Sunday, 25 January 2015

SI HITAM NEGERIKU

SI HITAM NEGERIKU

       “SIAPA yang lebih kuat di antara dua calon presiden Anda?” tanya seorang teman akrab yang melancong di luar negri yang punya jabatan penting dinegeri tersebut baru-baru ini. “Kelihatannya berimbang, sama-sama kuat,” kata saya. “Kalau sama-sama kuat, itu berbahaya. Menang jadi abu, kalah jadi arang,” katanya. Dalam suatu pertandingan, tentu harus ada yang menang dan yang kalah. Jika sama-sama kuat, maka pertandingan akan sangat seru dan ketat.
       Keadaan seperti ini, jika dilihat secara negatif berarti bahwa kedua kubu akan bertarung habis-habisan sehingga dapat berujung pada kehancuran kedua-duanya. Apalagi jika hasil akhirnya menunjukkan selisih yang sangat tipis. Yang kalah mungkin tak mau terima. Sebagai rakyat Indonesia, kita tentu berharap, tidak akan ada yang jadi abu atau jadi arang usai pilpres nanti. Daripada berpikir negatif, lebih baik berpikir positif.
      Kekuatan yang berimbang, jika dilihat secara positif, menunjukkan bahwa kita memiliki dua calon yang sangat layak untuk menjadi pemimpin kita. Karena itu, siapa pun yang kelak menjadi pemenang, kita akan dapat menerimanya dengan lapang dada. Namun, sudut pandang yang positif itu tidak akan lahir dari pola pikir yang hitam putih, yang melihat calon idolanya sebagai malaikat, dan lawannya adalah setan.
      Orang harus ingat, bahwa kita ini adalah manusia, bukan malaikat, bukan pula setan. Ini adalah pertarungan di antara manusia. Setiap manusia memiliki sisi kebaikan dan keburukan. Tak ada manusia yang seratus persen baik atau buruk. Kini tinggal dua hari lagi, pemilihan akan dilaksanakan. Suhu persaingan tampaknya makin panas. Sejak beberapa minggu ini, kampanye negatif bagai arus deras yang tak tertahankan.
     Tak jarang, kata-kata kasar dan tak pantas, diungkapkan dengan entengnya. Para pemimpin partai politik, kadang turut pula membuat pernyataan-pernyataan provokatif. Dunia kita seolah terbelah, antara kawan dan lawan. Semua ini tentu mengkhawatirkan. Apakah demokrasi yang susah payah kita bangun ini akan berujung pada konflik antar sesama warga negara Indonesia? Tidak! Kita tidak ingin pilpres ini sia-sia, apalagi menghancurkan bangsa kita. Pilpres bertujuan memilih presiden yang dinilai dapat menyejahterakan rakyat. Kita ingin pilpres ini membuat bangsa kita lebih matang dalam berdemokrasi, bukan sebaliknya.
     Agar tujuan-tujuan mulia tersebut tercapai, kita berharap semua pihak mampu mengendalikan diri, khususnya tokoh-tokoh masyarakat seperti pimpinan partai politik, ulama, pendeta, dan cendekiawan. Dalam pilpres ini, sebagian tokoh itu secara terbuka mendukung calon tertentu. Itu hak mereka. Namun kita berharap, mereka akan tetap arif dan santun, sehingga dapat menyejukkan hati masyarakat.
     Patut diingat, dalam pertarungan politik, para elite selalu mengatasnamakan rakyat, tetapi tak jarang yang menjadi korbanjustru rakyat itu sendiri.   Seperti kata pepatah, ‘dua gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah’. Kadang-kadang, rakyat tertipu oleh permainan elite politik itu. Ketika tampil di media, mereka seolah berkelahi, sementara di belakang, mereka bersekongkol. Telunjuk lurus, kelingking berkait.
      Mengingat kita sudah mengalami demokratisasi kurang lebih 16 tahun, kita berharap rakyat Indonesia semakin cerdas dan kritis menyikapi soal-soal politik, termasuk pilpres kali ini. Kita sudah beberapa kali melaksanakan pilpres, yang dapat berlangsung aman dan damai. Usai pilpres, selama lima tahun, kita juga merasakan bahwa beberapa janji penting capres saat kampanye ternyata tidak terwujud.
       Demikianlah, pilpres bukan masalah hitam-putih, apalagi hidup-mati. Ia hanyalah cara atau jalan yang kita pilih, dalam rangka meraih cita-cita bersama, menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera. Namun, ia bukanlah jalan yang mulus dan sempurna, karena kita yang membuat jalan itu, dan yang kemudian melewatinya, adalah manusia yang tidak sempurna pula. Kita perlu rendah hati.
Selamat mengikuti Pilpres 2014

No comments:

Post a Comment