Friday, 20 July 2018

BERMAKLUMLAH



Dulu-dulu sekali , saya sekeluarga transit di bandara, di tengah perjalanan pulang dari Borneo/Kalimantan Selatan Kotabaru menuju kota budaya. Di bandara yang megah itu, pandangan saya tertumbuk pada dua pemandangan penggoncang iman. pandangan berbeda dengan sambutan SPG belia pajangan hidup nan permata Martapura yang di perebutkan penambang dengan taruhan nyawa yang tidak bercadangan. wahaahaa....modus kata sekarang.
Kalau boleh saya bilang, pemandangan yang pertama mewakili alam pikiran tekstual campur bingung. Karena pandangan ini seakan mengeksplor secara brutal dan kemaruk (aji mumpung) kata-kata Banjarnegaranya, diekspresikan dengan boneka hidup. Yang bikin pajangan itu tentu tak peduli bahwa pemanfaatan tidak lahir di sini, melainkan di negeri jauh sana. Namun itu tetap termaafkan, sebab memang banyak turis Barat yang datang ke sini, meski kemungkinan para turis itu malah tertawa ngakak karena jauh-jauh ke sini cuma untuk dikasih pemandangan yang segar yang sudah mereka miliki hahaha.
Pemandangan kedua merupakan bentuk strategi budaya yang cerdik. Ia barangkali bisa dipahami sebagai glokalisasi, melokalkan yang global, walau si pembikin pajangan hidup saya kira tak peduli juga dengan konsep yang dipopulerkan orang jauh sana itu.
***
Dari dua pemandangan itu saja, kita sudah bisa melihat bahwa budaya dan produk budaya senantiasa bersifat lentur, lincah, meresap dengan mudah, dan melahirkan produk-produk budaya baru yang lain lagi.
Si boneka pajangan itu memang saya sebut sebagai wujud alam pikiran tekstual-bingung. Sebab memang penggunaan boneka pajangan hidup sebagai ikon ini hingga hari ini tidak bisa dibilang sebagai kebiasaan global. Meski demikian, jika hal itu dijalankan terus-menerus dan meluas, bukan mustahil suatu hari kelak di Pantura yang panas pun visualisasi boneka pajangan tersebut menjadi lazim. Kenapa? Sebab memang seperti itulah sifat budaya yang dinamis.
Ikon ini pada awalnya memang ikon budaya. Namun lambat laun dia dikooptasi oleh kapitalisme, menjadi ikon pasar. Maka boneka pajangan hidup yang mengerikan itu lambat laun, waktu demi waktu, bermunculan bukan untuk menghadirkan semangat selamat datang, melainkan semangat berbelanja. Gebyar diskon acara tahunan di pusat-pusat pertokoan pun dijajakan oleh sosok tersebut.
Lihat saja di negeri-negeri sana. Sosok tersebut muncul di mana-mana, demi tujuan pasar, pasar, dan pasar. Di zaman ini tak bisa lagi kita melihat kostum (dan sekali lagi: seksinya!) sebagai alat identifikasi spesifik penganut. Tambah rumit, kan?
***
Saya sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan "makna asalnya". Kenapa? Sebab saya rasa problem yang terjadi pada ketegangan orang banyak atas pajangan seksi bukan pada penerimaan atas dalil-dalil. Melainkan lebih karena orang menolak memahami bahwa budaya bersifat sangat dinamis, dan produk budaya mengandung makna yang akan selalu berubah, mengikuti kesepakatan tiap masyarakat dan tiap zaman.
Budaya dan produk budaya terus berkembang dan berubah, terus bergeser posisinya dalam hubungan antara penanda dan tinanda, terus berkombinasi dan berkawin-mawin dengan produk-produk budaya lainnya, yang bersifat cair, lentur, dan gampang berganti makna mengikuti bahasa setiap zaman. Dengan demikian, cara melihatnya pun mesti lentur dan tidak tegang-tegang amat.
Oleh sebab itu, "makna asal" tidak selalu relevan dibicarakan. Tidak proporsional juga melihat budaya dalam orientasi "mengembalikan kepada akar". Kenapa? Sebab fungsi komunikasi dari sebuah produk budaya pada hari ini ya berjalan dengan konvensi hari ini, bukan dengan konvensi di masa lalu.
Saya ambil contoh pembanding. Permainan sepak bola pada awalnya adalah ritual kaum pagan. Tapi apakah sekarang ketika Anda membela Real Madrid atau Persebaya, maka Anda sedang memuja dewa-dewa?
Andai seorang muslim ikut main sepak bola pada zaman ketika olah raga itu masih menjalankan fungsi sebagai pemujaan dewa pagan, saya sepakat saja dengan ulama yang mengharamkannya. Namun sekarang produk budaya bernama sepak bola tidak lagi menjalankan peran demikian. Ia semata berisi gerak badan, kompetisi prestasi, tawuran, juga judi.
Saya juga sepakat dengan para ulama Nusantara di zaman kolonial Belanda yang mengharamkan celana pantalon dan dasi. Sebab pada masa itu pantalon dan dasi identik dengan penjajah, dan penjajah harus dilawan dengan segenap kekuatan, termasuk kekuatan perlawanan kultural. Namun di zaman ini, pantalon dan dasi tidak lagi menjalankan peran serupa dalam komunikasi budaya, sehingga hanya orang ngelindur saja yang masih mengharamkan dasi.
Denys Lombard menggambarkan bahwa selama masa kolonial, penutup kepala masyarakat Nusantara gagal dibaratkan. Topi Eropa sulit menjadi populer, demikian pula topi bergaya kolonial yang ternyata hanya berhasil populer di Vietnam. Seiring hilangnya kebiasaan memakai kuluk oleh para priayi, juga semakin jarangnya orang memakai blangkon dan destar, muncullah peci atau kopiah beledu hitam.
Kopiah hitam tersebut pada awalnya adalah pakaian kaum muslim Nusantara. Namun kemudian ia diluaskan pemakaiannya oleh Sukarno dan PNI, sehingga menjadi lambang nasionalisme. Jadilah sifat keislaman pada peci hitam lambat laun menghilang. Maka Anda pun tidak merasa perlu membuat demo berjilid-jilid saat seorang pejabat berkopiah hitam tersambar OTT-nya KPK.
Tuh, betapa dinamisnya makna produk-produk budaya, bukan?
***
Saya sekarang sudah pulang ke Banjarnegara sudah kurang lebih 3 tahun, tanah kelahiran saya. Di belakang rumah saya persawahan membentang, para tetangga dan handai taulan yang mayoritas hidup sebagai petani mengolah tanah dengan riang.
Banyak sekali di antara mereka yang memakai caping bambu berbentuk kerucut, dan hati saya terbakar melihat itu semua. Ingin sekali saya memperingatkan mereka dengan keras, agar mereka tidak meniru-niru kaum muslim murtad dan terus-menerus tanpa sadar menjadi korban ghazwul fikr alias perang pemikiran.
Namun menyadari bahwa mereka lebih lebih rajin ke masjid ketimbang saya, dan menyadari bahwa mencangkul tanah atau menyiangi rumput gulma sambil bersorban justru membuat kepala mereka gerah kepanasan, maka saya simpan rasa ingin mendakwahi itu dalam-dalam.  

No comments:

Post a Comment