Orang waras tidak akan asal melawan, asal bicara, atau asal gebuk. Orang waras tidak akan secara reaktif menyerukan pro‐ini atau anti‐itu. Kalau toh akhirnya ia bersuara pro‐ini atau anti‐itu, suaranya tak terdengar hampa dan membabi buta, sebab dijiwai oleh pemahaman yang memadai.
Orang waras adalah dia yang memenuhi syarat pengetahuan minimum yang diperlukan untuk mengambil pendirian pro‐ini atau anti-itu. Orang waras bukan sekadar tukang gebuk. Kalau toh akhirnya ia menggebuk, ia akan melakukannya dengan rapi dan efektif, bukan membabi buta.
Itulah mengapa, mereka yang (mengaku) waras perlu mempelajari
seluk‐beluk ketidakwarasan, bukan sekadar mengutuknya secara membabi
buta. Kalau dilakukan secara membabi buta, gerakan‐gerakan tandingan
berisiko tergelincir dalam jurang ketidakwarasan yang sama: sebagaimana
mereka yang (dituduh) tidak waras mengutuk kita sebagai berhala,
demikian pula mereka yang (merasa) waras mengutuk kita sebagai tidak
waras.
Yang diperlukan bukan sekadar mengutuk atau menggebuk, melainkan juga mengetahui seluk‐beluk mereka. Bagaimana mungkin melawan mereka tanpa sedikit pun bekal pengetahuan tentang apa persisnya mereka.
Dengan mempelajari seluk‐beluknya, cara menghadapi mereka pun menjadi semakin komprehensif: bukan sekadar reaksi penanganan setelah aksi terjadi, melainkan juga pencegahan.
Sebaliknya, sikap asal melawan, tanpa sedikit pun upaya mempelajari apa yang dilawan, tak akan menumbuhkan kewarasan, melainkan justru menyulut perpecahan. Akibatnya, persatuan yang marak diserukan oleh kaum (yang mengaku) waras justru menjelma menjadi kekerasan.
Maka semboyan "sing waras ngalah" sejatinya tetap berlaku. Hanya saja, kali ini, mengalah bukan berarti sikap lembek atau tak berani melawan, melainkan kehendak untuk sedikit rendah hati mempelajari seluk‐beluk ketidakwarasan.
Pada titik ini terpaksa digunakan bahasa pemisah 'kita' dan 'mereka.' Kalau mereka sulit diharapkan mempelajari bahasa kita, kitalah yang sebaiknya mengalah mempelajari bahasa mereka. Tentu bukan untuk ikut meyakininya, melainkan meningkatkan kepekaan dan kewaspadaan, kalau-kalau ada orang terdekat mulai terpengaruh oleh mereka.
Pengetahuan secukupnya tentang paham-paham itu juga memampukan kita menggiringnya, dengan efektif dan bukan justru kontra‐produktif, ke arah yang semakin waras: masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita.
Tentu, ketika mereka mengancam di depan mata, menggebuk adalah jalan terbaik. Namun, dalam konteks lebih luas dan jangka waktu lebih panjang, menggebuk saja masih jauh dari cukup. Itulah mengapa, "sing waras prayogane tetep ngalah" —yang waras sebaiknya tetap mengalah
Yang diperlukan bukan sekadar mengutuk atau menggebuk, melainkan juga mengetahui seluk‐beluk mereka. Bagaimana mungkin melawan mereka tanpa sedikit pun bekal pengetahuan tentang apa persisnya mereka.
Dengan mempelajari seluk‐beluknya, cara menghadapi mereka pun menjadi semakin komprehensif: bukan sekadar reaksi penanganan setelah aksi terjadi, melainkan juga pencegahan.
Sebaliknya, sikap asal melawan, tanpa sedikit pun upaya mempelajari apa yang dilawan, tak akan menumbuhkan kewarasan, melainkan justru menyulut perpecahan. Akibatnya, persatuan yang marak diserukan oleh kaum (yang mengaku) waras justru menjelma menjadi kekerasan.
Maka semboyan "sing waras ngalah" sejatinya tetap berlaku. Hanya saja, kali ini, mengalah bukan berarti sikap lembek atau tak berani melawan, melainkan kehendak untuk sedikit rendah hati mempelajari seluk‐beluk ketidakwarasan.
Pada titik ini terpaksa digunakan bahasa pemisah 'kita' dan 'mereka.' Kalau mereka sulit diharapkan mempelajari bahasa kita, kitalah yang sebaiknya mengalah mempelajari bahasa mereka. Tentu bukan untuk ikut meyakininya, melainkan meningkatkan kepekaan dan kewaspadaan, kalau-kalau ada orang terdekat mulai terpengaruh oleh mereka.
Pengetahuan secukupnya tentang paham-paham itu juga memampukan kita menggiringnya, dengan efektif dan bukan justru kontra‐produktif, ke arah yang semakin waras: masuk melalui pintu mereka, keluar melalui pintu kita.
Tentu, ketika mereka mengancam di depan mata, menggebuk adalah jalan terbaik. Namun, dalam konteks lebih luas dan jangka waktu lebih panjang, menggebuk saja masih jauh dari cukup. Itulah mengapa, "sing waras prayogane tetep ngalah" —yang waras sebaiknya tetap mengalah
No comments:
Post a Comment