Ya sudahlah bisa diartikan menyerah bisa juga menerima keadaaan alias ikhlas. Badan saya lelah sekali. Beberapa hari terakhir saya habiskan bersama Temen alumni untuk menjelajahi sisi yang kosong, rindu tertunda dengan kemasan Reuni, Selama itu pula saya nyaris tidak membuka Facebook, WhatsApp, ataupun membaca berita dari media-media online. Ya sudahlah.
Begitu selesai Reuni menjelang tengah malam, saya iseng sebentar membuka HP, dan mendapati dunia sudah sangat berubah. Panas sekali. Ya, apa lagi kalau bukan karena Pilkada DKI? Hahaha.
Dalam beberapa hal, kadang saya sendiri turut meramaikan obrolan tentang Pilkada terheboh sepanjang sejarah umat manusia itu. Namun di hari H-1 coblosan, rasanya tak sopan kalau latah ikut memanaskan apa-apa yang sudah terlalu kepanasan. Akan lebih menyenangkan Mungkin juga menyebalkan jika saya membagi cerita enteng-entengan.
Ada beberapa hal yang tidak terlalu saya sukai dari kegiatan yang sudah sesuai timeschedule tapi selalu ditunda-tunda bahkan dalam acara masih dipusingkan masih persiapan yang belum juga selesai, notabene yang seharusnya sudah selesai dan menikmati kegiatan tersebut. yang bikin saya setres dan jatuh sakit. Karena saya sudah terbiasa kerja tim dalam kegiatan sesuai target yang sudah kita sepakati. Namun selain sisi-sisi yang tak terlalu menyenangkan kita paham sekarang , ada banyak hal yang baik dan lucu, menjadikan saya harus pasrah dan ikhlas.
Salah satunya adalah tentang "Ya sudahlaah". Itu sebutan dari saya sendiri.
Di bulan ini baru ikut bersibuk ria disini dengan kegiatan ini langsung, biasanya hanya denger ceritanya saja, setelah saya mendarat di banjarnegara saya langsung menjumpai fenomena itu. Saat itu saya masih menjalani hari-hari sebagai tukang pengamat.
Sebenarnya masalah akan selesai kalau saya anggota X-Men dan bisa menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan . Namun karena saya bukan X-Men, lagipula membicarakan tokoh komik Marvel di hari-hari ini bisa membawa konsekuensi sosial tertentu, maka saya mengurungkan niat untuk menembus gerbang.
Saya tak punya pilihan.
Jelas takut, karena sebelumnya nyaris saya stres dengan keadaaan yang diluar kebiasaan saya.
Kemudian segera berfokus untuk mencari jalan keluar. Tak terdengar omelan marah secuil pun. Padahal pasti bakalan lebih 'normal' kalau kita bilang dulu, "Lha kok bisa?? Gimana sih?? Ati-ati dong! Ini jam berapa ini, kamu jangan bikin kacau gini...!" Namun omelan wajar seperti itu tidak ada sama sekali. Karena disini hanyalah kegiatan yang sifatnya sosial dan tidak mengikat dan yang utama bukan bidang bisnis dan tidak ada tingkat majikan dengan bawahan jadi saya harus bilang Ya sudahlah.
Dalam kebiasaan kita saat menghadapi persoalan, kalimat "Yang sudah ya sudah" memang kadang muncul. Tapi itu diucapkan setelah sebelumnya kita ribut dulu, untuk kemudian ada yang mendinginkan suasana dengan "Sudah, sudah. Yang sudah ya sudah."
Orang sangat memuja ketertiban dan keselamatan. Ketika peraturan dilanggar, mereka murka dengan gaya yang seringkali terlalu lebay untuk ukuran masyarakat Indonesia. Yang paling sering saya jumpai (dan kebanyakan saya sendiri pelakunya), adalah ketika peraturan lalu-lintas dilanggar. Misalnya saat kita berjalan terlalu pelan di lajur kanan, padahal lajur tersebut semestinya digunakan untuk menyalip.
Kadang tak cukup mereka mengingatkan dengan berkata, "Mas, pindah kiri, Mas...." atau semacamnya. Sangat sering mereka menoleh dengan pasang tampang penuh amarah, bahkan bukan sekali-dua kali saya dikirimi salam jari tengah cuma agar saya geser pindah ke kiri.
Itu baru tentang berjalan terlalu pelan di jalur cepat. Yang lebih parah lagi adalah ketika kita memotong jalan agak mepet ke kendaraan di belakang. Saya tahu cara begitu memang membuat kendaraan di belakang kita jadi terpaksa mengerem. Namun meski mengeremnya tidak harus mendadak pun, mereka akan menyalip, mengirim jari tengah, sambil kadang berteriak "Stupid driver!" Tak jarang, dibonusi pula dengan "F**k you!"
Hahaha. Lebay kan?
Hebatnya, sikap berlebihan semacam itu justru sangat jarang terlihat manakala kecelakaan sudah terjadi. Jika potensi kecelakaan dimunculkan, yaitu dengan pelanggaran-pelanggaran peraturan, mereka memang akan sangat marah. Namun begitu kecelakaan terjadi, mereka akan berhenti, saling memastikan bahwa semua selamat, tapi tak ada suara mencak-mencak. Segala urusan mereka serahkan ke pihak asuransi, untuk membereskan perbaikan kendaraan.
Saya mencoba mempraktekkan pada suatu kejadian, Si ABG yang menabrak saya mendekat meminta maaf. Segera, dengan wajah bijak penuh keteduhan saya pun menjawabnya, "Ya sudahlah . YA sudahlah ...."
Saya tahu, saya akan segera pusing melihat kendaraan saya yang penyok. Namun ketika saya bisa mengucapkan "Ya sudahlah" dengan sepenuh penghayatan, saya merasa... ehem, bahagia. Hidup tiba-tiba terasa enak, tenang, dan bumi yang kadang-kadang datar ini pun jadi terasa sangat lapang.
Begitulah. Mungkin cerita ini tidak ada penting-pentingnya buat Anda. Tapi cobalah besok sore dipraktikkan bersama-sama.
Buat Anda yang jagoannya kalah di Pilkada DKI, yang kemarin ricuh habis-habisan selama berbulan-bulan, jurus Ya sudahlah ini layak diterapkan. Kemarin-kemarin berantemnya sudah begitu mengerikan, bukan? Jauh lebih dahsyat dibanding Pilpres 2014. Nah, rasanya itu cukup. Setelah nanti keluar siapa pemenang Pilkada-nya, percayalah, tak ada gunanya jika keributan terus menerus dilestarikan.
Untuk itu, mari bersama saya melatih mantera ini. Barangkali dengan begini, kita bisa meniru bagaimana masyarakat kita menjaga kohesi sosialnya. Sekarang ucapkan 70 kali, agar besok kita bisa lebih kuat menata hati: "Ya sudahlah.Ya sudahlah.Ya sudahlah...."
No comments:
Post a Comment