MISTERI WAKTU
KALA masih kecil, di siang hari saya suka berbaring di lantai depan
rumah kami. Saya melamun sambil memandangi langit dan awan-awan putih
yang berarak laksana kapas. Lalu muncul pertanyaan di benak. Sudah
berapa lama alam semesta ini ada? Bagaimanakah ‘keadaan’ ketika ia belum
ada? Ketika belajar filsafat, barulah saya sadar bahwa para filosof dan
ilmuwan juga berpikir seperti anak-anak, yang serba takjub, heran dan
penuh tanya. Kita mengenal pembagian waktu berupa jam, menit dan detik;
atau hari, minggu, bulan, tahun, abad dan milenium. Mereka bertanya, apa
hakikat waktu? Apakah waktu sudah ada sebelum alam ini ada? Apa
hubungan waktu dengan ruang, materi dan energi? Masalah waktu terasa
relevan karena kita akan sudah meninggalkan 2013, memasuki 2014.
Berbagai kegiatan sudah disiapkan untuk menyambut tahun melenium. Ada
yang ingin melaksanakan muhâsabah, menghitung apa yang telah dilakukan
dalam hidup ini, baik atau buruk. Ada pula yang ingin pesta, pesta
disko, atau bahkan pesta narkoba. Ada pula yang ingin tidur saja di
rumah. Memang tak jarang, ada mitos di balik waktu. Misalnya, orang
Yunani kuno menyebut nama-nama hari dengan nama-nama planet, yang
masing-masing dianggap dewa, mulai dari hari dewa matahari, bulan, mars,
merkurius, yupiter, venus dan saturnus. Nama-nama hari dalam bahasa
Eropa masih menyisakan mitos ini. Misalnya dalam Bahasa Inggris: Sunday
(hari matahari) dan Monday (hari bulan). Dalam Yahudi dan Islam tidak
ada mitos seperti itu, kata Nurcholish Madjid (1992), sehingga nama-nama
hari disebut dengan urutan angka saja, dari satu sampai tujuh (Ibrani:
risyon, syeni, sylisyi, revii, hamisyi, syisyi, syabat; dan Arab: ahad,
istnain, tsulasa’, arbi’a, khamis, jum’ah, sabat). Namun Islam menyebut
hari keenam jum’ah, yaitu hari berkumpul untuk beribadah. Sementara
Yahudi, beribadah di hari Sabtu. Selain mitos di balik nama-nama hari,
menjelang akhir tahun, sering kita saksikan di televisi, paranormal yang
meramalkan yang akan terjadi berdasarkan bintang seseorang, atau shio
tahun yang akan datang. Konon, 2014 menurut tradisi Cina adalah shio
kuda. Paraperamal pun ramai mengartikan yang dimaksud dengan kuda dalam
kaitannya dengan politik, ekonomi, hingga asmara. Padahal, manusia sudah
dianugerahi akal agar ia dapat mengembangkan ilmu mengenai dirinya dan
alam semesta. Manusia dapat menggali hukum-hukum alam dan kehidupan
untuk menemukan mata rantai sebab-akibat. Berdasarkan tali-temali
sebab-akibat itu, ia dapat meramalkan apa yang bakal terjadi nanti.
Inilah ramalan ilmiah yang lebih layak dipercaya ketimbang ramalan
paranormal. Namun perlu juga ditegaskan, kebenaran ilmiah tidaklah
mutlak. Alam dan manusia tetap menyimpan misteri. Mari kita kembali ke
pertanyaan di atas. Apa hakikat waktu? Gerak melahirkan waktu, kata
Aristoteles. Ruang dan waktu itu mutlak, kata Newton. Ruang dan waktu
itu relatif, bantah Einstein. Materi di sini, menyebabkan ruang
melengkung di sana, lalu membuat materi di sini bergerak. Anda bingung?
Saya juga. Tapi mungkin inilah ambang batas, agar kita ingat pada Dia
Yang Tak Terbatas. “Jangan kalian memaki waktu, karena Akulah sang
Waktu,” kata Allah dalam hadis qudsi. Bagaimanapun hebatnya, ilmu
manusia tetaplah terbatas. Karena itulah, manusia harus tetap rendah
hati.


No comments:
Post a Comment