Sunday, 25 January 2015

POLITIK HINGGA GADIS CANTIK

POLITIK HINGGA GADIS CANTIK

SUBUH itu, saya agak terlambat bangun, yakni sekitar pukul 04.15. bergegas berwudu, berpakaian, lalu meninggalkan hotel, menuju Masjid Banjarmasin kalimantan selatan.

Jemaah dari berbagai penjuru daerah, sudah membeludak di jalan raya. Kami terus berjalan mengikuti arus massa. Ternyata, masjid sudah penuh. Kami pun akhirnya menghamparkan sajadah di tengah jalan.

Setelah salat sunnah, tiba-tiba seorang berkulit hitam berdiri di samping saya. Dia tidak menggunakan sajadah. Dia sujud saja di atas aspal.

Usai dia salat, saya menyalaminya dan mengenalkan diri. Saya menyesal tidak sempat membentangkan sajadah untuknya. Ternyata, bahasa Indonesianya lancar. Dari tutur katanya, jelas dia bukan orang sembarangan. Dia orang terpelajar yang rendah hati.

Karena merasa cocok, saya mencoba mengajaknya berbincang sembari menunggu Salat Subuh. Saya pun mencoba memancing pembicaraan.

“Semula saya membayangkan, Masjid ini sebagai kota tua yang penuh bangunan bersejarah. Kenyataannya, kawasan dekat Masjid sudah dipermak pemerintah menjadi hotel-hotel dan mal-mal. Apalagi kawasan lain. Saya pribadi agak kecewa.”

“Ya, benar sekali. Itu juga kesan yang saya rasakan,” katanya.

“Anda berasal dari mana?” tanya saya.

“Saya dari keturunan Nigeria,” katanya.

Dia lalu bercerita tentang politik di negaranya. Menurutnya, politik Nigeria masih diwarnai politik identitas bernuansa agama, yakni Islam dan Kristen. Kadang kedua kubu berhasil membuat kesepakatan, kadangkala tidak. Ketika terjadi jalan buntu, konflik pun mudah tersulut.

Lain waktu, sambil menunggu Salat Ashar di ruang utama Masjid, saya asyik membaca buku agama lupa judulnya.

Saat saya membalik ke halaman berikutnya, tiba-tiba orang di samping saya berkata, “Tunggu, saya belum selesai.” Rupanya dia ikut membaca. Posisi duduk kami yang berdesakan, memungkinkannya ikut membaca buku yang saya baca.

“Saya dari Jawa indonesia. Anda dari mana?” tanya saya.

“Saya dari Yaman,” katanya. “Masihkah ada konflik Utara-Selatan di Yaman?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak,” katanya.

“Saat ini, kalangan Muslim tradisional di daerah saya, banyak yang pergi ke Yaman, khususnya ke Universitas al-Ahqaf, untuk belajar Islam,” kata saya. Dia tampak senang. Sayang, azan menghentikan percakapan kami.

Pernah pula, saat menunggu Salat Isya, di Masjid saya mendengar percakapan tiga orang pria tua, sambil tertawa-tawa. Sepertinya mereka bicara tentang pengantin wanita.

Saya lalu menyela. “Kalian dari mana?”

“dari sini aja,” katanya.

“Saya dari jawa. Saya mendengar, kalian bicara soal wanita.” Mereka tertawa berderai.

“Isteri Anda berapa?” tanya saya.

“Sebenarnya satu saja,” kata salah seorang agak malu-malu. “Kalau dia sudah tiga,” kata yang satu menunjuk temannya.

Yang ditunjuk lantas menggeleng, “Tidak, tidak. Isteri saya juga satu,” katanya. Kami pun semua tertawa.

“Bagaimana dengan revolusi di negeri Irak?” tanya saya. “Tidak masalah. Baik-baik saja. Kami mendukung militer yang mempersatukan irak,” kata mereka.

Percakapan lain yang mengesankan terjadi di Masjid, usai Salat Zuhur. Seorang pria setengah baya, menyapa saya dalam bahasa jawa.

“Anda dari Jawa kan?”

“Benar. Anda dari mana?”

Saya dari keturunan Irak. Ini teman-teman saya.” Beberapa orang lelaki itu manggut-manggut. Rupanya mereka tidak begitu paham bahasa jawa.

“Kita bicara dalam bahasa Indonesia saja,” kata saya.

“Bagaimana kondisi di Irak sekarang?” tanya saya.

“Masih belum pulih. Bahkan tindak kekerasan masih sering terjadi. Rakyat Irak terbelah oleh politik kelompok keagamaan. Ada kelompok Sunni, ada Syiah, ada pula Kurdi. Intervensi asing membuat konflik ini makin terkuak, hingga Irak terus bergolak,” katanya.

Mereka rupanya orang-orang Kurdi, dan tampaknya mereka ingin merdeka sebagai negara sendiri.

Demikianlah sebagian percakapan saya di Masjid tua ini, pada musim tahun lalu. Semua itu membuat saya bersyukur bahwa Indonesia relatif lebih damai.
Karena itu pula, wajar jika pemerintah khawatir terhadap gerakan politik radikal seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) dan sejenisnya. Namun, politik bukanlah segalanya. Pria-pria tua Mesir, masih bersenda gurau soal gadis cantik, meskipun di negerinya tengah terjadi revolusi.

No comments:

Post a Comment