Tuesday, 27 January 2015

PAHLAWAN DEVISA

PAHLAWAN DEVISA

     MELIHAT kota Mekah dari dekat, seperti menyaksikan keagungan Tuhan yang terbantahkan. Kota yang dikelilingi gunung batu menjulang dan padang sahara, yang hampir sepanjang tahun dibakar panas matahari, jelas bukan lingkungan yang ramah untuk didiami. Tetapi anehnya, orang-orang terus berduyun-duyun mengunjunginya, dan tak sedikit yang berusaha tinggal disana.
     Barangkali Tuhan sengaja menunjukkan keagunganNya dengan cara seperti itu. Ibarat tahi lalat dia atas kulit yang putih. Mekkah yang gersang itu, ternyata memiliki air zamzam, sumber air yang tiada habis-habisnya, meski jutaan orang meminumnya. Begitu pula, Kabah yang sepintas hanyalah rumah kubus sederhana, justru menjadi pusat kerinduan kaum Muslim seluruh dunia.
     Kesan paradoks semacam itu tampaknya juga berlaku bagi orang-orang yang tinggal di Makkah, tak terkecuali orang-orang Indonesia, baik yang bekerja di kedutaan kita maupun yang disebut Tki (Tenaga Kerja Indonesia), legal atau ilegal. Mereka mencari rezeki dengan berbagai cara, mengumpulkan riyal demi riyal, lalu dikirm kepada keluarga di Indonesia. Mereka disebut 'Pahlawan devisa'.
     Begitu banyak kisah anak-anak manusia di perantauan ini. ada yang pergi karena dicerai suami. ada yang sudah tak kuat menahan kemiskinan hidup di kampung, lalu mencoba mengadu nasib. ada yang sekedar ingin berhaji, dan tinggal lebih lama di kota suci.
    Ada pula yang niat utamanya adalah menuntut ilmu agama, bukan mencari harta. Bekerja baginya hanyalah tuntutan keadaan yang tak terelakan. Pekerjaan mereka macam-macam. Ada yang menjadi pembantu rumah tangga, sopir, penjaga toko, tukang bangunan, pelayan pesta, membersih masjid, pemandu ibadah haji dan umrah, penjahit, dan pedagang makanan.
     Ada pula yang menjadi calo wisata ziarah dan pembayaran dan bagi jemaah haji. Ada lagi yang menjadi ojek untuk mencium Hajar Aswad. Ada pula yang menjadi copet dan penipu. Tahun ini, cukup banyak kasus pemerasan oleh pengojek mencium Hajar Aswad. Mereka bekerja satu tim, dan tampaknya bersengkongkol dengan polisi penjaga Hajar Aswad.
     Biasanya korban ditawari bantuan, dan setelah berhasil mencium, baru diminta bayar, tapi dengan tarif amat tinggi : seribu riyal, bahkan lebih ! jika uang tak cukup, ponsel, gelang emas, dan benda berharga lainya, mereka rampas. Ada pula penipu yang memakai seragam petugas jemaah haji, padahal palsu. Orang-orang yang tersesat jalan, apalagi sudah tua dan tampak kebingungan, biasanya menjadi incaran petugas gadungan ini. Dia datang dengan wajah manis dan pura-pura mau membantu, padahal akhirnya merampas semua isi tas jemaah. Demikianlah, demi segenggam riyal, orang Indonesia tega 'memakan' sesama orang Indonesia.
     Tetapi, banyak pula yang bekerja dengan cara halal. Sekedar contoh, ada yang rela jadi pembantu rumah tangga, meski terkurung di rumah Arab berbulan-bulan. Kadang, si majikan malah tak membayar gajinya. Ada pula yang menjahit pakaian dengan modal sendiri, lalu membaginya ke toko-toko. Setelah laku, baru si pemilik toko membayar. Tapi ada pula yang enggan membayar atau kabur. Dan banyak lagi.
     Bulan ini, pemerintah SD\audi mulai melakukan pembersihan. Mereka yang ilegal akan ditangkap dan dipulangkan. Bahkan mereka yang memiliki izin tinggal, tetapi tidak berafiliasi pada lembaga tertentu atau penjamin tertentu, juga bisa ditangkap.
     Dalam keadaan genting begini, pemerasan dan penipuan oleh calo-calo imigrasi makin merajalela, dan konon sebagian orang Arab juga ikut bermain. Demikianlah kisah para pahlawan devisa. Ada yang pahlawan sejati, dan ada pula yang palsu. Ada yang bekerja dengan cara yang halal, ada pula dengan cara haram. Pergumulan antara baik dan buruk, pahala dan dosa, memang sudah menjadi hakikat keberadaan manusia, dimana pun ia berada, termasuk di tanah suci.

No comments:

Post a Comment