Saya bukannya sedang mengatakan bahwa kemajuan-kemajuan di negara-negara modern itu palsu belaka. Tentu bukan begitu maksud saya. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, namun dalam mengambilnya pun kita mesti menyetel daya kritis tertentu.
Contohnya kembali ke soal lalu lintas saja. Mungkin ada yang protes dengan perbandingan Australia. "Lho, nggak usah Australia, Kejauhan. Lihat saja Singapura. Di sana juga sangat padat. Tapi toh semua tertib. Atau di Tokyo. Itu tukang kritik mah alasan saja pakai soal-soal struktural. Mental pelanggar ya pelanggar aja, nggak usah cari-cari pembenaran."
Iya, iya. Singapura memang hebat. Tapi coba simak. Kepadatannya 8.264 per km persegi, masih jauh di bawah Jakarta. Belum lagi wilayah Singapura seberapa luas sih? Cuma 719 km persegi, dengan penduduk 5 jutaan jiwa, cuma separuhnya populasi Jakarta. Negara dengan wilayah sekecil itu, dengan jumlah penduduk cuma seupil gitu, buat jadi hebat harus dipimpin dengan cara semi-diktator oleh Lee Kuan Yew.
Dan Paman Lee berkuasa sangat lama, jauh lebih lama ketimbang Pak Harto. Lihat, ini CV-nya: Perdana Menteri Pra-Kemerdekaan (1959-1965), Perdana Menteri Pasca-Kemerdekaan (1965-1990), Menteri Senior (1990-2004), dan Mentor Menteri (2004-2011). Sampeyan kira di posisi selepas Perdana Menteri itu dia nggak berkuasa secara de facto, gitu? Hahaha.
Lalu tentang Tokyo. Tingkat kepadatan kota itu 6.158 orang per km persegi. Tetap tidak ada apa-apanya dibanding Jakarta. Meski demikian, tidak dimungkiri bahwa kesadaran masyarakat Jepang memang sangat tinggi. Untuk tertib menggunakan jalanan, untuk menjaga kebersihan, bahkan untuk sekadar memakai masker ketika batuk di tengah keramaian (bisa diomeli banyak orang karena cuma menutup pakai tangan saat terbatuk-batuk di dalam kereta Osaka-Kyoto).
Pertanyaannya, dari mana kesadaran itu tumbuh? Saya percaya, untuk Jepang, ada peran tradisi ratusan tahun yang membentuk karakter mereka. Entah feodalisme, ketaatan kepada negara atau "junjungan", semangat bushido, samurai, ninja, geisha, doraemon, atau apalah. Ini perkara titik start historis yang berbeda dengan kita, sehingga tidak bisa serta-merta dipaksakan secara instan ke dalam masyarakat Nusantara.
Bandingkan juga dengan ketertiban ala Australia. Sependek pengetahuan saya, budaya tertib di sini jauh lebih ketat dibanding Inggris, negeri asal populasi utama orang kulit putih Australia. Kenapa?
Saya mendapatkan jawabannya dari sebuah literatur lupa tulisanya. Ia menjelaskan, Australia Modern pasca-pendudukan kulit putih baru dimulai 230 tahun lalu, dengan gelombang pertama para narapidana. Karakter masyarakat awal seperti itu terbiasa dengan segunung peraturan untuk para tahanan, segepok larangan ini-itu yang jika ditabrak akan berkonsekuensi mematikan. Hasilnya, sikap mental penggila ketertiban seperti itulah yang tertanam dan membentuk fondasi sosio-psikologis mula-mula masyarakat Australia.
Lalu apa yang bisa kita ambil dari segala contoh di atas tadi?
Begini. Apa yang tampak di depan kita dari negara-negara maju itu memiliki latar masing-masing. Semua itu tidak bisa serta merta diadopsi produk hilirnya saja, sambil melupakan proses hulunya. Sementara, banyak proses hulu mereka yang kita tidak mungkin punya, misalnya faktor kesejarahan. Karena itulah fenomena kemajuan negara lain mesti dicermati dengan lensa yang lebih tajam, cara pandang yang lebih kritis, sehingga dapat ditemukan poin-poin yang dapat diaplikasikan secara kontekstual untuk membenahi Indonesia.
Segala sikap kritis itu tidak mungkin diraih jika para mahasiswa Indonesia yang belajar di negara-negara hebat itu hanya berhenti di level kekaguman. Kalau sekadar terpukau atas segala kedahsyatan sebagaimana yang tampak hari ini, ujung-ujungnya saat pulang mereka cuma jadi tukang mencibir tetangga sendiri.
Padahal, kalau cuma mengikuti naluri untuk gampang melongo dan ternganga-nganga, yang bukan orang sekolahan macam kita-kita mah juga bisa….
No comments:
Post a Comment