontestan mempersonifikasikan dirinya secara berlebihan. Kalau sudah begitu, tak ada kata haram untuk melakukan sesuatu yang tidak benar menurut kacamata mereka. Apalagi dalam kubangan politik yang memang sudah sarat dengan saling sikut sesamanya. Dua pasang pesohor negeri Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, sudah resmi bakal bertarung dalam pemilihan kursi presiden dan wakil presiden pada Juni mendatang. So pasti, kedua pasang calon pemimpin negeri itu mempersonikasikan dirinya dengan kelebihan yang dimiliki keduanya.
Setidaknya, yang sudah pasti tampak ke permukaan adalah kepercayaan diri Jokowi yang ‘mengklaim’ sebagai wong ndeso dan merakyat. Jualan politiknya pun orientasinya rakyat kecil! Pun dengan Prabowo yang berlatar belakang militer dengan penuh percaya diri akan memakmurkan puluhan juta rakyat kecil yang selama ini tidak mendapatkan apa-apa. Percaya diri itu penting dan wajib bagi semua orang untuk mengejar sesuatu yang diinginkan sesuai kemampuannya. Namun tetap harus diingat, percaya diri yang berlebihan bisa menjadi simalakama yang memupuskan mimpi dan harapan.

No comments:
Post a Comment