Saturday, 24 January 2015

JENDELA DUNIA

JENDELA DUNIA

       Usai mengikuti satu workshop tahun kemarin, saya mau meminjam buku dari perpustakaan pusat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Biasanya, prosedurnya adalah, cari koleksi yang diinginkan di katalog online-nya. Setelah dapat, kita bisa langsung pesan dengan memasukkan nomor kartu perpustakaan dan PIN, lalu klik ‘pinjam’. Sekitar satu jam kemudian, buku sudah bisa diambil ke perpustakaan.
       Ketika saya sampai di meja pelayanan dan menyerahkan kartu kepada pustakawan, dia tertawa kecil. “Anda baru datang ya?”
“Kok Anda tahu?” kata saya. “Sekarang, sistemnya sudah berubah. Anda tidak perlu lagi kami layani secara langsung. “ katanya. Ia lantas men-scan kartu saya. Lalu muncullah tulisan di layar: Buku Anda di kotak nomor (sekian). Kotaknya sudah terbuka. Jadi, tinggal diambil. Di berbagai perguruan tinggi, perpustakaan biasanya adalah tempat yang sangat nyaman. Di situ, orang bisa belajar sepuasnya. Bahkan ada meja belajar khusus untuk mahasiswa.
      Komputer umum berjejer, siap digunakan pengunjung. Sejumlah mesin fotokopi tersedia, dan kita harus bisa memfotokopi sendiri. Di luar negerri, jika musim ujian, perpustakaan bisa buka 24 jam. Bagi mereka di luar negeri terutama Eropa, perpustakaan adalah jantung universitas. Karena itu wajar jika gedung perpustakaan luas dan bertingkat-tingkat hingga ke bawah tanah, dan koleksinya jutaan, mencakup buku, jurnal, majalah, koran, manuskrip, microfilm, kaset dan lain-lain.
Semuanya disimpan di tempat yang aman. Kini, banyak dokumen yang sudah didigitalisasi, dan jurnal-jurnal ilmiah, hampir semuanya sudah elektronik.
Bagaimana dengan perpustakaan umum?, saya berkesempatan mengunjungi kampus. Sebagai perpustakaan publik, tidak hanya didukung oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat. Hingga kini, ada masyarakat yang menyumbang uang atau koleksi tertentu ke perpustakaan.
      Sejumlah pekerja di perpustakaan ini ternyata adalah relawan yang tidak digaji. Sebagian mereka adalah orang pensiunan, ibu rumah tangga, atau pekerja paruh waktu. Perpustakaan ini memberikan layanan publik yang beragam. Selain meminjamkan koleksi untuk dibaca, juga ada internet gratis. Perpustakaan juga menyediakan versi digital hukum-hukum di negara, agar bisa diakses masyarakat. Berbagai kegiatan pun dilaksanakan seperti pameran koleksi, temu penulis dan pembaca, dan Kids@Library, yakni program untuk anak-anak seperti mendongeng dan pemutaran film.
      Kalau demikian keadaan beberapa perpustakaan di Eropa, Amerika dan Australia, bagaimana di Asia Tenggara? Ternyata, perpustakaan universitas ini sangat bagus dan canggih, sejajar dengan perpustakaan di berbagai universitas Barat yang maju. perpustakaan ini terus berkembang pesat, dengan fasilitas dan pelayanan prima. Koleksinya sudah mencapai 2 juta lebih, dan dikelola oleh 50 pustakawan profesional.
     Selain buku, jurnal, majalah dan koran, perpustakaan ini memiliki banyak koleksi microfilm manuskrip Islam. Peminjaman dan pengembalian buku bisa dilakukan oleh pengunjung sendiri melalui mesin khusus. Kalau kita kembali ke tanah air, dan melihat perpustakaan-perpustakaan yang ada, memang sebagian sudah ada yang bagus, tetapi kebanyakannya masih ketinggalan.
      Program otomasi dan digitalisasi belum sepenuhnya jalan. Kerjasama antar perpustakaan, baik dalam hal peminjaman ataupun jaringan data digital, juga masih belum lancar. Sementara itu, minat baca masyarakat kita tampaknya masih rendah. Tetapi, ini semua tidak berarti bahwa kita tidak bisa berubah. Jika negara tetangga bisa, kenapa kita tidak?

No comments:

Post a Comment