Friday, 23 January 2015

SEJENAK MERENUNG

SEJENAK MERENUNG

29 Oktober 2014 pukul 11:33
      “ADA hari di mana kita harus berhenti sejenak, melihat ke belakang, lalu bersyukur.”
Datang dan pergi, hidup dan mati, adalah hal biasa dalam hidup ini. “Alam ini baharu,” adalah kata dalam bahasa Melayu untuk ‘baru’. Alam ini baru karena terus mengalir dan berubah. Ada awal ada akhir. Ada momen penting yang sangat menentukan. Ada pula saat-saat biasa yang berlalu begitu saja.
      Dalam irama hidup yang terus bergerak itu, sekali-kali harus ada jeda untuk merenung, mengingat yang sudah-sudah, memetik hikmah, sambil mengembalikan energi untuk melangkah. Sebagai pribadi, jeda itu bisa kita lakukan sebelum tidur, usai salat atau di hari ulang tahun. Sebagai masyarakat dan bangsa, jeda itu bisa kita lakukan di berbagai hari besar nasional atau hari raya keagamaan. Sabtu lalu, 25 Oktober 2014, kaum Muslim merayakan Tahun Baru 1436 Hijriah. Khalifah kedua, Umar bin Khattab (w. 644) yang menetapkan penanggalan Islam ini. Mungkin, bagi Umar, perpindahan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, adalah momen sangat penting dalam sejarah Islam.
      Dari Madinah, Makkah bisa ditaklukkan. Setelah itu, menyusul dua emperium besar, Romawi dan Persia. Bagi kaum Muslim, hijrah Nabi adalah suatu contoh tentang penderitaan, ketulusan dan harapan. Siapa yang tak menderita, meninggalkan kampung halaman, harta benda dan keluarga tanpa mengetahui apa yang kelak akan terjadi? Namun demi keyakinan dan kecintaan pada Nabi, mereka rela menjalaninya.  Pengorbanan  baru berbuah manis 10 tahun kemudian, ketika Makkah akhirnya takluk.
      Kemarin 28 Oktober, bangsa kita merayakan Hari Sumpah Pemuda. Pada 1928 (86 tahun yang silam), para pemuda dari berbagai suku menyatakan sumpah persatuan Indonesia: satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah persatuan itu terwujud karena adanya kesamaan misi, yaitu keinginan untuk menghapuskan penjajahan dan mendirikan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
       Kalau dipikir-pikir, persatuan Indonesia yang terdiri atas etnis, budaya dan agama yang amat beragam dari Sabang sampai Merauke, yang terpisah di banyak pulau, rasanya mustahil terjadi.
       Menurut data PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), di negara ini terdapat 13.466 pulau, 6 hingga 7 ribu di antaranya, ditinggali manusia. Luas Indonesia sama dengan jarak dari London ke Teheran, atau dari Anchorage di Alaska ke Washington DC. Karena itulah,  Elizabeth Pasini (2014) menyebut Indonesia sebagai ‘The Impobable Nation’. Indonesia, katanya, adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Jakarta adalah kota pengguna twitter terbesar dunia, dan sekitar 64 juta penduduk Indonesia menggunakan facebook (jumlah ini melebihi seluruh penduduk Inggris).
Tetapi, 80 juta orang masih hidup tanpa listrik (sama dengan jumlah penduduk Jerman), dan 110 juta orang berpenghasilan kurang dari dua dolar sehari!
       Seminggu sudah Presiden dan Wakil Presiden kita dilantik dan Pelantikan Kabinet Kerja yang akan dibentuk pemerintah, walau banyak bertanya kok bisa tapi sudah tervbentuk. Tawar-menawar tak bisa dihindari. Semula ingin ramping, akhirnya kembali gemuk. Semula ingin profesional, akhirnya digabung dengan ‘profesional’ partai. Politik memang begitu. Tak ada yang bisa dipegang pasti. Alam ini baharu, dan politik adalah yang paling baharu!
Mungkin, seperti dijanjikan, Kabinet Kerja Jokowi-JK sudah dilantik. Inilah momen untuk merenung. Kita perlu berhenti sejenak, menengok ke belakang. Yang buruk di masa lampau harus ditinggalkan. Yang baik diteruskan dan ditingkatkan. Kita harus hijrah, dari keburukan kepada kebaikan. Kita harus menjaga persatuan dengan menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Selamat datang Kabinet Kerja. Selamat bekerja dan tak lupa, berdoa.

No comments:

Post a Comment