Friday, 20 July 2018

SIMBOK


Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, sebab Dia telah menitipkan saya ke rahim perempuan yang mewariskan begitu banyak pelajaran. Bersama lima saudara lain, kami memanggilnya Ibu, khusus saya kadang manggil mboke, Sosok keturunan desa yang memutuskan menikah dengan Bapak asal Kota, agar anak-anaknya kelak tumbuh dalam satu arahan, punya satu tujuan.
“Hidup sudah banyak tantangan, tidak perlu ditambah dengan perbedaan dalam satu keluarga.”
Prinsip beliau yang semasa remaja dan menjelang dewasa kemudian saya garis bawahi. Tapi bukan hanya itu yang saya pelajari dari simbok . Perempuan sederhana yang ringan tangan dan siap membantu siapa saja, meski dulu besar dari keluarga TNI yang berada dan terpandang, juga mengajari kami pentingnya belajar. Tidak peduli kerepotan di dapur, beliau tidak akan mengusik anak-anaknya yang dilihatnya sedang bermain. Kehidupan kami dahulu sederhana , namun simbok percaya pendidikan bisa mengangkat masa depan anak-anaknya dari keprihatinan hidup.
“Mba sri dulu tinggal di desa , makan pun susah, sakit-sakitan pula, tetapi kenapa tumbuh percaya diri dan menjadi pribadi yang riang?”
“Dari mana semua sikap positif itu?”
Jawabannya: Simbok .
Bagi saya pertolongan Allah SWT saya kecap lewat banyak hal tapi salah satunya melalui kehadiran Simbok. Lewat perempuan yang terbilang cengeng dan mudah meneteskan air mata setiap melihat kesulitan orang lain, namun luput mengeluh untuk masalahnya sendiri, saya ditempa untuk selalu bersikap positif.
Simbok yang tabah, tidak pernah mengeluh di depan anak-anaknya. Simbok yang mengajak kami hidup prihatin namun di sisi lain memberikan suntikan semangat hingga keenam anaknya memiliki keberanian menggenggam cita-cita.
Dan lebaran dulu semasa simbok masih hidup, saya menyaksikan sebuah pelajaran lain, meski sebenarnya sesuatu yang tidak asing di mata kami dan mereka yang mengenal Simbok. Tekad perempuan berusia hampir enam puluh tahun itu dalam menjaga silaturahim. Kenyataan tubuhnya semakin ringkih setelah terjangkit kanker payudara tidak menyurutkan semangat Simbok .
Tidak hanya beliau masih menjaga hubungan dengan teman dan guru semasa sekolah dasar, juga semua kenalan yang singgah dalam kehidupannya. Simbok mengingat nama mereka, alamat, nama saudara, orang tua, bahkan sepupu, juga mencatat setiap kebaikan yang pernah diterimanya untuk selalu terjalin silaturahmi.
Setelah saya dalami, salah satu yang menggerakkan Simbok rajin bersilaturahim adalah rasa syukur dan terima kasih.
Banyak nama lain yang kemudian benar-benar tertanam di benak kami, saking seringnya diulang Simbok . Belum termasuk deret keluarga besar yang meninggalkan jejak kebaikan.
Silaturahim memperpanjang usia, juga membuahkan rejeki. Amal kebaikan yang diutamakan dalam Islam. Silaturahim mendinginkan hati, pertemuan meredakan kemarahan dan menggerakkan kita untuk lebih mudah memaafkan. Hikmahnya bagi saya dan empat saudara yang tersisa sering mendampingi Simbok terasa di depan mata. Termasuk membukitnya rasa syukur.
Sebagian dari yang kami kunjungi, ada yang sudah tidak bisa lagi ditemui sebab telah berpulang ke hadirat Allah SWT. Ada yang sakit keras, kehilangan pengelihatan, atau tak mampu lagi berjalan, ada yang dulu hidup mapan namun kini berjuang bahkan untuk makan sehari-hari.
“Simbok Sudah bahagia, ada disurga.
“Kita harus lebih banyak bersyukur.” itulah bisikan terakhir
Kami merindukanmu akan siraman rohanimu, semoga kami bisa mewarisi apa yang engkau berikan.

No comments:

Post a Comment