
KESOMBONGAN TEKNOLOGI
Perang juga terus berlangsung di Irak dan Suriah. Sejak serangan militer Amerika Serikat dan sekutunya pada 2003 silam, Irak terus membara.
Begitu pula, sejak 2011 lalu, krisis politik Suriah tak kunjung usai. Baru-baru ini muncul lagi gerakan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi, yang diangkat para pendukungnya sebagai ‘khalifah’, yakni penguasa politik dan agama umat Islam. Sementara perang terus berkecamuk di Timur Tengah. Minggu lalu, 17 Juli 2014, dunia disentak oleh berita jatuhnya pesawat Malaysia Airlines, MH17, di Ukraina, yang diduga ditembak rudal kaum pemberontak pro-Rusia.
Pesawat rute Amsterdam-Kuala Lumpur itu pun terbakar dan jatuh berkeping-keping. Semua penumpangnya (298 orang), yang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, tewas.Mengapa manusia lebih memilih perang ketimbang damai? Mengapa manusia lebih suka bermusuhan ketimbang menjalin persahabatan? Mengapa manusia lebih cenderung membenci dan membunuh satu sama lain, ketimbang menyayangi dan melindungi satu sama lain? Bukankah kita ini sama-sama sebagai manusia, apapun warna kulit, suku, bangsa, budaya, partai atau agama kita?
Barangkali inilah paradoks manusia, suatu pertentangan dan ketegangan yang terus-menerus bergolak. Manusia itu sama sekaligus berbeda. Manusia memiliki potensi kebaikan sekaligus kejahatan. Manusia bisa membenci, dan bisa pula menyayangi. Kadangkala perbedaan antar manusia meruncing, lalu orang lupa akan persamaan. Kadangkala benci memenuhi hati, sehingga tak ada lagi cinta yang tersisa. Paradoks diri manusia itu pun tercermin dalam globalisasi. Globalisasi hadir berkat teknologi komunikasi dan transportasi yang canggih, yang membuat hubungan antar manusia semakin cepat dan mudah. Jarak yang jauh seolah lenyap di udara.
Berkat teknologi, sekarang dunia seolah menjadi datar, dan kita seolah hidup di sebuah desa buana (a global village), di mana penduduknya saling kenal satu sama lain.
Globalisasi seharusnya meningkatkan rasa persamaan yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan universal. Acuannya antara lain adalah Deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM) dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), 1948. Ada pula yang berpendapat, HAM perlu dilengkapi dengan rumusan kewajiban atau tanggung jawab manusia. Ada lagi yang mengusulkan istilah yang lebih umum, yaitu Etika Global (global ethics).
Rumusan HAM yang berasal dari Barat itu memang tak sepenuhnya bisa diterima kaum Muslim. Namun berbagai upaya telah dilakukan. Misalnya, sebagian ulama mangaitkan HAM dengan lima tujuan syariat: memelihara agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Ada lagi yang secara umum mengaitkannya dengan pernyataan Alquran bahwa Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi semesta alam. Namun kalau dicermati, yang menjadi masalah utama di balik pro kontra tentang HAM tampaknya bukanlah agama itu sendiri, melainkan praktik di lapangan, yaitu standar ganda yang diterapkan negara-negara yang kuat terhadap yang lemah. Jika HAM dilanggar oleh negara yang lemah, mereka teriak. Tetapi mereka akan diam jika dilakukan oleh sekutu mereka, atau mereka sendiri yang melakukannya.
Mengapa mereka menerapkan standar ganda? Karena globalisasi adalah juga dominasi, penguasaan dan pengendalian politik, ekonomi, bahkan budaya oleh negara-negara yang kuat atas negara-negara yang lemah. Dalam banyak hal, globalisasi bisa diterjemahkan menjadi Amerikanisasi. Dalam hal ekonomi dan budaya di Indonesia, globalisasi bisa pula berarti Cinaisasi, Jepangisasi, Koreanisasi atau Arabisasi. Rupanya, meskipun manusia telah berhasil menciptakan aneka teknologi canggih yang melahirkan era globalisasi, pada hakikatnya, manusia tidaklah berubah.
Manusia tetaplah sama sejak Adam diciptakan, yang berjuang antara baik dan buruk, keadilan dan penindasan, kesetaraan dan dominasi. Manusia memang bebas memilih. Namun, setiap pilihan mengandung akibat dan resikonya masing-masing.
Itulah paradoks manusia. Itulah paradoks globalisasi.
No comments:
Post a Comment