Vox Populi Vox Dei untuk Indonesia
Rabu, 9 Juli 2014 ini, menjadi momen bersejarah bagi perjalanan
sekaligus masa depan Indonesia untuk lima tahun ke depan. Rakyat memilih
pemimpin baru untuk Indonesia baru. Tentunya, vox populi vox dei (suara
rakyat, suara Tuhan) menjadi sesuatu hal sakral, yang kemudian harus
diperjuangkan dan diemban dengan penuh tanggung jawab oleh siapa pun
yang terpilih, apakah Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ataukah Joko
Widodo-Jusuf Kalla, dalam rangka merealisasikan program-programnya untuk
hajat hidup orang banyak.
Memang tidak mudah menjalankan amanat rakyat. Karena memerlukan keteguhan hati dan pengorbanan diri bagi pemimpin terpilih untuk konsisten antara apa yang diucapkan dan dikerjakan. Menjadi pemimpin adalah panggilan nurani untuk mau berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Terpilih dan dipilih menjadi pemimpin pilihan rakyat merupakan tugas besar. Memimpin adalah amanah sehingga menyalahgunakannya dapat disebut telah melakukan dosa-dosa politik. Ini kemudian harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan bangsa.
Memimpin dan menjadi pemimpin tidak sebatas memerlukan jam terbang tinggi dan lain sejenisnya, tapi lebih dari itu adalah bagaimana kemudian dapat mengerti persoalan rakyat, penderitaan yang dihadapi rakyat, dan kemudian menerjemahkannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat. Pemimpin kemudian tegas dalam mengambil kebijakan, agar kebijakan yang diambilnya benar-benar lahir dari ketegasan seorang pemimpin atas nama kedaulatan bangsa serta negara.
Ketika berbicara tentang suara rakyat, maka ini kemudian berhubungan dengan apa yang rakyat inginkan untuk perubahan, baik untuk dirinya maupun bangsanya demi kehidupan yang lebih baik di hari esok. Suara rakyat merepresentasikan denyut nadi kehidupannya, terutama rakyat yang berada dalam kubangan kemiskinan, keterbatasan kehidupan yang layak, dan masih rendahnya tingkat kehidupan yang berharkat dan bermartabat.
Suara rakyat tentu tidak sebatas apa yang mereka rasakan dalam kehidupannya, serta apa yang mereka jalani setiap hari. Sebut saja kemiskinan pendidikan, keterbelakangan ekonomi, dan lain sejenisnya. Suara rakyat adalah manifestasi dari pelbagai keluh kesah yang rumit dan lengkap atas pelbagai kondisi dirinya yang selalu dan terus menerus terpuruk secara multidimensional.
Suara rakyat juga menggambarkan apa yang selama ini menjadi kendala bagi mereka untuk bisa menata kehidupannya menjadi lebih baik. Setidaknya berada dalam taraf kehidupan ekonomi yang tercukupi untuk kebutuhan dasar hidupnya.
Suara rakyat, dengan demikian, mengilustrasikan hal apa saja yang membuat mereka merasa tidak bisa menjadi manusia di negerinya sendiri secara seutuhnya, dan merasa tersisihkan dalam interaksi antarsesama.
Hal yang sederhana adalah ketika perlakuan hukum menjadi tidak adil akibat perbedaan kelas sosial. Perbedaan kelas sosial antara si kaya dan si miskin umumnya sudah menjadi hal jamak yang menyebabkan diskriminasi perlakuan. Hal lainnya lagi adalah tentang intoleransi antarumat beragama (baca: realitas). Semuanya itu menjadi buah bibir yang menjadi bahan perbincangan rakyat dari hati ke hati, dari satu kelompok kepada kelompok lain yang berada dalam kehidupan terpinggirkan akibat banyak faktor.
Tentunya, suara rakyat tersebut baik yang terungkap secara verbal maupun non-verbal setidaknya sudah menggambarkan potret kehidupan rakyat. Apabila rakyat kemudian harus memilih pemimpin baru, mereka hanya berharap akan ada pemimpin yang memahami suara akar rumput. Suara akar rumput kerap terabaikan dan diabaikan akibat hiruk politik kekuasaan dan kepentingan sektoral an sich.
Oleh sebab itu, pemimpin baru adalah dia yang kemudian selalu hadir untuk rakyatnya. Pemimpin yang menjadi harapan dan impian semua rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah dia yang selalu menjadi penyelesai persoalan-persoalan rakyat untuk bangsa. Dengan demikian, pemimpin yang sesungguhnya menjadi cita-cita rakyat adalah pemimpin yang mau mengerti suara rakyat, pemimpin yang bekerja atas nama suara rakyat. Tak hanya itu saja, pemimpin dambaan seluruh rakyat adalah ketika dia mampu menegakkan kedaulatan bangsa dan negara di hadapan kepentingan asing. Kedaulatan bangsa dan negara diperjuangkan dengan sedemikian rupa tanpa kompromi. Oleh karenanya, pemimpin tentunya harus bisa memberikan kasih sayang dan perlindungan untuk rakyat, namun juga bisa menyelamatkan negara dan bangsa dari kepentingan asing. Di dalam negeri, pemimpin dapat bekerja untuk rakyat, sedangkan di tingkat dunia atau internasional, mampu mempertahankan wibawa dan martabat bangsa serta negara demi kepentingan rakyat

Memang tidak mudah menjalankan amanat rakyat. Karena memerlukan keteguhan hati dan pengorbanan diri bagi pemimpin terpilih untuk konsisten antara apa yang diucapkan dan dikerjakan. Menjadi pemimpin adalah panggilan nurani untuk mau berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara. Terpilih dan dipilih menjadi pemimpin pilihan rakyat merupakan tugas besar. Memimpin adalah amanah sehingga menyalahgunakannya dapat disebut telah melakukan dosa-dosa politik. Ini kemudian harus dipertanggungjawabkan di depan rakyat dan bangsa.
Memimpin dan menjadi pemimpin tidak sebatas memerlukan jam terbang tinggi dan lain sejenisnya, tapi lebih dari itu adalah bagaimana kemudian dapat mengerti persoalan rakyat, penderitaan yang dihadapi rakyat, dan kemudian menerjemahkannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat. Pemimpin kemudian tegas dalam mengambil kebijakan, agar kebijakan yang diambilnya benar-benar lahir dari ketegasan seorang pemimpin atas nama kedaulatan bangsa serta negara.
Ketika berbicara tentang suara rakyat, maka ini kemudian berhubungan dengan apa yang rakyat inginkan untuk perubahan, baik untuk dirinya maupun bangsanya demi kehidupan yang lebih baik di hari esok. Suara rakyat merepresentasikan denyut nadi kehidupannya, terutama rakyat yang berada dalam kubangan kemiskinan, keterbatasan kehidupan yang layak, dan masih rendahnya tingkat kehidupan yang berharkat dan bermartabat.
Suara rakyat tentu tidak sebatas apa yang mereka rasakan dalam kehidupannya, serta apa yang mereka jalani setiap hari. Sebut saja kemiskinan pendidikan, keterbelakangan ekonomi, dan lain sejenisnya. Suara rakyat adalah manifestasi dari pelbagai keluh kesah yang rumit dan lengkap atas pelbagai kondisi dirinya yang selalu dan terus menerus terpuruk secara multidimensional.
Suara rakyat juga menggambarkan apa yang selama ini menjadi kendala bagi mereka untuk bisa menata kehidupannya menjadi lebih baik. Setidaknya berada dalam taraf kehidupan ekonomi yang tercukupi untuk kebutuhan dasar hidupnya.
Suara rakyat, dengan demikian, mengilustrasikan hal apa saja yang membuat mereka merasa tidak bisa menjadi manusia di negerinya sendiri secara seutuhnya, dan merasa tersisihkan dalam interaksi antarsesama.
Hal yang sederhana adalah ketika perlakuan hukum menjadi tidak adil akibat perbedaan kelas sosial. Perbedaan kelas sosial antara si kaya dan si miskin umumnya sudah menjadi hal jamak yang menyebabkan diskriminasi perlakuan. Hal lainnya lagi adalah tentang intoleransi antarumat beragama (baca: realitas). Semuanya itu menjadi buah bibir yang menjadi bahan perbincangan rakyat dari hati ke hati, dari satu kelompok kepada kelompok lain yang berada dalam kehidupan terpinggirkan akibat banyak faktor.
Tentunya, suara rakyat tersebut baik yang terungkap secara verbal maupun non-verbal setidaknya sudah menggambarkan potret kehidupan rakyat. Apabila rakyat kemudian harus memilih pemimpin baru, mereka hanya berharap akan ada pemimpin yang memahami suara akar rumput. Suara akar rumput kerap terabaikan dan diabaikan akibat hiruk politik kekuasaan dan kepentingan sektoral an sich.
Oleh sebab itu, pemimpin baru adalah dia yang kemudian selalu hadir untuk rakyatnya. Pemimpin yang menjadi harapan dan impian semua rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah dia yang selalu menjadi penyelesai persoalan-persoalan rakyat untuk bangsa. Dengan demikian, pemimpin yang sesungguhnya menjadi cita-cita rakyat adalah pemimpin yang mau mengerti suara rakyat, pemimpin yang bekerja atas nama suara rakyat. Tak hanya itu saja, pemimpin dambaan seluruh rakyat adalah ketika dia mampu menegakkan kedaulatan bangsa dan negara di hadapan kepentingan asing. Kedaulatan bangsa dan negara diperjuangkan dengan sedemikian rupa tanpa kompromi. Oleh karenanya, pemimpin tentunya harus bisa memberikan kasih sayang dan perlindungan untuk rakyat, namun juga bisa menyelamatkan negara dan bangsa dari kepentingan asing. Di dalam negeri, pemimpin dapat bekerja untuk rakyat, sedangkan di tingkat dunia atau internasional, mampu mempertahankan wibawa dan martabat bangsa serta negara demi kepentingan rakyat

No comments:
Post a Comment