TAHUN BARU KONDOM
Bagi sebagian orang, tahun baru kemarin seolah identik dengan hiburan. Memang, setiap orang perlu hiburan. Sayangnya, hiburan itu kadang kala dilandasi oleh hasrat menggebu memuaskan hawa nafsu, sehingga bukannya bahagia, melainkan sengsaralah yang akhirnya didapat. Banyak orang merasa, kini beban hidup makin hari makin berat. Aneka urusan dan masalah terus datang bertubi-tubi. Karena itu wajar jika orang merasa perlu bersenang-senang, bersama kekasih, keluarga dan kawan-kawan, sejenak melupakan beban hidup yang menghimpit itu. Kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja. Katanya, hidup di dunia ini hanya sekali, karena itu benar-benar harus dinikmati.
Di malam tahun baru, jiwa-jiwa yang haus hiburan itu tumpah ke jalan, lapangan, hotel, café, bioskop diskotek dan mal. Lampu warna-warni dinyalakan, musik dimainkan, lagu dinyanyikan, film diputar, terompet ditiup, dan kembang api dinyalakan. Orang-orang berjoget, bersorak-sorai. Pejabat berpidato. Tokoh agama berdoa. Sementara ada pula yang diam-diam teler akibat narkoba dan minuman keras. Esok hari, ketika matahari 1 Januari terbit dan burung-burung berkicau menyambut pagi, mereka masih tertidur pulas. Jalan-jalan pun sepi. Kota yang tadi malam ramai, gegap gempita dan padat, kini seolah mati suri. Yang tersisa hanyalah sampah berserakan. Ada puntung rokok, terompet rusak, kertas petasan dan kembang api, kaleng-kaleng minuman, dan konon juga kondom-kondom yang telah digunakan.
Setelah mereka terjaga, apakah jiwa yang galau dan hati yang gundah itu telah terobati? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin penyakit disembuhkan dengan racun? Ketika manusia tunduk pada hasrat-hasrat rendahnya, ia telah menjatuhkan martabatnya laksana hewan, dan merusak kemanusiaannya yang sejati. Kedamaian hanya mungkin diraih ketika manusia benar-benar memanusiakan dirinya. Malangnya, gundah gulana itu tidak hanya menimpa orang-orang miskin, tetapi juga mereka yang bergelimang harta, di kota ataupun di desa. Lagi pula, masihkah kini ada yang namanya desa? Media cetak dan elektronik, ditambah transportasi yang cepat, membuat perbedaan desa-kota makin menipis. Semua ingin hidup gemerlap laksana kota, tanpa sadar bahwa semua itu hanyalah fatamorgana.
Karena itu tak heran, dalam kepanikan hidup yang penuh ketidakpastian, orang-orang akhirnya datang ke dukun, paranormal, ilmuwan hingga kiyai, untuk menanyakan berbagai ramalan tahun depan. Entah optimis atau pesimis, ramalan-ramalan itu sedikit memberikan kepastian akan masa depan yang tak tentu arah. Harapan itu seolah setitik cahaya yang samar-samar ditelan gelap gulita kecemasan. Di sisi lain, setiap ekstrem akan melahirkan ekstrem yang sebaliknya. Muak dengan kehidupan yang menuhankan hawa nafsu, sebagian orang berteduh pada agama. Sayangnya, sebagian tokoh agama yang membimbing mereka, justru menciptakan fatamorgana baru, berupa keyakinan diri sendiri sebagai yang paling suci, sementara semuaorang di luar kelompoknya adalah musuh yang harus dimusnahkan.
Dua pandangan ekstrem itu, yang satu tidak peduli pada nilai-nilai moral agama, dan yang satu lagi merasa diri paling suci, adalah gejala-gejala bahwa masyarakat modern ini tengah sakit. Seperti halnya tubuh, jika semuanya seimbang, maka ia akan sehat. Masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang tidak seimbang antara kehidupan lahir dan batin, sosial dan individual, material dan spiritual. Namun kita berharap, dua gejala ekstrem itu tidaklah dominan. Masih banyak kiranya orang yang puas dan damai bersama keluarga di rumah, tanpa harus memburu bahagia ke luar rumah. Masih banyak kiranya orang yang sadar, sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Orang boleh merasa baik, tetapi tidak ada jaminan kalau dia yang paling baik dan paling disayang Tuhan.
Bagi kaum Sufi, hasrat membara manusia pada kesenangan, tiada lain dari kerinduan terpendam dalam dirinya pada surga, pada Dia Yang Tak Terbatas. Hanya saja, jalan menurun ke lembah nafsu, jauh lebih mudah daripada mendaki tebing moral dan spiritual yang terjal. Begitu pula, membayangkan diri sudah sampai di puncak pendakian, jauh lebih mudah daripada mengakui bahwa perjalanan masih panjang.
Itulah garis sinambung antara waktu (time) dan keabadian (eternity). Di sepanjang perjalanan melewati garis itu, ada yang terhenti dalam kungkungan waktu yang terbatas, tapi ada pula yang terus bergerak menuju keabadian. Selamat menuju Tahun 2015!
Di malam tahun baru, jiwa-jiwa yang haus hiburan itu tumpah ke jalan, lapangan, hotel, café, bioskop diskotek dan mal. Lampu warna-warni dinyalakan, musik dimainkan, lagu dinyanyikan, film diputar, terompet ditiup, dan kembang api dinyalakan. Orang-orang berjoget, bersorak-sorai. Pejabat berpidato. Tokoh agama berdoa. Sementara ada pula yang diam-diam teler akibat narkoba dan minuman keras. Esok hari, ketika matahari 1 Januari terbit dan burung-burung berkicau menyambut pagi, mereka masih tertidur pulas. Jalan-jalan pun sepi. Kota yang tadi malam ramai, gegap gempita dan padat, kini seolah mati suri. Yang tersisa hanyalah sampah berserakan. Ada puntung rokok, terompet rusak, kertas petasan dan kembang api, kaleng-kaleng minuman, dan konon juga kondom-kondom yang telah digunakan.
Setelah mereka terjaga, apakah jiwa yang galau dan hati yang gundah itu telah terobati? Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin penyakit disembuhkan dengan racun? Ketika manusia tunduk pada hasrat-hasrat rendahnya, ia telah menjatuhkan martabatnya laksana hewan, dan merusak kemanusiaannya yang sejati. Kedamaian hanya mungkin diraih ketika manusia benar-benar memanusiakan dirinya. Malangnya, gundah gulana itu tidak hanya menimpa orang-orang miskin, tetapi juga mereka yang bergelimang harta, di kota ataupun di desa. Lagi pula, masihkah kini ada yang namanya desa? Media cetak dan elektronik, ditambah transportasi yang cepat, membuat perbedaan desa-kota makin menipis. Semua ingin hidup gemerlap laksana kota, tanpa sadar bahwa semua itu hanyalah fatamorgana.
Karena itu tak heran, dalam kepanikan hidup yang penuh ketidakpastian, orang-orang akhirnya datang ke dukun, paranormal, ilmuwan hingga kiyai, untuk menanyakan berbagai ramalan tahun depan. Entah optimis atau pesimis, ramalan-ramalan itu sedikit memberikan kepastian akan masa depan yang tak tentu arah. Harapan itu seolah setitik cahaya yang samar-samar ditelan gelap gulita kecemasan. Di sisi lain, setiap ekstrem akan melahirkan ekstrem yang sebaliknya. Muak dengan kehidupan yang menuhankan hawa nafsu, sebagian orang berteduh pada agama. Sayangnya, sebagian tokoh agama yang membimbing mereka, justru menciptakan fatamorgana baru, berupa keyakinan diri sendiri sebagai yang paling suci, sementara semuaorang di luar kelompoknya adalah musuh yang harus dimusnahkan.
Dua pandangan ekstrem itu, yang satu tidak peduli pada nilai-nilai moral agama, dan yang satu lagi merasa diri paling suci, adalah gejala-gejala bahwa masyarakat modern ini tengah sakit. Seperti halnya tubuh, jika semuanya seimbang, maka ia akan sehat. Masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang tidak seimbang antara kehidupan lahir dan batin, sosial dan individual, material dan spiritual. Namun kita berharap, dua gejala ekstrem itu tidaklah dominan. Masih banyak kiranya orang yang puas dan damai bersama keluarga di rumah, tanpa harus memburu bahagia ke luar rumah. Masih banyak kiranya orang yang sadar, sebagai manusia, tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Orang boleh merasa baik, tetapi tidak ada jaminan kalau dia yang paling baik dan paling disayang Tuhan.
Bagi kaum Sufi, hasrat membara manusia pada kesenangan, tiada lain dari kerinduan terpendam dalam dirinya pada surga, pada Dia Yang Tak Terbatas. Hanya saja, jalan menurun ke lembah nafsu, jauh lebih mudah daripada mendaki tebing moral dan spiritual yang terjal. Begitu pula, membayangkan diri sudah sampai di puncak pendakian, jauh lebih mudah daripada mengakui bahwa perjalanan masih panjang.
Itulah garis sinambung antara waktu (time) dan keabadian (eternity). Di sepanjang perjalanan melewati garis itu, ada yang terhenti dalam kungkungan waktu yang terbatas, tapi ada pula yang terus bergerak menuju keabadian. Selamat menuju Tahun 2015!
No comments:
Post a Comment