"Mas, sampean penulis apa bukan , kenapa tulisan sampeyan campur aduk, bisa sosial, ekonomi, malah ada puisi segala ? Apa maksudnya?"
Tak cuma sekali dua kali ada teman bertanya begitu kepada saya. Pertanyaan demikian membuat saya teringat jenis pertanyaan lain yang lebih banyak muncul di Messenger Facebook saya, dari beberapa anak muda. Jenis pertanyaan yang sangat klasik, yaitu, "Mas, bisakah berbagi kiat-kiat menuju kesuksesan?"
Dalam hati saya terkekeh sambil membatin, "Ah, ke mana aja ini anak waktu Pak Mario Teguh masih sering nongol di tivi?" Namun karena nggak enak hati tentu saja saya tidak mengucapkan itu, dan tetap menjawabnya baik-baik.
Saya sendiri tidak yakin apa sebenarnya makna kesuksesan yang dimaksud oleh anak-anak muda tersebut. Apakah kekayaan? Popularitas? Atau apa? Karena tidak jelas dan saya juga malas meminta kejelasan, maka saya akan menggambarkan kesuksesan menurut konsep saya sendiri.
Dalam konsep saya, kunci sukses hanya tiga biji: banyak bergaul, banyak membaca, dan tahan godaan. Tiga hal itu lebih layak disebut, ketimbang rumus basi semacam "Kerja! Kerja! Kerja!"
Banyak bergaul dan banyak membaca adalah landasan pokoknya, dan tidak perlu penjabaran jauh-jauh tentang itu. Keduanya adalah sarana memperkuat referensi-referensi, memperkaya sudut pandang, menggambungkan amunisi, dan mempertajam pemahaman atas banyak hal. Itu sudah. Kita pun bisa menjalankan dan memantau prosesnya secara kasat mata.
Poin ketigalah yang terberat, sebab tak terlalu kasat mata. Tahan godaan. Apa itu tahan godaan? Sebangsa menahan diri dari nafsu duniawi, atau menjauhkan diri dari bisikan setan? Ada sih benarnya.
Anda kira itu soal gampang? Enggak, lah. Apalagi di zaman kekuasaan internet macam sekarang ini. Coba, berapa kali dalam sehari Anda gagal fokus? Berniat mau googling suatu tema yang sangat Anda butuhkan saja belum tentu berhasil kok. Sebab begitu buka HP, melihat ada notifikasi banyak di Whatsapp, jadinya mampir ke situ dulu, dua jam. Setelah itu jadi lupa tadinya mau googling apa.
Itu persis dengan saya. Saya cari info harga barang, membantu jualan di toko punya bapak. Tiap kali ada info yang tidak saya ketahui, saya buka HP untuk memeriksa info tersebut di Google. Tapi apa jadinya? Ya, tangan Facebook melambai-lambai memanggil, memamerkan belasan notifikasi yang belum saya baca. Jadinya saya mampir dulu sampai setengah jam. Begitu sadar diri saya geragapan, langsung tancap gas menggeber, hingga kemudian teringat bahwa info yang tadi mau dicari belum juga dicari.
Itu baru penyakit gagal fokus karena cobaan dunia berupa aneka aplikasi digital. Belum lagi kalau isunya terkait agama, ketika ada peristiwa yang dipadu dengan frasa 'upaya melemahkan umat', 'aksi pembelokan akidah', 'test the water', 'menista ulama', dan sebagainya. Ampun, dah.
Bayangkan saja. Hanya orang-orang tangguh di zaman ini yang mampu menahan diri dari keikutsertaan di setiap riuh rendah isu seperti itu. tak gampang tergoda untuk berbicara apa saja. Pada zaman keemasan medsos, hanya manusia dengan kualitas spiritual tertentu yang tak mudah tergiur untuk bicara apa saja. Apalagi harap diingat, bagi spesies pembaca yang rakus, godaan duniawi terbesar adalah: ingin membaca semuanya, ingin mengetahui semuanya, dan ingin ngomong tentang semuanya.
Maka, kalaulah orang memposting atau nyetatus berita aktual di laman medsosnya pun, perspektifnya selalu tak jauh-jauh dari sudut pandang sebagai pemerhati media. Bukan perspektif genit dan "meramaikan yang sudah ramai" semacam kita-kita.
Tidak, saya tidak merekomendasikan kepada Anda untuk menjadi follower medsos anak muda satu itu. Isinya sangat membosankan. Tapi justru di balik yang garing itu, tersimpan berjilid-jilid epos tentang keteguhan.
Bagi saya, pemuda-pemuda seperti mereka itu layak dikagumi. Mereka bukan cuma tekun dan keras dalam belajar. Mereka juga menjalani lelaku prihatin yang berat, berupa kesetiaan pada pilihan. Padahal, yahh, kita semua tahu, para bijak sudah memberikan nasihat adiluhung ini sejak dulu: "Setia itu menyakitkan."
Sebenarnya, dengan berpikir sebentar saja, para penanya itu sudah akan langsung paham jawabannya. ya siapa pun yang menjalankan aktivitas bermedia sosial. Jadi di hari ini, sebenarnya mayoritas dari kita adalah praktisi media sosial. Dengan kata lain, itu bukan predikat yang istimewa. Nyaris tak ada bedanya dengan predikat "warga negara Indonesia", atau "lelaki baik-baik".
Berakhir dengan ketidakjelasan yang memilukan. Saya tidak ahli dalam satu bidang apa pun. Saya memang senang berteman di mana saja, tapi bukan pembaca yang tekun. Lebih parah lagi, saya jenis lelaki rapuh yang tak tahan godaan, dan sulit menolak keindahan. Tak ada fokus yang saya tekuni mati-matian pada satu bidang pun.
Itulah kenapa, meski pada akhirnya saya lulus dari Pertanian UMY, saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang pertanian apa lagi sastra. Selanjutnya waktu mulai belajar menulis pun, saya menulis apa saja. Apa saja. Begitu semena-mena. Begitu impulsif, sambar kiri sambar kanan. Itulah bentuk paling tragis dari kegagalan dalam melawan godaan.
"Lho berarti sampean sendiri tidak berhasil menjalankan jurus ketiga?"
Lhooo ya memang. Saya memang bukan contoh sukses. Dan tulisan ini memang menempatkan diri saya sendiri sebagai contoh buruk. Jarang-jarang lho ya, ada motivator yang menyajikan dirinya sendiri sebagai contoh buruk. Kalau yang memuji-muji diri sendiri sih banyak.
Makanya, kalau teman-teman mau mengundang saya, sebagai motivator dari jenis yang sangat langka, sudah tentu saya akan pasang tarif sedikit lebih tinggi dari Pak Mario Teguh. Itu.
No comments:
Post a Comment