Tuesday, 27 January 2015

OJO KAKEAN CANGKEM

OJO KAKEAN CANGKEM

GONG kampanye pemilihan presiden sudah ditabuh lima hari lalu. Namun, gegap gempita para penjual kecap di kedua kubu sudah berlangsung, sesaat setelah pemilihan anggota legislatif selesai dan peta kekuatan persekutuan elite politik mulai tergambar.
Hari-hari ini atmosfer di Tanah Air disesaki berbagai bentuk dan medium kampanye. Nyaris tak ada ruang publik yang luput, bahkan frekuensi publik mereka gunakan secara semena-mena untuk kepentingan politik mereka.
      Simak saja televisi, media cetak, situs-situs berita di internet, dan terutama jejaring sosial, tiap saat sesak oleh berbagai informasi yang membuncah dan pada titik tertentu membuat publik muak mencernanya, karena sebagian di antaranya hanya berisi sampah, sumpah-serapah, provokasi, omong kosong, bahkan fitnah. Tujuan utamanya jelas, mereka saling serang titik lemah “lawan” untuk menjatuhkan citranya di mata publik dengan harapan publik terpengaruh dan tidak memilih calon presiden yang dituju.
      Kedua belah pihak tampak tidak cukup sensitif dalam memandang dan menggunakan media untuk kepentingan politik mereka. Masing-masing secara membabi-buta memasok berbagai informasi yang tampak sekali diniatkan untuk memuji-muji calon yang didukungnya dan mengabaikan atau bahkan menjatuhkan calon lain. Beberapa media bahkan tampak sekali menunjukkan keberpihakannya kepada satu di antara dua pasang calon yang akan dipilih untuk memimpin negara dan bangsa ini lima tahun ke depan.
      “Pertempuran” yang lebih brutal terjadi di ruang maya publik, terutama di media sosial. Ungkapan-ungkapan, pernyataan-pernyataan yang kasar dan kadang sangat tidak layak dilontarkan dalam ruang nyata pubilk, seolah-olah memperoleh tempat di ruang maya.Realitas sosial di ruang maya publik hari-hari ini seolah terbelah secara ekstrem pada dua kubu yang saling bertentangan yang sedang berhadap-hadapan dengan keberingasan yang sama untuk mencabik, menerkam, kalau perlu menghancurkan “lawan”.
      Orang boleh saja menganggap bahwa apa yang sedang berlangsung di ruang nyata maupun di ruang maya publik terkait pemilihan presiden, adalah hal yang wajar saja, karena memang sedang dalam masanya. Masa kampanye, masa propaganda untuk memenangkan calon masing-masing.  Namun melihat begitu brutal, kotor, keras dan kasarnya perseteruan mereka di dunia maya, tampaknya publik pun harus diberi kesempatan untuk bertindak bijak. Perlu ada pemandu yang membimbing mereka menggunakan nalar yang sehat manakala menyerap aneka informasi tersebut.
      Di ruang nyata publik, terutama terkait media-media arus utama, ada Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia. Namun seruan dan teguran kedua lembaga ini agar media menjaga keberimbangan, dianggap seperti angin lalu saja. Media-media yang pemiliknya terafiliasi dengan kubu-kubu pendukung calon presiden terang-terangan menyajikan informasi-informasi yang menguntungkan calon yang mereka dukung. Demikian halnya, ketika menyangkut calon “sebelah” mereka menyajikannya dengan sudut pandang yang sesuai dengan kepentingan calon yang mereka dukung. Etika profesi seolah tidak lagi bermakna karena sudah demikian dikuasai hasrat politik untuk berkuasa.
      Di ruang maya publik, nyaris tak ada satu pun institusi yang bisa mengendalikannya. Sesuai dengan sifatnya, ruang maya publik adalah ruang yang terbuka dan terbebas dari intervensi kekuasaan mana pun.  Ketika menyangkut kepentingan orang banyak, kepentingan negara, dan kepentingan masa depan bangsa, seharusnya para serdadu internet dari masing-masing kubu itu pun menggunakan medium bebas tersebut dengan pola pikir yang sama. Bukan demi kepentingan calon yang didukungnya semata.
      Tanpa kedewasaan dan kearifan masing-masing pihak, maka kampanye yang mereka sampaikan melalui berbagai media itu, hanya akan menyebarkan benih-benih permusuhan dan kebencian. Jika ini yang berkembang, maka penyelenggaraan demokrasi hanya akan jadi ajang pertempuran kekuatan untuk merebut kekuasaan. Semua tentu berharap, agenda demokrasi ini berlangsung dengan baik dan berhasil memilih pemimpin yang betul-betul sesuai dengan hati nurani rakyat, bukan karena tekanan, intimidasi, bujuk rayu, dan imbalan apa pun. Semua bisa berlangsung lancar jika segenap pihak betul-betul melaksanakan perannya secara arif.
      Rakyat, mungkin saja bisa dipaksa dengan cara apa pun untuk mengikuti kenginginan para elitenya, tapi pada satu titik mereka akan berbalik melawan. Dan, tak akan ada satu pihak pun yang bisa membendung perlawanan rakyat.  Seharusnya, hal ini disadari betul oleh para elite. Semanis apa pun bujuk rayu, seindah apa pun omong kosong propaganda, tak akan berarti banyak ketika rakyat menggunakan intuisinya untuk melaksanakan apa yang menurut mereka benar. Jadi, hentikan saja segala omong kosong itu! Berbuatlah sesuatu yang mampu menyentuh hati rakyat.

No comments:

Post a Comment