UFA MENGGUGAT
“AYAH pilih yang mana?” tanya UFA putri kami yang baru kelas dua SD.
Saya kaget dan terdiam. Meski masih belia, dia rupanya berusaha ikut
serta dalam obrolan soal politik di meja makan malam itu antara eyang,
om dan tantenya UFA. Saya terdiam karena saya sendiri belum mantap
memilih salah satu dari dua pasangan calon presiden dan wakil presiden
yang baru saja dideklarasikan.
Seperti kebanyakan rakyat Indonesia, saya mengenal dua pasangan capres-cawapres itu hanya melalui media seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, internet, spanduk dan billboard. Informasi dari media itu bermacam-macam. Ada yang berupa iklan, berita, wawancara, hingga komentar para pengamat. Ada pula berbagai tulisan di dunia maya, termasuk di jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Informasi yang melimpah ruah itu membuat saya terpesona sekaligus bingung. Semua calon memakai kemeja putih sehingga terkesan bersih. Pidato dan penampilan mereka sama-sama memukau.
Jokowi-Kalla berusaha tampil sederhana, merakyat dan nasionalis, sementara Prabowo-Hatta berusaha tampil tegas, nasionalis dan relijius. Semua pasangan berjanji akan membuat rakyat Indonesia lebih sejahtera. Kebingungan saya makin bertambah karena tokoh-tokoh ‘idola’ ternyata mendukung pasangan yang berbeda. Tokoh muda seperti Denny JA dan Anies Baswedan memilih gerbong Jokowi-Kalla, sedangkan Amien Rais dan Rhoma Irama memilih Prabowo-Hatta. Ketua PBNU, KH Said Agil Siraj mendukung Prabowo-Hatta, tetapi mantan Ketua PB NU, KH Hasyim Muzadi, justru mendukung Jokowi-Kalla.
Selain itu, baik Jokowi ataupun Prabowo, sama-sama diterpa informasi negatif. Jokowi dinilai sebagai calon presiden boneka Megawati, tidak menepati janji sebagai Gubernur Jakarta hingga akhir masa jabatan, terlibat kasus pengadaan bus Transjakarta, didukung kuat oleh kaum minoritas agama dan etnis tertentu yang anti-Islam, tunduk kepada kepentingan asing, dan bahkan konon dikendalikan Yahudi. Begitu pula dengan Prabowo. Ia dianggap capres yang berbahaya karena rekam jejaknya di masa lalu. Penculikan para aktivis dan kerusuhan Mei 1998 dipercaya sebagai ulah Prabowo.
Sebuah artikel di Inside Indonesia juga menyebutkan kemungkinan besar keterlibatan Prabowo dalam pembunuhan masyarakat sipil Timor Timur pada 1980-an. Sebagai pengusaha, ia dikabarkan punya banyak utang.
Saya sendiri tidak yakin akan kebenaran semua berita itu, yang sebagian sumbernya tidak dapat dilacak dan secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, tak salah pula kiranya menduga, sebagian dari kabar burung itu memang benar adanya. Tak akan ada asap kalau tak ada api. Sementara itu, baik Jokowi ataupun Prabowo, secara pribadi belum menjelaskan secara tuntas tuduhan-tuduhan tersebut. Namun kebimbangan dan keraguan saya terhadap kedua pasangan calon pemimpin kita itu, pada akhirnya menyadarkan saya, bahwa kita memang tidak, dan mungkin tidak akan pernah, memiliki calon presiden yang ideal.
Yang ideal itu hanya ada dalam pikiran dan angan-angan, bukan kenyataan. Manusia tidak ada yang sempurna. Masing-masing orang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan. Dengan demikian, masalah pasangan mana yang akan dipilih nanti, bukanlah masalah hitam-putih, atau hidup-mati. Ini bukan perkara all or nothing, pilih semua atau tidak sama sekali. Barangkali cara berpikir yang tepat adalah, memilih yang terbaik di antara yang setara, atau jika dilihat secara negatif, memilih yang paling kurang mudaratnya, yakni akhaff al-dharârain, atau the lesser of the two evils.
Saya teringat kembali pertanyaan putri saya di atas. Saya tak mungkin menjelaskan semua ini padanya. Tetapi sebenarnya, dia juga tidak memerlukan penjelasan itu.Yang dia perlukan hanyalah keterlibatan dalam obrolan keluarga di meja makan. Diam-diam, saya merasa bersalah. Saya ini orangtua bodoh, yang terobsesi berita politik, dan tanpa sadar terus membicarakannya hingga ke meja makan keluarga.
Will Durant (1963) tampaknya benar. Para ahli sejarah umumnya lebih tertarik menulis tentang jatuh bangunnya kekuasaan, dan tokoh-tokoh yang bergumul di dalamnya. Peristiwa-peristiwa berdarah, pembunuhan, penindasan, dicatat dengan baik oleh mereka. Namun, mereka tidak mencatat kehidupan sehari-hari manusia yang bercinta, membangun keluarga, menyanyi, menulis puisi dan berdoa.
Alhasil, politik memang penting, tetapi bukan berarti sisi-sisi lain kehidupan ini tidak penting. Kekuasaan memang menentukan, tetapi tidak semua hal ditentukan oleh kekuasaan. Andai politik itu seorang manusia, saya akan katakan padanya, “Kau bukan segalanya bagiku!”


Seperti kebanyakan rakyat Indonesia, saya mengenal dua pasangan capres-cawapres itu hanya melalui media seperti koran, majalah, buku, radio, televisi, internet, spanduk dan billboard. Informasi dari media itu bermacam-macam. Ada yang berupa iklan, berita, wawancara, hingga komentar para pengamat. Ada pula berbagai tulisan di dunia maya, termasuk di jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Informasi yang melimpah ruah itu membuat saya terpesona sekaligus bingung. Semua calon memakai kemeja putih sehingga terkesan bersih. Pidato dan penampilan mereka sama-sama memukau.
Jokowi-Kalla berusaha tampil sederhana, merakyat dan nasionalis, sementara Prabowo-Hatta berusaha tampil tegas, nasionalis dan relijius. Semua pasangan berjanji akan membuat rakyat Indonesia lebih sejahtera. Kebingungan saya makin bertambah karena tokoh-tokoh ‘idola’ ternyata mendukung pasangan yang berbeda. Tokoh muda seperti Denny JA dan Anies Baswedan memilih gerbong Jokowi-Kalla, sedangkan Amien Rais dan Rhoma Irama memilih Prabowo-Hatta. Ketua PBNU, KH Said Agil Siraj mendukung Prabowo-Hatta, tetapi mantan Ketua PB NU, KH Hasyim Muzadi, justru mendukung Jokowi-Kalla.
Selain itu, baik Jokowi ataupun Prabowo, sama-sama diterpa informasi negatif. Jokowi dinilai sebagai calon presiden boneka Megawati, tidak menepati janji sebagai Gubernur Jakarta hingga akhir masa jabatan, terlibat kasus pengadaan bus Transjakarta, didukung kuat oleh kaum minoritas agama dan etnis tertentu yang anti-Islam, tunduk kepada kepentingan asing, dan bahkan konon dikendalikan Yahudi. Begitu pula dengan Prabowo. Ia dianggap capres yang berbahaya karena rekam jejaknya di masa lalu. Penculikan para aktivis dan kerusuhan Mei 1998 dipercaya sebagai ulah Prabowo.
Sebuah artikel di Inside Indonesia juga menyebutkan kemungkinan besar keterlibatan Prabowo dalam pembunuhan masyarakat sipil Timor Timur pada 1980-an. Sebagai pengusaha, ia dikabarkan punya banyak utang.
Saya sendiri tidak yakin akan kebenaran semua berita itu, yang sebagian sumbernya tidak dapat dilacak dan secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, tak salah pula kiranya menduga, sebagian dari kabar burung itu memang benar adanya. Tak akan ada asap kalau tak ada api. Sementara itu, baik Jokowi ataupun Prabowo, secara pribadi belum menjelaskan secara tuntas tuduhan-tuduhan tersebut. Namun kebimbangan dan keraguan saya terhadap kedua pasangan calon pemimpin kita itu, pada akhirnya menyadarkan saya, bahwa kita memang tidak, dan mungkin tidak akan pernah, memiliki calon presiden yang ideal.
Yang ideal itu hanya ada dalam pikiran dan angan-angan, bukan kenyataan. Manusia tidak ada yang sempurna. Masing-masing orang memiliki kekurangan sekaligus kelebihan. Dengan demikian, masalah pasangan mana yang akan dipilih nanti, bukanlah masalah hitam-putih, atau hidup-mati. Ini bukan perkara all or nothing, pilih semua atau tidak sama sekali. Barangkali cara berpikir yang tepat adalah, memilih yang terbaik di antara yang setara, atau jika dilihat secara negatif, memilih yang paling kurang mudaratnya, yakni akhaff al-dharârain, atau the lesser of the two evils.
Saya teringat kembali pertanyaan putri saya di atas. Saya tak mungkin menjelaskan semua ini padanya. Tetapi sebenarnya, dia juga tidak memerlukan penjelasan itu.Yang dia perlukan hanyalah keterlibatan dalam obrolan keluarga di meja makan. Diam-diam, saya merasa bersalah. Saya ini orangtua bodoh, yang terobsesi berita politik, dan tanpa sadar terus membicarakannya hingga ke meja makan keluarga.
Will Durant (1963) tampaknya benar. Para ahli sejarah umumnya lebih tertarik menulis tentang jatuh bangunnya kekuasaan, dan tokoh-tokoh yang bergumul di dalamnya. Peristiwa-peristiwa berdarah, pembunuhan, penindasan, dicatat dengan baik oleh mereka. Namun, mereka tidak mencatat kehidupan sehari-hari manusia yang bercinta, membangun keluarga, menyanyi, menulis puisi dan berdoa.
Alhasil, politik memang penting, tetapi bukan berarti sisi-sisi lain kehidupan ini tidak penting. Kekuasaan memang menentukan, tetapi tidak semua hal ditentukan oleh kekuasaan. Andai politik itu seorang manusia, saya akan katakan padanya, “Kau bukan segalanya bagiku!”


No comments:
Post a Comment