BERJALAN CEPAT DAN BERSAMA
“JIKA Anda ingin berjalan cepat, pergilah sendirian. Tetapi jika Anda ingin berjalan jauh, pergilah bersama-sama,” kata peribahasa Afrika.
Sebuah tamsil yang patut direnungkan, terutama hari ini, saat Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.
Barangkali pertarungan politik pada Pilpres 2014 ini adalah yang paling panas dalam sejarah Indonesia. Yang bertarung langsung dua pasang, dengan pendukung hampir berimbang.
Media massa terbelah. Kabar burung dan fitnah tersebar. Hasil hitung cepat sempat menimbulkan kontroversi. Keputusan KPU digugat. Mahkamah Konstitusi menolak gugatan itu. Tapi permainan belum usai. Perebutan pimpinan DPR dan MPR juga panas. Kali ini kubu yang kalah, jadi pemenang.
Namun, pertemuan Jokowi dan saingannya, Prabowo Subianto minggu lalu, telah membuat kita lega. Kebekuan politik mulai mencair. Prabowo memberi hormat ala tentara,yang disambut hormat Jokowi dengan sedikit menundukkan kepala.
Dua pemimpin yang bersaing itu akhirnya dapat berjumpa. Inilah kiranya impian kita. Pertarungan sudah silam. Sekarang saatnya untuk bekerja.
Pemimpin baru tentu memberi harapan baru. Pasangan Jokowi-JK diharapkan akan membuat banyak langkah maju, sesuai janji-janji mereka selama pemilu. Optimisme menyeruak, lebih-lebih bagi para pendukung mereka di pilpres lalu.
Upacara pelantikan disiapkan dengan khidmat. Pesta besar telah dirancang dengan cermat. Kereta kencana yang akan membawa mereka ke istana telah sedia berangkat.
Di sisi lain, perlu pula kiranya kita menengok ke belakang. Pada 2004 lalu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.
Ia mendapatkan 33% suara pada putaran pertama, dan 61% pada putaran kedua. Pada pemilu berikutnya (2009), SBY bahkan menang dalam satu putaran dengan suara yang hampir sama. Kala itu, bagi banyak orang, SBY adalah harapan.
Tetapi selama kepemimpinan SBY, muncullah segudang kekecewaan. Pada 19 Juni 2013 lalu, Rhenald Kasali menulis di Kompas dengan judul “Sepuluh Tahun, Dua Perubahan”. Menurutnya, selama hampir sepuluh tahun memimpin, SBY hanya membuat dua perubahan yang hebat. Sebaliknya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin hanya dua tahun, tetapi membuat sepuluh perubahan yang dahsyat.
Gus Dur, kata Rhenald, menghapus Depatemen Penerangan danDepartemen Sosial, mendirikan Kementerian HAM, menghapus larangan menjalankan tradisi Tionghoa, menjadikan Imlek hari libur, mengganti nama Irian jadi Papua, mereformasi TNI dan mengangkat panglima TNI tidak hanya dari Angkatan Darat.
Ia bahkan mengusulkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel dan penghapusan Tap MPRS 1966 yang melarang segala bentuk ajaran Marxisme-Leninisme.
Sementara SBY, menurut Rhenald, hanya melakukan dua perubahan penting, tetapi pada periode pertama pemerintahannya saja. Pertama, berhasil membuat perdamaian di Aceh, setelah beberapa dekade dikoyak konflik, menyusul musibah tsunami pada 2004, dan Perjanjian Helsinki pada 2005.
Kedua, SBY berhasil mengubah kebiasaan rakyat menggunakan minyak tanah kepada LPG pada 2009. Dua perubahan besar ini, kata Rhenald, juga tak lepas dari peran penting Jusuf Kalla (JK).
Orang boleh tidak setuju dengan analisis Rhenald. Pujiannya terhadap gebrakan-gebrakan Gus Dur baru muncul setelah sejarah berjalan lebih dari satu dasawarsa.
Pujian seperti itu sulit kita dapatkan pada saat Gus Dur dilengserkan pada 2001, dan beberapa tahun sesudahnya. Yang umum adalah cemooh dan cela. Jadi, mungkin saja, kehebatan SBY juga kelak baru disadari setelah satu dasawarsa nanti.
Namun hal ini memberi kita dua pelajaran. Pertama, pergantian pemimpin selalu membawa harapan akan perubahan. Ada segunung masalah di negeri ini yang perlu diatasi. Ada berjuta kerusakan yang perlu diperbaiki.
Semua itu perlu perubahan yang dikendalikan oleh sang pemimpin. Tanpa perubahan tidak akan ada perbaikan, meskipun setiap perubahan belum tentu membawa kepada kebaikan.
Kedua, pemimpin bukanlah dewa. Meskipun Jokowi-JK saat ini dianggap sebagai pasangan ideal, belum tentu mereka bisa mewujudkan impian-impian kita.
Kehebatan Jokowi yang sering dipuja media, belum tentu kelak menjadi kenyataan. Banyak faktor yang akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalannya. Yang paling penting di antaranya adalah kontrol sekaligus dukungan seluruh rakyat.
Seperti kata peribahasa Afrika di atas, untuk berjalan jauh mencapai cita-cita, kita harus berjalan bersama-sama. Namun, ternyata kita tidak hanya perlu berjalan jauh, tetapi juga berjalan cepat.
Bisakah Jokowi-JK membawa kita bersama-sama berjalan cepat? Mari kita buktikan lima tahun ke depan!
Sebuah tamsil yang patut direnungkan, terutama hari ini, saat Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.
Barangkali pertarungan politik pada Pilpres 2014 ini adalah yang paling panas dalam sejarah Indonesia. Yang bertarung langsung dua pasang, dengan pendukung hampir berimbang.
Media massa terbelah. Kabar burung dan fitnah tersebar. Hasil hitung cepat sempat menimbulkan kontroversi. Keputusan KPU digugat. Mahkamah Konstitusi menolak gugatan itu. Tapi permainan belum usai. Perebutan pimpinan DPR dan MPR juga panas. Kali ini kubu yang kalah, jadi pemenang.
Namun, pertemuan Jokowi dan saingannya, Prabowo Subianto minggu lalu, telah membuat kita lega. Kebekuan politik mulai mencair. Prabowo memberi hormat ala tentara,yang disambut hormat Jokowi dengan sedikit menundukkan kepala.
Dua pemimpin yang bersaing itu akhirnya dapat berjumpa. Inilah kiranya impian kita. Pertarungan sudah silam. Sekarang saatnya untuk bekerja.
Pemimpin baru tentu memberi harapan baru. Pasangan Jokowi-JK diharapkan akan membuat banyak langkah maju, sesuai janji-janji mereka selama pemilu. Optimisme menyeruak, lebih-lebih bagi para pendukung mereka di pilpres lalu.
Upacara pelantikan disiapkan dengan khidmat. Pesta besar telah dirancang dengan cermat. Kereta kencana yang akan membawa mereka ke istana telah sedia berangkat.
Di sisi lain, perlu pula kiranya kita menengok ke belakang. Pada 2004 lalu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.
Ia mendapatkan 33% suara pada putaran pertama, dan 61% pada putaran kedua. Pada pemilu berikutnya (2009), SBY bahkan menang dalam satu putaran dengan suara yang hampir sama. Kala itu, bagi banyak orang, SBY adalah harapan.
Tetapi selama kepemimpinan SBY, muncullah segudang kekecewaan. Pada 19 Juni 2013 lalu, Rhenald Kasali menulis di Kompas dengan judul “Sepuluh Tahun, Dua Perubahan”. Menurutnya, selama hampir sepuluh tahun memimpin, SBY hanya membuat dua perubahan yang hebat. Sebaliknya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memimpin hanya dua tahun, tetapi membuat sepuluh perubahan yang dahsyat.
Gus Dur, kata Rhenald, menghapus Depatemen Penerangan danDepartemen Sosial, mendirikan Kementerian HAM, menghapus larangan menjalankan tradisi Tionghoa, menjadikan Imlek hari libur, mengganti nama Irian jadi Papua, mereformasi TNI dan mengangkat panglima TNI tidak hanya dari Angkatan Darat.
Ia bahkan mengusulkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel dan penghapusan Tap MPRS 1966 yang melarang segala bentuk ajaran Marxisme-Leninisme.
Sementara SBY, menurut Rhenald, hanya melakukan dua perubahan penting, tetapi pada periode pertama pemerintahannya saja. Pertama, berhasil membuat perdamaian di Aceh, setelah beberapa dekade dikoyak konflik, menyusul musibah tsunami pada 2004, dan Perjanjian Helsinki pada 2005.
Kedua, SBY berhasil mengubah kebiasaan rakyat menggunakan minyak tanah kepada LPG pada 2009. Dua perubahan besar ini, kata Rhenald, juga tak lepas dari peran penting Jusuf Kalla (JK).
Orang boleh tidak setuju dengan analisis Rhenald. Pujiannya terhadap gebrakan-gebrakan Gus Dur baru muncul setelah sejarah berjalan lebih dari satu dasawarsa.
Pujian seperti itu sulit kita dapatkan pada saat Gus Dur dilengserkan pada 2001, dan beberapa tahun sesudahnya. Yang umum adalah cemooh dan cela. Jadi, mungkin saja, kehebatan SBY juga kelak baru disadari setelah satu dasawarsa nanti.
Namun hal ini memberi kita dua pelajaran. Pertama, pergantian pemimpin selalu membawa harapan akan perubahan. Ada segunung masalah di negeri ini yang perlu diatasi. Ada berjuta kerusakan yang perlu diperbaiki.
Semua itu perlu perubahan yang dikendalikan oleh sang pemimpin. Tanpa perubahan tidak akan ada perbaikan, meskipun setiap perubahan belum tentu membawa kepada kebaikan.
Kedua, pemimpin bukanlah dewa. Meskipun Jokowi-JK saat ini dianggap sebagai pasangan ideal, belum tentu mereka bisa mewujudkan impian-impian kita.
Kehebatan Jokowi yang sering dipuja media, belum tentu kelak menjadi kenyataan. Banyak faktor yang akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalannya. Yang paling penting di antaranya adalah kontrol sekaligus dukungan seluruh rakyat.
Seperti kata peribahasa Afrika di atas, untuk berjalan jauh mencapai cita-cita, kita harus berjalan bersama-sama. Namun, ternyata kita tidak hanya perlu berjalan jauh, tetapi juga berjalan cepat.
Bisakah Jokowi-JK membawa kita bersama-sama berjalan cepat? Mari kita buktikan lima tahun ke depan!
No comments:
Post a Comment