Di era tsunami informasi saat ini, setiap orang bisa saja menjadi manusia bodoh kuadrat. Dia merasa sudah benar-benar tahu, meskipun informasi yang diperolehnya ternyata palsu. Dia termakan kabar bohong.
Tak salah lagi, berita palsu yang disebut hoax tampaknya semakin merajalela di media sosial ketika terjadi pertarungan politik. Dalam sebuah pertarungan, masing-masing pihak tentu ingin menang.
Tak jarang, mereka pun menghalalkan segala cara, termasuk menyebar berita bohong. Selain itu, konon ada juga orang tertentu yang membuat berita provokatif agar mendapatkan duit dari klik pembaca.
Karena itu, mengikuti saran Jujun, dalam dunia yang dihujani informasi
nyaris tanpa henti ini, pertama, orang harus memilih apa saja informasi
yang layak dan berharga untuk diketahuinya.
Kedua, dia juga harus menimbang kebenaran dan keakuratan informasi tersebut. Apakah sumbernya terpercaya? Apakah ada bukti-bukti nyata yang cukup meyakinkan? Apakah dapat diterima akal sehat?
Sayangnya, sebagai manusia, kita sering tergoda untuk percaya pada sesuatu yang kita sukai, sehingga kita mudah saja menerima satu berita tanpa pertimbangan matang.
Inilah yang dalam terminologi Tasawuf disebut ghurûr, yakni tertipu karena anggapan diri sendiri yang salah. Sesuatu sudah kita anggap benar semata-mata karena sejalan dengan harapan atau prasangka-prasangka kita.
Selain itu, tiap manusia memiliki kecenderungan tidak sabaran. Parahnya, teknologi informasi dewasa ini justru makin memicu manusia untuk adu cepat.
Jika dulu wartawan diberi tenggat waktu, sekarang tenggat itu nyaris hilang, bukan saja karena bisa dilakukan siaran langsung, tetapi juga berita bisa dikirim secepat kilat secara online. Akibatnya, pengecekan ulang (verifikasi) dan kedalaman bisa terabaikan.
Kedua, dia juga harus menimbang kebenaran dan keakuratan informasi tersebut. Apakah sumbernya terpercaya? Apakah ada bukti-bukti nyata yang cukup meyakinkan? Apakah dapat diterima akal sehat?
Sayangnya, sebagai manusia, kita sering tergoda untuk percaya pada sesuatu yang kita sukai, sehingga kita mudah saja menerima satu berita tanpa pertimbangan matang.
Inilah yang dalam terminologi Tasawuf disebut ghurûr, yakni tertipu karena anggapan diri sendiri yang salah. Sesuatu sudah kita anggap benar semata-mata karena sejalan dengan harapan atau prasangka-prasangka kita.
Selain itu, tiap manusia memiliki kecenderungan tidak sabaran. Parahnya, teknologi informasi dewasa ini justru makin memicu manusia untuk adu cepat.
Jika dulu wartawan diberi tenggat waktu, sekarang tenggat itu nyaris hilang, bukan saja karena bisa dilakukan siaran langsung, tetapi juga berita bisa dikirim secepat kilat secara online. Akibatnya, pengecekan ulang (verifikasi) dan kedalaman bisa terabaikan.
No comments:
Post a Comment