BERTEMU TEMAN LAMA
BERTEMU dan berpisah itu biasa dalam hidup. Tetapi, bertemu sahabat lama, setelah bertahun-tahun tak bersua, tentu beda rasanya. Apalagi jika kita bersahabat ketika masih remaja, kala masa depan masih remang-remang di kejauhan dan jalan hidup masih tak tentu arah. Kata orang, kita melihat hidup dengan mata yang berbeda sesuai tahapan yang dilewati, dari masa anak-anak, remaja hingga dewasa. “Kau akan merasakan perbedaan yang besar dalam melihat hidup ketika sudah berkeluarga,” kata seorang kawan. Ketika kuliah S2, seorang teman yang jauh lebih tua dari saya mengatakan, ia benar-benar merasakan perubahan besar pada dirinya setelah berusia 40 tahun.
Tetapi, teori di atas tak sepenuhnya benar. saya berusaha mencari seorang sahabat yang tak pernah bersua lagi selama kurang lebih 24 tahun.
Setelah sama-sama tamat KULIAH, saya kuliah di UMY, dan dia kabarnya pergi ke Negeri orang.ia menuntut ilmu agama, dan terakhir sempat menjadi asisten seorang ulama besar di sana. Setelah bertanya sana-sini, saya berhasil mendapatkan nomor ponselnya. “Apakah ini betul nomor si Anu?”
“Ya, betul,” katanya.
“Saya Sigit.”
“Subhanallah. Aku dalam sebulan terakhir, sering mimpi bertemu kamu. Bahkan pernah aku merasa seolah-olah kita bertemu dalam keadaan jaga. Rupanya Allah ingin mempertemukan kita. Besok kita ketemu habis Salat Zuhur, katanya. Dengan hati berdebar-debar, siang itu, saya menunggu kedatangannya. Saat dia datang, saya langsung mengenalinya. Wajahnya tak banyak berubah. Kami pun bersalaman dan berpelukan. “Ayo, kita cari makan siang dulu,” ajaknya. Kami pergi ke sebuah restoran. Obrolan mengalir deras, dari cerita berbagai pengalamannya di negeri orang hingga nostalgia masa-masa indah di kampus.
Sungguh banyak kemajuan yang dialami sahabatku ini. Pengetahuan agamanya semakin dalam dan luas. Pengalamannya sudah internasional.
Bahasa Arabnya sangat fasih dan lancar. Ia punya banyak murid yang belajar agama padanya, terdiri atas orang Indonesia yang tinggal di negeri orang dan orang Muslim Singapura. Hidupnya sejahtera, dan bisa membantu keluarga yang kurang mampu di tanah air. Tetapi dia tak banyak berubah dalam pandangan hidupnya. Sejak di di negeri orang, dia adalah seorang yang lurus, sederhana, rajin ibadah, dan selalu memilih hukum agama yang ‘keras’ untuk dirinya.
Karena itu, dia sangat marah terhadap orang Indonesia yang menipu jemaah haji kita, dari soal penginapan hingga pembayaran dam (menyembelih ternak untuk memenuhi ketentuan manasik haji). Dia bercerita. “Mereka itu licik. Mereka tawarkan harga kambing yang murah, ditambah bonus jalan-jalan. Setelah uang dibayar jemaah, mereka bermain. Ada yang tega tidak membelikan kambing itu sama sekali. Ada juga yang membelikan, tetapi kambingnya kecil-kecil, tak sesuai ketentuan agama. Setelah disembelih, daging-dagingnya mereka jual, bukan dibagikan kepada orang-orang yang berhak.” alangkah baiknya minta orang menyembelihkan. Kemudian bagikan sendiri dagingnya kepada yang berhak. Jika tidak bisa, lebih baik bayar dam di Bank Rajhi saja. Itu lebih aman,” katanya.
Setelah obrolan itu, kami pun berpisah. Beberapa hari kemudian, dia berkenan menemani saya berkeliling di kota kenangan, menunjukkan bekas-bekas tempat bersejarah. Setelah itu, kami tidak bisa bertatap muka lagi. Tetap tetapi berubah. Begitulah kiranya yang terjadi pada sahabatku ini. Ketika keluar dari kampus, dia tampaknya telah memiliki pandangan hidup yang mantap.
Ia bukan lagi remaja yang labil dan galau. Karena itu, pendidikan dan pengalaman yang dilewatinya puluhan tahun kemudian, tidaklah mengubah, melainkan memperkaya dan memperteguh pandangan hidup tersebut. Aku kagum akan keteguhan pribadinya. Aku bangga bisa menjadi sahabatnya.
No comments:
Post a Comment