Perayaan Idulfitri 1438 yang berbarengan ini, akan melengkapi kebahagian umat Islam di Indonesia, yang telah melakukan berbagai persiapan bersilaturrahmi. Secara fisik, mereka telah merapikan pagar rumah, bangunan utama rumah, perabot rumah dan sebagainya, agar suasana silaturrahmi makin nyaman.
Untuk menciptakan komunikasi yang baik dan berkualitas serta cukup waktu untuk bersilaturrahmi, sebagian besar juga menyiapkan hidangan yang cukup. Bahkan, sebagian ada yang sengaja menghadirkan makanan yang tidak pernah dibelinya atau bahkan belum pernah sekadar dicicipinya.
Sebagian besar umat Islam di Indonesia juga melengkapi penampilannya dengan pakaian baru dan terbaik. Mereka berharap, penampilan itu membuat lawan komunikasinya makin nyaman dan proses menyambung kasih sayang terlaksana secara baik.
Sebagian di antara mereka yang datang, bahkan harus mengeluarkan ratusan
ribu atau jutaan rupiah untuk membayar ongkos alat transportasi atau
membeli bensin (solar). Itu pun masih ditambah biaya membeli sekotak
oleh-oleh untuk menghiasi jok belakang sepeda motornya, atau parsel yang
ditaruh di bagasi mobil, atau sebungkus oleh-oleh yang dipangku saat
naik angkutan umum.
Wal hasil, bukan uang receh yang dihabiskan puluhan juta orang yang bergerak dari satu tempat tempat ke tempat lain untuk menjalin kekerabatan, dan puluhan juta yang menunggu para tamu di rumah. Ada yang menyebut, uang yang berputar untuk hajat lebaran ini tak kurang dari Rp 100 triliun.
Melihat potensi uang berputar yang luar biasa ini, banyak pihak kemudian menggagas agar uang itu tidak habis untuk konsumsi, tapi bisa menjadi modal kegiatan usaha di tempat-tempat silaturrahmi.
Gagasan itu tentu saja baik. Tapi, biaya untuk silaturrahmi, bukanlah belanja mubazir yang tanpa makna secara sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Terciptanya kekerabatan, saling pengertian, harmoni, saling memaaafkan, tidak curiga, nilainya jauh lebih besar ketimbang Rp 100 triliun.
Tidak perlu ada upaya mengotak-atik logika silaturrahmi menjadi sangat ekonomi apalagi sangat politik. Biarkan silaturrahmi dengan logikanya sendiri, meski harus menghasbiskan banyak uang.
Karena dengan begitu kita akan secara iklhas, jujur dan tanpa basa-basi bisa mengucapkan; Selamat Idul Fitri 1434 H. Sambil berdoa; Taqabbala Allahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakam, ja’alana Allahu wa iyyakum min alaidin wa alfaizin, kullu ‘amin wa antum bi khairin.
Dan di kemudian hari bisa memetik hasil ekonomi, sosial, budaya dan politik dari silaturahmi dan doa-doa tulus yang telah kita ucapkan.
Wal hasil, bukan uang receh yang dihabiskan puluhan juta orang yang bergerak dari satu tempat tempat ke tempat lain untuk menjalin kekerabatan, dan puluhan juta yang menunggu para tamu di rumah. Ada yang menyebut, uang yang berputar untuk hajat lebaran ini tak kurang dari Rp 100 triliun.
Melihat potensi uang berputar yang luar biasa ini, banyak pihak kemudian menggagas agar uang itu tidak habis untuk konsumsi, tapi bisa menjadi modal kegiatan usaha di tempat-tempat silaturrahmi.
Gagasan itu tentu saja baik. Tapi, biaya untuk silaturrahmi, bukanlah belanja mubazir yang tanpa makna secara sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Terciptanya kekerabatan, saling pengertian, harmoni, saling memaaafkan, tidak curiga, nilainya jauh lebih besar ketimbang Rp 100 triliun.
Tidak perlu ada upaya mengotak-atik logika silaturrahmi menjadi sangat ekonomi apalagi sangat politik. Biarkan silaturrahmi dengan logikanya sendiri, meski harus menghasbiskan banyak uang.
Karena dengan begitu kita akan secara iklhas, jujur dan tanpa basa-basi bisa mengucapkan; Selamat Idul Fitri 1434 H. Sambil berdoa; Taqabbala Allahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakam, ja’alana Allahu wa iyyakum min alaidin wa alfaizin, kullu ‘amin wa antum bi khairin.
Dan di kemudian hari bisa memetik hasil ekonomi, sosial, budaya dan politik dari silaturahmi dan doa-doa tulus yang telah kita ucapkan.
No comments:
Post a Comment