Tuesday, 27 January 2015

DARAH KEBIRU-BIRUAN

DARAH KEBIRU-BIRUAN

     SAAT kami berkumpul dengan teman sesama alumni waktu di Jogja dulu, saat kami bercengkrama. Tiba-tiba seorang lelaki remaja, anak sang Pengusaha kelas Nasional, muncul. Sambil tersenyum ramah, dia berkata,"Om, saya mohon maaf tidak bisa ikut makan, karena harus masuk kerja malam ini," katanya. Saya mengangguk dan dia segera pergi." Kerja dimana dia ?" tanya saya pada ibunya."Itu, di supermarket. Dia ingin mengumpulkan uang untuk bisa menikmati liburan musim panas nanti," jelasnya. Saya dan istri cukup terkesan dengan penjelasan sang ibu. Seorang Pengusaha tersohor, dengan gaji yang cukup lumayan tinggi, justru mendorong anaknya untuk bekerja mencari uang sendiri untuk liburan. Padahal, apa susahnya dia memberi uang pada anaknya ? Dia juga bisa mengajak anaknya jalan-jalan ke berbagai penjuru dunia dari gaji dan berbagai penghasilan lain yang dia dapatkan.
     Kasus serupa pernah dialami oleh seorang anak ulama terkemuka di suatu daerah Kalimantan Selatan. Si anak sangat ingin kuliah ke al-Azhar, Mesir. Karena sang ayahnya kenal deket dengan Idham Chalid, ia memohon agar ayahnya memintakan rekomendasi pada Idham. Ternyata ayahnya menolak. Ia sangat kecewa dan sempat bolos sekolah. Andai tidak takut menjadi gembel kelak ketika tua, mungkin dia tidak mau sekolah lagi. Namun seiring perjalanan waktu, si anak makin dewasa. Ia mulai menyadari bahwa untuk berhasil. tidak baik menganalkan nama besar orangtua. Ia pun berjuang, merintis karier sebagai penyiar radio. Profesi itu ditekuninya dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya ia dikirim ke Jerman dan Korea Selatan. "Aku bangga padamu. Inilah yang kuharapkan. Kamu sukses karena perjuanganmu sendiri,"kata sang ayah.
     Berbeda dengan dua contoh diatas, kita juga banyak menemukan orangtua yang menggunakan nama besar dan pengaruhnya guna memuluskan karier anaknya. Si anak itu pun akhirnya suka membawa-bawa nama orangtuanya, kamanapun dia berada. Sia seolah tidak bisa lepas dari bayangan orangtuanya. Bahkan tanpa malu, dia berkata didepan publik,"Saya adalah anak si Anu." Tak dapat disangkal bahwa faktor keturunan turut berpengaruh terhadap masa depan seseorang. Dalam memilih jodoh misalnya, kita bisanya dianjurkan unutk mempertimbangkan siapa orangtua dari calon suami/istri kita. Apalagi bagi kalangan bangsawan, yang ingin mempertahankan kesinambungan garis darah biru (tentu bukan karena keracunan!). Apalagi ada mitos, raja-raja dahulu adalah tetesan dewa.
      Tetapi kalau ditelaah lebih jauh, faktor keturunan bukan satu-satunya, dan bukan pula paling penting, bagi keberhasilan seseorang. Alquran memang menunjukkan adanya garis keturunan para Nabi, seperti Ibrahim, Ishak dan Ismail. Tetapi Alquran juga menjelaskan, ayah Ibrahim adalah penyembah berhala, dan anak Nabi Nuh, ikut tenggelam bersama orang-orang kafir karena tidak beriman pada ayahnya. Dengan demikian, pada prinsipnya, manusia harus menjadi dirinya sendiri, karena tanggung jawab yang bersifat pribadi, sementara garis keturunan hanyalah faktor pendukung. Anak seorang tokoh mungkin akan lebih mudah melangkah ketimbang anak orang biasa. Tetapi, ia tidak akan benar-benar menjadi tokoh, jika ia tidak menjadi dirinya sendiri.
     Sebagai kiasan, pohon kecil ayang suka berteduh dibawah pohon besar dan rindang, tidak akan pernah menjadi besar dan rindang. Sebaliknya, pohon kecil yang berani menatap panasnya sinar matahari, ia akan tumbuh dan berkembang menjadi besar dan berbuah.Begitu pula, ayam kampung yang dilepas bebas, jauh lebih kuat dari ayam ras, yang dikurung dan diberi makan tiap hari oleh tuannya. Hal ini patut disadari oleh orangtua dan juga masyarakat. Jika anak seorang tokoh ingin menjadi pemimpin, patutlah orangtua mendorong anaknya untuk merasakan pahit getirnya jadi pemimpin yang berkorban dan berjuang untuk rakyat, sehingga kelak dia memang pantas dipilih oleh rakyat. Di sisi lain, masyarakat juga harus cerdas, mana anak tokoh yang memang pantas jadi tokoh, dan mana yang tidak.

No comments:

Post a Comment